Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 9/9C, turun di Cawang Sentral. Transit 10, turun di Simpang Cawang. Transit 7P, turun di Mall Cipinang Indah 1 (rute ini walau beberapa kali transit, tapi ga ada pindah halte jadi walking distancenya minimal. PP pun jalurnya sama. Dan walaupun dia ada nyebrang jalan biasa yang bukan pakai JPO, satpam mallnya baik mau bantu nyebrangkan :"
Harga saat weekend : 35k
Walking distance-nya di dalam mall lumayaaan. Aku ga tau ya kalau ada akses lift karna kemarin aku full eskalator. Walau mall ini dominannya masih kosong, tapi isinya tuh lengkap. Cuma kurang supermarket aja imho.
2. Mangga Dua Square Cinepolis (Lt. 3)
Akses transum dari KRL Cawang : Ambil jalur Jakarta Kota, turun di Jakarta Kota. Jalan kaki dikit ke Halte Kota buat naik TJ 12/12B, turun di Gunung Sahari. Haltenya persis di depan mall.
Harga saat weekend : 30k
Lengser lah sudah Hollywood di tahta bioskop termurah di Jakarta karna akhirnya aku tau ada bioskop ini! Meski jaraknya jauh, tapi lokasinya ramah transum, walking distance minimal. Pilihan makanan di luar mall banyak, sedangkan mallnya sendiri sepi sih jujur huhu. Yang rame paling di lantai dasar aja, sedangkan bioskop ada di lantai 3. Thank God, ada akses lift untuk ke bioskopnya.
3. Grand Indonesia CGV (Lt. 8, West Mall)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 9/9A/9C, turun di Pancoran/Simpang Kuningan. Transit naik 9D, turun di Tosari. Jalan kaki agak lumayan ke mallnya, sekitar 500m ada kali ya.
Harga saat weekend : 76k
Walking distance di mallnya ribettt. GI ini ada dua gedung yaitu gedung East dan West. Nah CGV ada di gedung West, jadi pokoknya jangan salah masuk aja. Untuk naik turunnya ada akses lift. Harganya lumayan, memang sepadan sama mallnya yang lengkap banget dengan berbagai jenis tenant jadi bisa sambil ngapa-ngapain banget pokoknya kalau di sini. Ada beberapa studio spesial di CGV GI yang jadi wishlistku yaitu Screen X, Starium dan 4DX.
4. FX Sudirman CGV (Lt. 7)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 9C, turun di Senayan Bank DKI. Haltenya di seberang mall.
Harga saat weekend : 56k
Akses transum dan walking distance sangat okeeee. Mall lengkap dengan berbagai tenant. Ada lift tapi naik eskalator pun masih oke karna mall ini menurutku ga lebar jadi ga perlu banyak jalan lah dari ujung ke ujung. Mushollanya juga oke.
5. Plaza Senayan XXI (Lt. 5)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 9C, turun di Bundaran Senayan. Jalan kaki motong lewat samping Bank Panin sekitar 400-500m lah.
Harga saat weekend : 75k
XXI dengan hospitality terbaik di Jakarta! Bisa dibilang karna ini harganya masuk yang termahal ya buat XXI (tapi bukan termahal yang pernah aku coba, karna CGV Grand Indonesia lebih mahal 1000 rupiah wkwk). Tapi hospitality XXI lebih juara loh. Mulai dari satpamnya yang ga ngecek tas, padahal aku dah siap mau bukain. Trus mba2 penjual tiketnya jelasin detil filmnya. Pas lewat Premiere, digreeting sama penjaganya. Bahkan cleaning service di WC juga standby buat bersihin dan ngaturin flow antrian. Mallnya sendiri rame dengan berbagai macam tenant terutama makanan, dan walau ini mall mevvah tapi pilihan makanan buat rakyat jelita juga tersedia terutama di food courtnya. Keramaiannya ini yang bikin walking distance walau jauh tapi ga berasa karna seru aja liatin tenantnya.
6. Ciplaz Klender XXI (Lt. 4)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 4K, turun di Flyover Jatinegara. Transit 11 atau 11M, turun di Klender. Haltenya persis di depan mall.
Harga saat weekend : 30k
Ga lebih murah dari Mangga Dua, tapi tetap lebih murah dari Hollywood. Jaraknya juga ga sejauh Mangga Dua, tapi kalah dekat dari Hollywood. Kelebihannya, mallnya sangat transum friendly, halte TJ persis di depan mall. Kalau dari Cikoko juga ga perlu ganti-ganti mode transportasi, jadi lebih hemat 6.000 dibanding ke Mangga Dua yang harus naik KRL + TJ hehe. Mallnya sendiri kicik tapi fungsional lah, karna ada supermarket dan pilihan makanannya juga beragam. Mau makan di luar mall juga banyak pilihannya. Walau mall kicik, tapi walking distance lumayan karna bioskopnya ada di lantai 4 dan setau aku ga ada akses lift. Bioskopnya sendiri ya standar XXI lah ya, nothing special.
7. Mall Kelapa Gading 3 XXI (Lt. 3)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 4K, turun di Jakarta International Velodrome. Lanjut naik LRT Jakarta, turun di Boulevard Utara Summarecon Mall. Dari situ tinggal jalan kaki di JPO yang terhubung ke kompleks mallnya tepatnya di area Gafoy. Belok kiri untuk ke arah MKG 3.
Harga saat weekend : 90k (IMAX)
The biggest screen for IMAX in Jakarta! Total seat sekitar 500an kursi, jadi pengalaman nontonnya grande banget. Selain itu ada studio Premiere dan studio biasa juga yang totalnya 10 studio lebih. Pilihan makanannya buanyakkk, dari yang mewah sampai yang B aja di foodcourt. Terus pilihan sightseeing juga melimpah karna area Summarecon Mall ini ga hanya terdiri dari MKG, tapi juga Gafoy dan La Piazza. Sama satu yang aku suka lagi dari komplek ini adalah banyak area umum untuk duduk-duduk. Pokoknya ini bakal jadi top of mind aku kalau one day pengen nonton IMAX lagi, selain di Agora yang lebih dekat tentu saja.
8. Central Park CGV (Level 8/P13)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 9/9A, turun di Tanjung Duren. Haltenya persis di depan mall, ada JPO juga yang punya akses langsung ke halaman mall.
Harga saat weekend : 72k
Salah satu cinema di Jakarta yang lumayan pricey juga selain Grand Indonesia dan Kota Kasablanka. Kesamaan ketiganya menurutku adalah berada di mall yang established dan lively jadi sekalian nonton sekalian puas sightseeing or even shopping. Tapi kalau aku pribadi sih ga dulu karna walking distancenya jauhhhhh, bahkan walaupun ada lift ya. Mallnya lebar, kompleks bioskopnya juga gede banget include special studio seperti Screen X dan 4DX.
9. Kuningan City XXI (Lt. 3)
Akses transum dari KRL Cawang : Naik KRL, turun di Stasiun Tebet. Lanjut naik Mikrotrans Jaklinko 48A, turun di halte Sbr. Manhattan Hotel. Tinggal nyebrang di zebra cross dan ada traffic lightnya :D Pulangnya aku biasa naik 6D/Jaklinko 48A dari halte Kuningan 18 (persis di depan mallnya), turun di Stasiun Tebet. Dari Stasiun Tebet ke Cawang naik KRL lagi.
Harga saat weekend : 40k
Aku suka mall ini karna relatively kecil, jadi walking distance masih oke. Mushollanya bagus dan tenant makanan beragam. Trus mall ini juga jadi warehouse beberapa brand jadi sering banget ketemu diskonan huhu, seru buat window shopping. Kekurangannya ya tentu aja akses transum yang agak kureng ya, padahal secara jarak mall ini termasuk yang paling dekat dari domisiliku hehe.
10. Kalibata XXI (Lt. 3)
Akses transum dari KRL Cawang : Naik KRL, turun di Duren Kalibata. Jalan kaki kurang dari 500 m. Harus nyebrang lewat zebra cross.
Harga saat weekend : 50k
Salah satu mall kecintaanku karna ada Hari Hari, pilihan makannya lumayan beragam dan ada Factory Outlet juga. Walking distance-nya juga oke di dalam mall, walau ga ada akses lift. Sayang untuk bioskopnya sendiri pengalamannya kureng karna setting duduknya menurutku awkward (pintu masuknya di tengah, padahal aku suka nonton tuh duduknya di tengah).
11. Mall Koja XXI (Lt. 2)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 9/9C, turun di Cawang Sentral. Naik 10, turun di Koja. Dari situ aku prefer lanjut naik ojek ke Koja Trade Mall, walaupun sebenarnya bisa juga naik Jaklinko.
Harga saat weekend : 45k
Impressi pertama adalah mallnya panasss wkwk. Ini semi pasar ya, jadi yang aku suka hampir semua tenantnya real UMKM, thus lebih happy deh aku belanjanya. Walking distancenya so so, dibilang kecil ga juga sih, mana ga ada akses lift. Tapi ya, secara umum mallnya juga ga besar kok. Studionya sendiri standar XXI.
12. Pacific Place CGV (Lt. 6)
Akses transum dari Halte Cikoko : Naik 9C, turun di Senayan Bank Jakarta. Dari situ masih harus jalan kaki sekitar 1 KM karna mall ini ada di dalam area SCBD yang tidak ada transumnya ituuu.
Harga saat weekend : 81k
Karna akses transum kurang dan harganya yang mahal, ga pernah kepikiran buat nonton di sini. Eh, tapi karna mau nonton film konser (yang harganya sama rata di bioskop mana aja), dan di sini relatively paling dekat kantor jadilah nyobain. So far, ini bioskop termahal yang pernah aku datangin, wajar sih karna mallnya mevvah abis. Setipe sama Plaza Senayan, mall ini relatively kecil jadi walking distance minimal. Ada akses lift yang bahkan ada petugas untuk bantu pencetin liftnya dan di tiap lantai tujuan bikin announcement (berasa naik Kereta :") Walau tenant makanan banyak, tapi aku mau rekomen buat makan di Cafe Cinepolisnya karna secara harga masih bersaing, dan rasanya juga enak (kemarin aku makan Pastanya enak sih).
***
Bjir, ga nyangka berselang 1 tahunan udah lanjut part 2 (part 1 bisa di baca di sini). Tentunya akan ada part 3 karna masih banyak wishlist aku yang belum kesampaian :P
Jadi tadi malam aku nonton Laut Bercerita. Film Laut
Bercerita adalah film panjang yang diadaptasi dari novel best seller berjudul
sama karya Leila S. Chudori. Film dengan genre fiksi sejarah ini menceritakan
perjalanan hidup karakter utama bernama Biru Laut, mulai dari awal mula
keterlibatannya sebagai aktivis saat masih menjadi Mahasiswa, hingga
detik-detik saat perjuangannya menegakkan demokrasi mencapai titik nadir di
tahun 1998.
Sebagai self-proclaimed book lover, tentu aku sudah membaca
buku fenomenal itu. Sudah cukup lama bahkan, dan aku pun udah lupa sebagian besar isinya. Yang aku ingat betul, buku ini satu dari sedikit buku yang bisa membuat aku menangis, dan itu
udah cukup buat aku menandai bahwa buku ini spesial dan bagus. Meski di kemudian hari aku mendapati banyak sekali fakta sejarah yang menyanggah kualitas ataupun mempertanyakan intensi dari buku ini, aku tidak bisa menampik bahwa saat membaca, hati aku dibuat tersentuh dan muncul empati untuk setiap karakternya. Sampai sekarang, aku pun tetap yakin kalau membaca
buku ini bisa menjadi salah satu gerbang pembuka buat siapa saja yang mau
diingatkan kembali tentang sejarah Indonesia. Gerbang pembuka ya, bukan satu fakta
bulat yang bisa ditelan mentah-mentah, toh karena ini kan fiksi juga :)
Aku nonton berdua dengan seorang teman yang bukan pembaca
bukunya. Seorang teman yang beberapa kali pandangan politiknya berseberangan
dengan aku. Kenapa masih temenan? Karena aku merasa both of us don't have ill
intention, emang beda cara approach aja buat menjaga Indonesia. Beda sama orang
yang udah tau program Presiden jelek (sampai ada yang meninggal!), tapi tetap dukung
karena punya kepentingan pribadi di situ. Nah, sama orang-orang itu aku ga mau
temenan. Anyway, pada malam itu, bahkan saat filmnya belum selesai, kita curi-curi
waktu untuk bisik-bisik diskusi. Betapa yang disajikan di layar sangat
menyesakkan (shoutout untuk efek sound design di satu adegan di rumah susun!),
betapa beberapa hal terasa sangat dekat dengan keadaan saat ini.
Sampai akhirnya layar gelap dan lampu studio kembali menyala, film
ini terbukti merupakan adaptasi yang setia pada bukunya. Film ini berperan sebagai gambaran dari kehidupan Biru Laut, satu dari sekian banyak aktivis pada masa itu. Satu
dari sekian banyak rakyat sipil yang disia-siakan oleh Negara. Film ini menyajikan satu fragmen kehidupan,
tanpa penjelasan lebih lanjut soal kejahatan yang ditampilkan (yang harusnya bisa
disimpulkan sebagai kejahatan sistemik ya, akan aku jelaskan lebih lanjut di tulisan ini). Aku bisa memahami kenapa Leila sebagai penulis buku
maupun Leila dan Yosep Anggi Noen sebagai penulis skenario memilih jalur
penceritaan seperti itu, sangat realistis untuk sebuah karya seni yang punya
keterbatasan dimensi dan durasi (me trying to be positive here :)).
Toh, menurut aku, walau cuma berupa fragmen, baik buku maupun
filmnya sukses memantik diskursus. Semoga ya. Setidaknya itu yang terjadi
antara aku dan temanku :)
Karena menonton film ini, kami berdiskusi dan berefleksi tentang apa
yang salah dan tidak boleh dinormalisasi dari kehidupan bernegara sekarang.
Buat aku, kesadaran itu aja udah mahal loh. Coba deh, ngobrol sama orang di
luar circle kalian, buat tahu sesuatu ga normal aja tuh kadang mereka tidak bisa T_T Aku pun merasa aku butuh waktu tahunan untuk itu, sekarang juga masih
belajar T_T Padahal tanpa kesadaran, kita gak akan tahu apakah yang kita
dapatkan itu sudah yang sepantasnya. Tanpa kesadaran, kita gak akan tahu kita
harus bergerak dan berubah. Padahal Allah saja tidak akan mengubah nasib suatu
kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.
Tapi di balik pujian aku tentang keberhasilan filmnya untuk
memantik diskusi, aku tetap harus kasih kritik soal pilihan penceritaan ini ya,
karena jujur buat aku menggelisahkan banget. Menurutku, pilihan penceritaan
ini membuat filmnya luput menyoroti bahwa kejahatan yang ditampilkan di film
ini adalah kejahatan sistemik. Sosok antagonis digambarkan secara eksplisit dan berlapis lewat gerombolan penculik sebagai tim eksekutor serta atasan langsung mereka yang hanya muncul di akhir film. Main keroyokan, ringan tangan, bodoh,
berkata kasar, semua kelakuan setan diborong oleh para antagonis ini (shoutout untuk cara
Anggi Noen sebagai Sutradara menggambarkan itu semua! Sangat halus tapi juga sangat nyata dan
bikin traumatik!). Tidak cukup sampai di situ, dihadirkan pula sosok antagonis
lain dalam balutan plot twist (gonna be the talk of the town because we all know
Indonesian moviegoers love plot twist!). Kurang berlapis apa itu kan, sampai
ada tiga! Tiga dan hanya berhenti sampai di sana, tidak ada satu adegan pun
yang menjelaskan secara eksplisit dari mana ide untuk menjegal Biru Laut dkk
ini berasal.
Satu fakta itu membuat aku ga bisa hanya sekadar menonton
dan membaca film ini dalam hati. Aku memutuskan untuk menulis review ini untuk
menyuarakan kritikan aku. Aku tahu maker tidak punya tanggung jawab atas
pembacaan penonton terhadap karya mereka. Aku tahu bukan hakku untuk menghakimi
kedalaman pembacaan penonton lain. Tapi aku berharap ketika kita semua keluar
dari bioskop, kebencian kita tidak berhenti pada sosok eksekutor. Bagaimanapun juga, melakukan penculikan terhadap beberapa orang tuh pasti bukan modal benci dan jahat dari para eksekutor aja. Pasti ada sosok tak kasatmata yang tidak pernah dibicarakan, yang sayang sekali, lampu sorot dari film ini tidak pernah cukup tinggi untuk menyasar orang-orang itu. Aku harap semua yang menonton film
ini tidak hanya menonton, terkesima dengan plot twist, marah dengan tim
eksekutor, dan berhenti sampai di sana. Tapi dengan menonton film ini, semoga
kita diberi kesadaran bahwa kasus Biru Laut dan Andrie Yunus punya benang merah
yang sama.
To be fair, aku sadar bisa jadi pembacaan aku di paragraf
sebelum ini juga salah. Bisa jadi intensi pembuat film ini tidak segitu
dangkalnya karena toh, di beberapa bagian ada kok sosok nomor satu saat itu, yaitu Presiden Soeharto ditampilkan (meski semuanya out of context). Bisa jadi
kejahatan sistemik itu ya memang mau digambarkan sesubtil itu. Jadi intensinya
bisa aja tetap baik, tapi aku tetap harus mengutarakan kritik aku ini ya:
sebaik apa pun itu intensinya untuk menjelaskan kejahatan sistemik (kalaupun
ada), yang tersampaikan ke audiens rasanya tipis sekali.
Aku sudah bilang sebelumnya kalau semua perilaku setan
diborong oleh para eksekutor kan? Hal itu membuat aku menghabiskan waktu semalaman setelah menonton dengan berpikir, "pekerjaan macam
apa sih yang bisa buat orang punya mentalitas gapapa nyakitin orang lain?"
Oke, justifikasinya, mereka disuruh oleh atasan, mereka digaji untuk itu, tapi apa mereka tidak
berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu jahat? Ngomong-ngomong, menyakiti di sini
tidak hanya dalam bentuk fisik ya, tapi memeras itu juga menyakiti. Meminta yang
bukan haknya itu juga menyakiti. Berkata kasar itu juga menyakiti.
Sungguh tidak terbayang sistem dan pucuk pimpinan seperti apa
yang bisa melahirkan pekerja-pekerja dengan mentalitas seperti itu (ikan busuk dari kepalanya, bukan?). Dan tidak terbayang juga apa yang diharapkan ketika memutuskan untuk memilih Pemimpin dengan mentalitas seperti itu. Mungkin ada kaum 58% yang mau mewakili untuk menjawab?
Catatan tambahan:
Aku punya beberapa kritik tambahan untuk film ini, yaitu:
1. Wig karakter Ibu Biru Laut jelek
2. Karakter Kinan miscast. Setiap kehadirannya membuat aku
ga nyaman karena latar belakangnya di dunia nyata. Kalau mau berargumen demi
kesinambungan dengan film pendeknya, toh di film pendek dia memerankan Anjani,
bukan Kinan. Kalau mau berargumen dia punya kemampuan, aku gak setuju
karena menurutku perannya easily replaceable sama aktor lain. Curiga ga pakai casting kali ya. Padahal ini peran krusial yang screentimenya banyak loh, sayang aja jadinya.
Udah setahun lebih aku di kota baru, kerjaan baru, teman baru, lingkungan tempat tinggal baru. Dari semua hal yang baru, ga ada yang lebih bikin thankful selain sederetan manusia Rawr. Ga ada keraguan sedikit pun di hati aku kalau pertemuan kita murni karna kemurah hatian Allah SWT sama aku si remaja vintage yang mendadak jadi anak bawang lagi di usia 30an. Tapi beneran deh, ga bisa bayangin kalau setahun kemarin jalaninnya ga sama kalian T_T bener bener makasih ya Allah udah dipertemukan dengan sederetan orang-orang baik, pinter, menginspirasi dan sangat beragam tapi juga sangat thoughtful satu sama lain. 13 orang yang walau nanti kita akan clash (karna kerjaan kita tentu saja memungkinkan itu), tapi aku akan selalu mengingat satu tahun pertama yang kita lalui bersama ini. Semua usaha yang kita lakukan satu sama lain untuk membuat satu tahun dengan 80% ini bearable.
Dan aku mau note juga salah satu yang paling aku suka dari Rawr adalah kita semua sepakat kalau it's just another job for us. Ga ada yang naif dari kita semua. Ini kayak sederhana banget, tapi jujur sangat menguatkan aku untuk sehari-hari menjalani profesi ini. Selain Rawr, teman kelompok rolling aku juga prinsipnya sama begini, thankful juga buat mereka ^^
So here's to many more years!!! Tapi sebelum itu aku mau tulis memoar aku untuk masing-masing Rawr dari setahun berkawan. Buat kenang-kenangan <3
1. Yang satu ini bisa dibilang punya spektrum personality yang berkebalikan sama personality aku, tapi somehow kita bisa dekat karna she's such a speaker dan sebagai orang yang lebih nyaman di posisi listener aku kebantu banget haha. Makasih ya udah selalu jadi pemeriah suasana! Walau kita ga berada di spektrum personality yang sama, tapi kesamaan kita adalah punya banyak interest. Jadi somehow bisa jadi teman main ketika interestnya sama. Di Rawr ada orang-orang yang naturally gifted dan passionate soal dokumentasi (selanjutnya akan disebut Rawr Socmed), dan dia salah satunya (sungguh bersyukur!!! Makasih ya dah jadi teman aku haha).
2. Rawr terbagi antara 8 cwk dan 6 cwk. Di antara 6 cwk, menurutku semua punya kelucuannya masing-masing, dan aku suka banget sama keragaman lucu ini karna sebagai teman jadinya ga boring gitu loh. Tinggal pilih aja hari ini mau nontonin jenis komedi yang bagaimana. Si kakak ini aku nobatkan sebagai si naturally funny. In split seconds, kakak ini bisa memutuskan mau nimpalin lelucon apa dan success rate lucunya 90% menurutku. Jelas itu butuh kecerdasan di atas rata-rata sih. Kontribusi idenya di setiap ngumpul juga terbukti jadi lem perekat untuk semua.
3. Nah yang ini ril personalitynya kebalikan dari aku!!! Tipe manusia yang pasti aku kagumi dan aku mau duplikasi tapi ga akan bisa (karna emang beda aja personalitynya T_T). Berani, tegas, ga ada keraguan untuk keyakinannya sendiri. Dia juga termasuk dari anggota Rawr Socmed. Sebenarnya kalau aku lebih mudaan dikit aku pasti milih the easy way untuk ga dekat-dekat sama orang yang beda kayak dia, tapi sekarang justru orang-orang kayak dia sih yang aku syukuri ada di dekat aku. Makasih dah jadi salah satu yang paling vokal soal sisi lain negara, yang ngebuat circle kita selalu alert dan napak tanah.
4. Lucu tapi alay, alay tapi lucu. Lucunya yang tipe-tipe Emir Mahira gitu loh, lucu asal kadarnya pas wkwk. Sebagai teman main dia baik, mau tetap makan bersama kita walau selalu kita ledekin, thankful juga dia jadi samsak bersama yang menyatukan kita semua (daripada jadiin orang lain samsak, mending dia aja sih, hehe peace). Maafin kita, tapi sabar ya dan semoga lebih baik lagi ke depannya (baca: baik = kurangi tantrum dan randomnya yang bikin kita jadi emosi).
5. My twinnies!!! Walau usia kita terpaut jauh, tapi aku ke dia udah kayak aku ke Ghea, banyak banget irisannya hihi. Mana kalau karaoke atau dengerin lagu tuh selera kita mirip mirip, sama keinginan buat coba ini itu juga mirip. Tapi di luar dari kemiripan itu, menurut aku secara personality dia tuh versi lebih baik dari aku, jadi aku belajar banyak!!! Selain itu dia juga adalah bagian dari Socmed Rawr dan core hampir semua kegiatan seru yang kita jalani bareng-bareng. Truly can't be more thankful that our paths crossed! <3 Love banyak banyak!
6. Hehehe dari semuanya aku paling ga nyangka bisa akrab sama yang satu ini! Tentunya tidak lepas dari 12 orang baik lainnya, jadi kita bisa akrab jugaaa :) thank you for opening your heart to us! Karna dia mirip banget sama satu adek aku, jadi kayaknya aku bisa paham untuk bisa buka hati aja tuh pasti big deal buat dia. Dia salah satu dari 6 cwk lucu tadi, dan dia spesialisasinya di kelucuan yang garing. Bahkan udah setahun lebih tapi kalau ngobrol masih suka ga nyambung tapi tetap lucuuu hehe.
7. My fellow (Madura) satay lover!!!! Super girl banget dalam artian energinya banyak banget ga habis habis! Anak ajaib dari Utara yang walaupun introvert (menurutku), tapi kenalannya banyak dan beragam terus ga pernah kehabisan topik karna asbun. Tapi dia tuh asbun with style. Dia dan si no. 11 adalah dua orang yang kerecehannya paling ampuh buat aku ketawa hehe, makanya aku senang mepetin mereka :P Trus cerdas banget, terutama buat hubungan interpersonal juga menurutku dia exceptional, bahkan bisa meladeni si bocah tantrum *tepuk tangan
8. Kalian pernah ga punya teman yang saking kompetitifnya malah jadi lucu? Bisa lucu juga mainly karna dia ga jahat tapi emang esensi hidupnya kompetitif aja wkwk. Dia bagian dari 6 cwk itu ya btw. Dia juga bagian dari Rawr Socmed, tapi kontennya sangat niche yaitu konten BTS (keren kan Rawr Socmed ini, ada spesialisasinya). Oh iya dia juga tongsis kita semua, yang ga hanya dianugerahi kelebihan fisik tapi juga skill. Di luar itu semua, terharu deh dia masih mau gabung main-main sama kita :')
9. Kayaknya dari semuanya, orang ini yang paling lama baru akrab sama aku (ingatan tentang dia di awal itu blur bgt mohon maaf T_T ingatan mulai terbangun baru pas Latsar gara-gara dia minta tolong aku mulu buat take video wkwk). Ajaib juga dengan segala perbedaan yang ada, ternyata kita punya satu kesamaan yaitu menjadi morning person! Trus sebagai sesama observer, ada aja yang diomongin dan dibagi (baca : digosipin) di pagi hari itu. Dia juga satu di antara 6 cwk dan kelucuan dia personal favorite aku yaitu lucunya lebih ke verbal dan mulutnya sarkastik wkwk.
10. Satu lagi yang personalitynya beda sama aku tapi karna mirip sama orang yang dulu pernah kutaksir jadi rasanya familiar banget banget :P Salah dua manusia paling Jawa yang pernah kukenal. Pemberani parah, gen Z nya gen Z banget wkwk. Aku belajar banyak dari dia sih, dia juga kayaknya belajar banyak dari aku, karna gap umur kita terasa banget :P Kita juga sama-sama punya interest ke olahraga, semoga punya lebih banyak kesempatan olahraga bareng ya! Oh satu lagi yang aku suka dari dia adalah dia tuh efektif banget dalam hal finansial! Sungguh aku harus belajar lebih banyak nih sama dia huhu.
11. Ini satu orang lainnya yang kerecehannya juga selalu ampuh buat aku ketawa hehe, sepaket sama no 7. Kesehariannya khas Sumatra banget yang walaupun anaknya sopan dan kalem tapi kejujuran nomor satu bahkan ke strangers dan lebih lebih ke kenalan yang udah akrab (aku suka tipe yang begini by the way!!!). Kita punya satu ritual kecil tiap pagi and I can't be more thankful about that! <3 Menurut aku juga dia emoji berjalan karna gerak geriknya ekspresif banget. Oh satu lagi, kata aku dia anak teknik sejati sih.
12. Dari 8 orang cwk di Rawr, dia yang paling sering absen (eh no 10 juga sih wkwk). And I love the fact that we collectively don't take it personally. Namanya teman kerja ini ya, kalau momennya asik ya asik, kalau ga asik ya feel free to disconnect for a while. Senangnya, dan bersyukurnya, pas kita gabung lagi ya tetap membaur, bener-bener present, and I truly think that it's more than enough! Karna jarang ngobrol, jadinya malah kalau ngobrol seru karna ada aja fakta baru terungkap. Salah satu teman yang nyambung diajak ngobrol lagu timur (yay) dan ga canggung saat berkaraoke (penting).
13. Our representative soft boy! Ga hanya soft boy dari tutur kata dan perilaku, tapi hatinya juga paling melankolis menurutku. Dia ga fotogenik samsek dan juga ga jaim, jadi walaupun fisiknya intimidatif kita tetap nyaman sama dia. Semua itu ditambah lagi dengan dia yang lucunya random, suka tiba-tiba live report lah (in another universe, harusnya teman aku ini jadi reporter). Tipikal manusia yang ngomong seperlunya, tapi kalaupun lagi ngeriung gitu dia bisa masuk juga dan kasih celetukan lucu yang (lagi lagi) random.
Btw, aku pernah cerita di sini, kalau tahun 2018 aku perdana solo trip dengan agenda utama nonton Konser Winner. Tentunya trip di-stretch jadi seminggu karna aku aji mumpung kesana kemari mencoret wishlist di ibukota hehe. Tahun 2022, empat tahun kemudian dari trip pertama, aku kembali solo trip. Kali ini tujuannya ke Jogjakarta dengan agenda utama JAFF17. Lagi-lagi trip dijadikan seminggu.
Dan percaya ga percaya, aku yang seumur hidup biasa sendirian, kalau solo trip gini ada sepi dan sedihnya juga lohhhh. Haha. Bahkan di tengah keramaian, ya terutama di tengah keramaian.
Hari-hari pertama solo trip tentu euforia yaa. Berada di Bandara, naik pesawat sendiri tuh sangat therapeutic buat aku. Aku berasa wow AKU BISA & AKU SUKA!! Kalau di keluarga kan aku passenger princess ya yang apa apa dah disediakan, trus kalau trip sama teman tuh aku people pleaser banget alias ga punya opini alias terima aja sama semua keputusan bersama. Jadi dengan jalan-jalan sendiri aku bisa atur pace, aku bisa memenangkan preferensi aku dari yang mainstream sampai yang paling unik dan nyeleneh sekalipun. Ini jeleknya aku sih, kalau debat itu selalu mikirnya hitam-putih, kalah-menang. Padahal ga harus dipikir gitu kan, tapi yaa, gimana ya sist ngubahnya?!?? T_T
Bagian paling kusuka tentunya bagian mengkhayal yang biasanya jadi pemicu ide cerita (dari novel-novel yang tidak pernah juga kutulis *sad
Jadi ya itulah euforianya. Terutama kalau aspek hari pertama itu include coba hal-hal baru ya seperti naik KA Bandara, coba walking tour, dll. Trus hari ketiga, grafik mulai menurun. Boleh ga sih ini percaya zodiak? Tapi aku berasa Cancer banget aja, segitunya ga bisa mengendalikan mood karna dari hari ketiga inilah kesepian melanda. Bahkan walaupun aku di tengah pasar yang penuh dengan manusia. Berasanya hampa aja. In worst case scenario, hari ketiga ke atas ini ada aja kelakuanku yang di luar nalar. Antara tiba-tiba diam doang di penginapan seharian atau ngubah itinerary. Buat aku si kaum mendang mending sih ini sangat merugikan karna kan jadi ga efisien huhu, tapi namanya liburan kan intinya pengen rileks, jadi ya udah sih. Yang penting tujuan rileksnya itu tercapai.
Fast forward ke dua hari terakhir yang aku rasakan adalah mellow. Mellow liburan ini mau selesai, jadi different kind of mellow dengan yang sebelumnya. Dan rasa mellow ini tipis aja karna yang dirasakan selanjutnya di sisa liburan adalah excited. Ngebut coba makanan X, oleh-oleh Y, nongkrong di Z. Aku semangat lagi saat bangun pagi (flow aku kalau liburan adalah aku bangun pagiii, habis subuh sudah langsung beraktivitas) sampai mengakhiri hari.
Hufttt begitulah grafik emosiku saat liburan yang turun naik sesuka hati. Penasaran kalau kalian lagi liburan sendiri apakah kayak aku atau tipe yang lempeng-lempeng aja???
Aku udah tau Ghea dari lama. Seingat aku, pertama kenal karna dari lagu dia yang judulnya "Kamu Anggap Apa". Years ago. Trus lagunya ada yang viral yaitu "Jiwa Yang Bersedih", dan aku suka juga. Makin ke sini, jadi tau lagu-lagu dia yang lain dan jadi terobsesi. Kayaknya level obsesinya udah sama kayak dulu aku dengerin Hanin Dhiya melulu hehe. Satu hal yang aku mau note soal lagu-lagu Ghea adalah liriknya. Luv banget, hampir semua terasa ketulusannya. Dan juga walau kebanyakan ga bisa dikategorikan lagu religi tapi liriknya menurutku Islam banget. Bahkan untuk lagu-lagu cintanya menurutku masih Islam deh, aku sukaaaa!
Btw, Ghea ini singer songwriter ya, jadi semua lirik lagunya ya dia sendiri yang nulis. Dan menurutku dia masih underrated banget di skena musik tanah air.
Oleh karna kecintaan itu, aku tergerak buat bikinin setlist ala aku kalau one day Ghea bikin konser.
>>> Depression Era
Tiga lagu teratas di era ini tuh favoritku banget dan menurutku satu jiwa banget. Lagu depresi Ghea ini walau liriknya menurutku Islam banget (terutama di tiga lagu pertama), tapi ga ada satupun yang secara gamblang nyebutkan Tuhan gitu, kecuali di lagu Teramini dan itupun cuma di satu line.
1. Melangitkanmu
Aku terutama suka banget sama bagian yang ini karna relate banget. Makasih Ghea udah mengejawantahkan semua kegalauan di hidup aku dan di titik ujung selalu ada optimisme (exactly what I think what Islam all about <3). Tuhan yang dekat dengan kita sedekat nadi ini menurutku Islam bangettt. Trus aku juga suka banget bagian "renggut pilu ini", karna itu kayak puitis banget, sesuatu yang jarang didapat di lagu Indonesia modern imo.
Lihat aku yang penuh luka
Berantakan sekali
Bolehkah aku meminta
Renggut pilu ini
Jauh aku mencari tempat mengadu
Padahal kau dekat denganku
Dan kubersumpah
Tiada yang lain selain dirimu
2. Teramini
Jatuh bangun dan berdarah-darah
Terbawa arus tak tentu arah
Tuhan benarkah kau mendengarku
Kemana pergi doa-doaku
Ingin menyerah
Namun hati kecilku terus berbisik
Bertahanlah
Ingat kau sudah sampai sejauh ini
B aja sama reffnya (jujur kata Teramini itu aneh banget Ghe), tapi openingnya ini aku loveee. Dan lumayan remarkable juga karna sampai dijadiin judul film loh potongan liriknya ini.
3. Berdamai
Kurang setuju sama dua kalimat terakhir di reff sih sebenarnya, karna menurutku ga perlu bertemu dengan kemalangan untuk mengingat Tuhan dan berdoa hehe. Tapi selain itu aku tetap suka lagu ini dan masuk dalam segitiga bermuda lagu terbaik Ghea. Terutama dua kalimat awal di reff, waduh itu penguatku banget dalam banyak kesempatan aku merasa iri sama kebahagiaan orang lain : "Terima bukan ini saatnya, terima bukan kaulah orangnya." Aku percaya, Tuhan pasti punya alasan kenapa bukan aku orangnya :)
Apa maksudnya semua sia-sia
Pengorbananmu tak ada gunanya
Sekarang lihat kau di mana
Siapa yang sudah keras berusaha
Kalimat afirmasi positif iniiii, aku suka sekali, Ghea <3
Ku ingatkan lagi betapa besar hatimu
Menerima bukan hal yang mudah
Ini juga suka sekali <3
4. Jiwa Yang Bersedih
Ini lagu dah jadi terlalu mainstream nih, jadi di aku udah ada bosennya, izinnn. Tapi tidak bisa dipungkiri betapa paripurnanya lirik lagu ini :') Bahkan sampai di titik terakhir di mana lagi-lagi Ghea menyelipkan optimisme di tengah kepahitan hidup ini.
Selama ini kau hebat
Kau pasti kan didengar
5. Masa Mudaku Habis
Huhuuuu sempat sleep on this gem karna judulnya yang menurutku agak cringe. Tapi ternyata liriknya bagusss. Mana MVnya hits too close to home lagi, sampai nangis kecil nontonnya.
Ke mana perginya masa-masa yang indah?
Mengapa waktu begitu cepat berlalu?
Kini yang tersisa, aku yang harus bisa
Menjalani pahit manis hidup ini
6. Apa Itu Konsep Bahagia?
Salah satu lagu pertama yang buat aku suka sama Ghea. Love banget liriknyaaaa. Self love at its finest.
Sudahlah sudah
Cukup sampai di sini ku berhenti
Membunuh jiwaku sendiri untuk kau cintai
Tak akan lagi ku hidup membenci diri sendiri
Sudahlah sudah
Cukup sampai di sini ku berhenti
Biar kucari cara lain untuk dicintai
Sekali lagi ku hidup untuk diriku sendiri
7. Terima Kasih Sudah Bertahan
Pertama kali dengar lagu ini karna jadi soundtrack film Home Sweet Loan. Suka banget sama liriknya yang very uplifting.
Tapi aku percaya bahwa kau mampu
Ada yang berbeda darimu
Kau lebih dari itu
Sedap banget dengerin lagu ini sambil ngaca untuk memulai hari. Kayak duhhh, makasih banget loh diriku udah bertahan sejauh ini :'
Percaya, serahkan sisanya kepada semesta
Semua akan indah pada waktunya
Huhu lirik di atas salah satu contoh kenapa aku bilang lagu-lagu Ghea tuh mostly Islam banget.
8. Setengah Mati
Ini lagu pesanan buat Soundtrack film, tapi aku percaya lagu ini punya resonansi kuat sama hidupnya Ghea sendiri (berdasar apa yang aku dengar dari podcast yang dia bintangi). Oleh karna itu liriknya bisa dalem banget huhuuu *tenggelam
Selain mau note soal liriknya yang penuh rima, aku juga mau shoutout sama satu bagian di mana tiba-tiba musiknya mati dan yang tersisa cuma suara lirih Ghea. Ih aku suka kali bagian itu, sangat pas sama vibe dan tujuan lagunya.
Tolong bilang ini hanya mimpi
Ku merindukanmu setengah mati
Tuhan Kau tau aku menyayanginya
Tapi ternyata Kau lebih sayang dia
>>> Butterfly Era
1. Manusia Paling Bahagia
Dari semua lagu di set Butterfly Era jujur ini least favorite karna menurutku musiknya paling berisik. Tapi aku suka banget pilihan kata di liriknya. Bener-bener pas menggambarkan orang yang jatuh cinta :)
Tapi denganmu, langitku jingga
Senyumku semekar bunga-bunga
2. Malaikat
Salah satu kesamaan aku dan Ghea adalah status kita sebagai anak perempuan pertama yang zodiaknya water signs. Menurutku, fakta ini tuh ngaruh banget kenapa lirik-liriknya Ghea jadi kena banget di aku. Nah di lagu ini, Ghea menceritakan soal gimana rasanya jatuh cinta sama orang yang manis dan baik banget sampai dia mengibaratkan pasangannya sebagai malaikat. Duhhh, emang yang pantas didapatkan (anak) perempuan (pertama) tuh ya soft spoken lover boy, ya kannn? Amin! :P
Mata yang sendu
Dan tutur kata yang syahdu
Makhluk apa kamu ini?
Not gonna lie, kadang struktur kata maupun kalimat yang dibuat Ghea tuh ga konvensional kayak gini, dan emang ganggu dikit. Tapi vibenya tuh selalu dapat aja di aku sih.
Tanpa syarat kau mencintaiku
Barat ke timur, laut di darat
Tak habis cintamu
3. Oh Tuhan!
Dari semua lagu cintanya ini yang paling ga Islam wkwkwk. Maksa banget apaan, gimana kalau cowonya ga baik Gheee :P
Tapi aku maafin karna ya kadang emang pas jatuh cinta tuh ya bego aja sih haha. Di salah satu interview, Ghea bilang lagu ini terinspirasi dari kecintaan dia sama BTS Jin, dan aku sebagai sesama fangirl relate banget. Ini exactly yang kurasakan dulu pas lagi cinta-cintanya sama Winner Seunghoon hehe. Btw, lagu ini underrated banget, harusnya bisa jadi lagu kebangsaan buat siapa aja yang lagi berhubungan beda agama ceunah.
Dunia seakan berpaling dariku
Kemudian kau datang
Dan berpihak padaku
Denganmu ku bebas menjadi diriku
Kau kuatkan lemahku
Aku punya segalanya
4. 1000x
This one legendary song huhuuuuu.
Suka banget banget banget! Ini level lagu cintanya buat aku sama dengan Bentuk Cinta, Angkasa dan Month of June. Pokoknya kapanpun didengerin bisa bikin aku pindah mode dari yang mode netral jadi mode butterfly :)
Kadang aku iri melihat mereka
Tercipta seperti pasangan yang sempurna
Saling mencintai dan begitu bahagia
Dan dipuja puji insan yang memandangnya
Lalu aku memandangmu dan tersadar
Betapa beruntungnya
Ada cinta seperti cintamu kepadaku
Mana tipikal liriknya applicable ga cuma buat lover, tapi juga buat semuanyaaa. Buat cinta ke orang tua, teman, even pets.
Dan bila aku terlahir seribu kali lagi
Di dunia yang lain
Aku tak peduli
Kau akan kucari
Sampai kau tau betapa kau kucintai
Bucin level dewa, water signs bangetttt :P
Cukup aku milikmu
Kau milikku
Sampai jadi debu
Sampai akhir waktu
Kau tetap milikku
Bintang di malamku
Detak di jantungku
Bintang di malamku dan detak di jantungku tuh jenius banget huhu.
>>> Honorable Mention
Sebenarnya yang di bawah ini aku sukanya biasa aja makanya ga sampai masuk di setlist imajinerku, tapi yaa tetap pengen shoutout ke lagu-lagu Ghea. Jadi aku masukin videonya aja yaa.