Sebagai seorang anak pedalaman (ya, I mean it!), aku yang sekarang sekolah di ibu kota provinsi ini dengan amat sangat rela musti berangkat pagi – pagi buta. Jam 6. Yap, jam segitu, saat pelajar lainnya masih berselubung selimut aku harus udah pake seragam lengkap, dengan mio biru dan helm Bugs Bunnyku, aku mengarungi jalanan sekitar 20 km selama kira – kira 40 menit. That’s my life baby,, and I have to enjoy it. Dan ga misuh – misuh lagi kayak postingan yang kemarin – kemarin. So now, I wanna share how fantastic to be me. Seorang pelajar asing yang sekarang berteman dengan semua komunitas pagi di jalanan antara Loa Janan-Samarinda.
Oke, udah aku bilang ya, kali ini aku mau cerita – cerita yang baik – baik aja. Dan untuk memulainya, aku akan cerita soal alam kalo pagi – pagi. Aku bisa ngeliat sunrise!!! Langit yang oren (dan kadang – kadang malah ungu gitu loh!) dengan udara yang dingin. Wah, aku serasa ada di Bandung. Hohoho. Adem banget pokoknya. Selain itu, udara juga masih segar. Beda sekali lah dibanding kalo aku pulang.
Selain itu, kenikmatan lain menjadi the morning person adalah aku bisa ngeliat orang – orang yang bersemangat. Well, maksud aku adalah orang – orang yang mendedikasikan dirinya untuk pekerjaan yang dimulai sejak pagi hari. Seperti tukang sayur, tukang ikan, dan orang – orang yang kerja di kota dan harus berangkat pagi – pagi. Beh, jujur aja, aku salut banget sama mereka! Aku ga akan bisa jadi mereka. Di tengah dingin, di tengah kantuk, mereka berjuang untuk mencari nafkah bagi keluarganya di rumah. ^^ Semua orang tau aku berlebihan dan mereka emang ga sehebat itu karena ga ada tuh penghargaan khusus bagi profesi – profesi seperti itu. Tapi coba rasain sendiri deh, jadi pelajar asing seperti aku, you’ll know kalo menjadi manusia pagi itu tidak mudah dan rasa salut itu akan tumbuh begitu saja. Membuat aku melakukan hal – hal aneh (yang menurut banyak orang, ga penting) yang menurut aku dapat membuat beban mereka sedikit berkurang.
Untuk Tukang Sayur, sebagai manusia – manusia pagi paling is the best se Loa Janan-Samarinda, walau mereka selambat apapun, aku tetap ga mau nyelip. I mean, aku aja kalau diselip suka jantungan, apalagi mereka kan? Yang bawaannya segudang.. so, aku ga pernah mau nyelip mereka, for any kind of reason! Karena buat aku, mereka adalah orang – orang yang paling berarti untuk aku di jalan. Disaat pengendara lain mati – matian mau nelan aku (nyelipin aku maksudnya), mereka ga pernah tuh kayak gitu. Jadi aku dengan senang hati sering buntutin mereka. Perasaan aku aman aja gitu kalo deket mereka. Ga tau kenapa… Karena hobiku suka konvoi sama mereka aku pun menamakan komunitas itu sebagai TSC (Tukang Sayur Community). Walau kami semua ga saling kenal, tapi ditengah kebisuan itu kami saling melindungi, menguatkan hati di tengah perjalanan pagi yang sepi. :D love u all of member TSC Loa Janan-Samarinda!
Sedangkan untuk supir taksi, pekerja di kota, dan terutamanya tukang ikan, tanda simpati aku lakukan dengan rela menjadi bulan – bulanan mereka. Alias diselipin. Dibuat sakit jantung. Aku rela. Karena aku tau mereka punya kepentingan yang lebih. :) toh aku cuma pelajar asing. Tapi satu pesan aku buat tukang ikan kalau ada yang baca ini, mohon kecepatannya agak dikoreksi dong. Beberapa kali aku rasa mereka agak lebay. Tau tau pagi sepi, tapi ga musti membuat aku meraga ga aman gitu kan? Jadi tolong ya tukang ikan, contohlah tukang sayur. Mereka adalah teladan pengendara pagi yang baik ;)
Keluar dari tukang – tukangan, keuntungan lainnya adalah aku bisa memuaskan hasrat terpendamku dalam melihat orang – orang yang berolahraga. Call it as my hobby. Aku suka aja melihat orang – orang yang bersemangat itu ;) dan aku menemukan banyak sekali dalam perjalanan 40 menitku. Ada yang lari – lari, senam, dan banyak lagi. Thanks all, you make my day. Really. Oia, most of them itu orang – orang tua loh.. hoho. XD
Yaaa… itu aja dah curhatku tentang kehidupan pagiku :) Kehidupan ini awalnya sangat kubenci dan dengan ga ikhlas aku jalani, tapi kini, aku menikmatinya diam – diam. Aku mengagumi jutaan udara segar dari Tuhan yang aku hirup. Semua manusia berdedikasi yang menemani pagiku. Dan belasan langit indah yang sempat aku lihat.
Alhamdulillah ya Allah… :D I could say what I never think I am gonna do it.
*sebuah pikiran pelajar asing di tengah pagi buta, perjalanan Loa Janan-Samarinda
Sabtu, 29 Agustus 2009
Rabu, 19 Agustus 2009
Senangnya Jadi Anak SMA...
Well, masih agak - agak gak percaya kalo aku bakal berkata seperti itu. Karena pada masa - masa awal, semuanya terasa berat. Ya, berat banget. Sampe rasanya aku pengen stuck. Pengen kembali ke masa - masa dulu lagi. Ke perpus bareng Niken, ngobrol bola ma Edy atau curhat gak jelas sama Yaqut. I miss them all suddenly. Karenanya, terasa sangat sakit menyadari mereka dan aku sekarang berada di dunia yang berbeda. SMA yang berbeda.
Apalagi kenyataan kalau aku berada di lingkungan yang sama sekali baru. Dengan orang - orang yang sama sekali belum ku kenal. Dari lingkungan yang berbeda. Dari tingkat ekonomi, sosial, pendidikan dan hiburan yang berbeda. Semuanya berbeda. Yang mereka gak tau, aku tau. Dan gitu juga sebaliknya. Oke, oke, mungkin aku agak lebay. Tapi itu yang aku rasain. Sebuah jurang perbedaan yang dalam.
Lucky me, ternyata semua itu ga berlangsung lebih dari satu bulan. :D u don't know how happy me about that fact. Cause I mean, aku bakal rasain itu minimal 3 bulan. Dan aku (sebagai makhluk yang gampang putus asa dan samasekali ga pedean) pun udah mulai ancang - ancang untuk nyerah. Kelas aksel pun jadi pilihan pelarian. Sekalian bikin bangga orang tua :p lucu ya, aku daftar kesana buat nyerah, tapi masih bisa ngebanggain orang tua. Hehe.
Dan gilanya sih aku berhasil memenuhi semua kualifikasinya. Ga nyangka tau! Aku pikir,,,, cewek kampung norak kayak aku? Cewek yang menghabiskan waktunya dua jam di jalanan menuju sekolah. Cewe yang selalu nguap kalo di kelas. Cewe aneh yang ga bisa natap mata cowo. Cewe yang rumahnya paling jauh tapi datangnya paling pagi. Cewe yang invicible, ga dikenal, ga kayak Thomas, yaitu aku sendiri, Fradita Wanda Sari? Hufffft… There can be miracles when you believe. Mengutip lirik lagunya David Archuleta tadi, akupun jadi percaya sama keajaiban :) walaupun aku gak pengen merasa kepedean sekarang. Yaya, ada berapa anak pintar sih di smansa samarinda? Pasti banyak banget yang ngincar aksel kan? Dan yang bisa kepilih cuma 24! There are only 24 persons can get there!
Dan miracle itu benar - benar datang lagi.
Derengdeng…. Ga sampai satu minggu saat aku menyadari kalau masuk ke kelas x-2 benar - benar menyenangkan. Semuanya terjadi begitu aja. Kejadian yang membuat aku tersenyum. Kejadian yang membuat aku tertawa. Dan secara tidak sadar aku udah mengucapkan kalimat yang menjadi judul postingan ini. Senangnya jadi anak SMA...
Saat - saat kita olahraga tanpa Pak Buset, dimana kita diusir dari sekolah :p dan cuma duduk - duduk di LP plus ngobrol ketawa - ketawa bareng. Benar - benar semuanya gabung jadi satu, tanpa sekat. Saat kita sama - sama dibilangi goblok ama Pak Puguh :( Saat kita sama - sama diomelin Pak Zul gara - gara belum punya buku sejarah. Saat kita semua ngebohongin Pak Zakir, padahal doi guru agama gitu loo.. Saat kita lagi asik diskusi dengan dipimpin Febri atau Paula. Atau saat Ririn tiba - tiba teriak itu. Hahaha. Bukan, bukan sebuah kenangan yang menyenangkan sebenarnya, karena kami terlalu sering dimarahin guru :( tapi tetap aja itu berbekas. Thanks guys.. (hohoho. Belum juga sebulan :p)
Yang menyenangkan adalah saat aku akhirnya punya teman ngobrol pas pagi - pagi yaitu CITA!! Asik! Karena biasanya aku cuma gabung sama cowo - cowo. Huh. Tapi akhirnya dia, sebagai sesama anak yang rumahnya jauh (Sempaja) dan naik motor sendiri, mengikuti jejakku untuk ke sekolah pagi - pagi. Selain itu, momen yang menyenangkan lainnya saat aku mulai ngobrol sama Intan, Siti, Dhani, Annisa Nurul, Romi, Ade, Dennis, Emil, Tami, orang - orang yang kuanggap jauh dan ga masuk jangkauanku. Ternyata mereka baik - baik dan TIDAK AROGAN. Well, akhirnya aku menelan ludah sendiri deh. Maaf buat yang baca postingan sebelumnya dan udah merasa terombang - ambing. Aku emang bukan orang yang konsisten :(
Dan karena semua fakta itu, ditambah aku yang tambah dekat sama WAHdana, Bilqis (teman makan bakso bareng) Nisa (teman makan nasi goreng bareng) dan Windy (yang paling aku comfortable with), dengan jujur dan sadar aku ngerasa gak rela kalau harus ninggalin x-2. Ya,,, KALO aku diterima di aksel. Soalnya anaknya seru - seru sih.. Kebersamaannya kental. Dan aku ga pernah lagi merasa direndahin seperti yang pernah aku rasakan dulu waktu pertama kali disini. :D
Adoh doh, melankolis banget ya aku hari ini? Kayak yakin - yakinnya bakal diterima di aksel aja! Hohoho ;) tapi kalaupun iya, aku bakal kesana dan ninggalin x-2. I have to deal with it. Dan disini aku bakal negasin kalo aku pindah bukan lagi karena alasan aku malu dan ga betah disana, tapi karena aku pengen banggain orang tua aku! x-2 is the best class anyway. x-2 is cool, friendly, and smart at the same time.
Dan aku bangga masuk x-2! Bangga masuk SMA Negeri 1 Samarinda! Senang jadi anak SMA! ^^
Apalagi kenyataan kalau aku berada di lingkungan yang sama sekali baru. Dengan orang - orang yang sama sekali belum ku kenal. Dari lingkungan yang berbeda. Dari tingkat ekonomi, sosial, pendidikan dan hiburan yang berbeda. Semuanya berbeda. Yang mereka gak tau, aku tau. Dan gitu juga sebaliknya. Oke, oke, mungkin aku agak lebay. Tapi itu yang aku rasain. Sebuah jurang perbedaan yang dalam.
Lucky me, ternyata semua itu ga berlangsung lebih dari satu bulan. :D u don't know how happy me about that fact. Cause I mean, aku bakal rasain itu minimal 3 bulan. Dan aku (sebagai makhluk yang gampang putus asa dan samasekali ga pedean) pun udah mulai ancang - ancang untuk nyerah. Kelas aksel pun jadi pilihan pelarian. Sekalian bikin bangga orang tua :p lucu ya, aku daftar kesana buat nyerah, tapi masih bisa ngebanggain orang tua. Hehe.
Dan gilanya sih aku berhasil memenuhi semua kualifikasinya. Ga nyangka tau! Aku pikir,,,, cewek kampung norak kayak aku? Cewek yang menghabiskan waktunya dua jam di jalanan menuju sekolah. Cewe yang selalu nguap kalo di kelas. Cewe aneh yang ga bisa natap mata cowo. Cewe yang rumahnya paling jauh tapi datangnya paling pagi. Cewe yang invicible, ga dikenal, ga kayak Thomas, yaitu aku sendiri, Fradita Wanda Sari? Hufffft… There can be miracles when you believe. Mengutip lirik lagunya David Archuleta tadi, akupun jadi percaya sama keajaiban :) walaupun aku gak pengen merasa kepedean sekarang. Yaya, ada berapa anak pintar sih di smansa samarinda? Pasti banyak banget yang ngincar aksel kan? Dan yang bisa kepilih cuma 24! There are only 24 persons can get there!
Dan miracle itu benar - benar datang lagi.
Derengdeng…. Ga sampai satu minggu saat aku menyadari kalau masuk ke kelas x-2 benar - benar menyenangkan. Semuanya terjadi begitu aja. Kejadian yang membuat aku tersenyum. Kejadian yang membuat aku tertawa. Dan secara tidak sadar aku udah mengucapkan kalimat yang menjadi judul postingan ini. Senangnya jadi anak SMA...
Saat - saat kita olahraga tanpa Pak Buset, dimana kita diusir dari sekolah :p dan cuma duduk - duduk di LP plus ngobrol ketawa - ketawa bareng. Benar - benar semuanya gabung jadi satu, tanpa sekat. Saat kita sama - sama dibilangi goblok ama Pak Puguh :( Saat kita sama - sama diomelin Pak Zul gara - gara belum punya buku sejarah. Saat kita semua ngebohongin Pak Zakir, padahal doi guru agama gitu loo.. Saat kita lagi asik diskusi dengan dipimpin Febri atau Paula. Atau saat Ririn tiba - tiba teriak itu. Hahaha. Bukan, bukan sebuah kenangan yang menyenangkan sebenarnya, karena kami terlalu sering dimarahin guru :( tapi tetap aja itu berbekas. Thanks guys.. (hohoho. Belum juga sebulan :p)
Yang menyenangkan adalah saat aku akhirnya punya teman ngobrol pas pagi - pagi yaitu CITA!! Asik! Karena biasanya aku cuma gabung sama cowo - cowo. Huh. Tapi akhirnya dia, sebagai sesama anak yang rumahnya jauh (Sempaja) dan naik motor sendiri, mengikuti jejakku untuk ke sekolah pagi - pagi. Selain itu, momen yang menyenangkan lainnya saat aku mulai ngobrol sama Intan, Siti, Dhani, Annisa Nurul, Romi, Ade, Dennis, Emil, Tami, orang - orang yang kuanggap jauh dan ga masuk jangkauanku. Ternyata mereka baik - baik dan TIDAK AROGAN. Well, akhirnya aku menelan ludah sendiri deh. Maaf buat yang baca postingan sebelumnya dan udah merasa terombang - ambing. Aku emang bukan orang yang konsisten :(
Dan karena semua fakta itu, ditambah aku yang tambah dekat sama WAHdana, Bilqis (teman makan bakso bareng) Nisa (teman makan nasi goreng bareng) dan Windy (yang paling aku comfortable with), dengan jujur dan sadar aku ngerasa gak rela kalau harus ninggalin x-2. Ya,,, KALO aku diterima di aksel. Soalnya anaknya seru - seru sih.. Kebersamaannya kental. Dan aku ga pernah lagi merasa direndahin seperti yang pernah aku rasakan dulu waktu pertama kali disini. :D
Adoh doh, melankolis banget ya aku hari ini? Kayak yakin - yakinnya bakal diterima di aksel aja! Hohoho ;) tapi kalaupun iya, aku bakal kesana dan ninggalin x-2. I have to deal with it. Dan disini aku bakal negasin kalo aku pindah bukan lagi karena alasan aku malu dan ga betah disana, tapi karena aku pengen banggain orang tua aku! x-2 is the best class anyway. x-2 is cool, friendly, and smart at the same time.
Dan aku bangga masuk x-2! Bangga masuk SMA Negeri 1 Samarinda! Senang jadi anak SMA! ^^
Minggu, 09 Agustus 2009
Ketika Satu Hal Merubah Kehidupan
Haduh……… kemarin aku pusing banget. Banget. Banget. Walaupun tepat hari itu juga akhirnya aku punya notebook sendiri ;p, tapi tetep aja kepalaku rasanya mau pecah. Kenapa? Karena satu, pelajaran pertama Matematika. Dan kalian tau gak sih reader, guru Matik aku di SMA ini **** banget. Btw, maap kalau musti disensor, bukan sebuah kata yang bagus ;) mana tau kan kalo ada anak SD baca blog aku dan you know what?
So, selama satu jam pelajaran pertama aku bener – bener pusing. I mean, pusing. Abisnya si bapak ngomong nyerocos sana sini dengan mata tajam dan muka super galak. Pokoknya galak, GALAK BANGET! Well, biasanya sih aku cuma ketawa – ketawa aja kalo bapak udah mulai kumat gitu. Tapi ga tau kenapa kemarin kepala aku mumet begitu :( untungnya pas pelajaran sebenarnya udah dimulai, aku udah pulih dan akhirnya bisa dengerin dengan benar juga. Huh. Tapi kepala tetap pusing.
Dan kepala aku semakin pusing karena seseorang berinisial N. Aku ga mau nyebutin merk ah, takut dia ga sengaja baca blogku, berhubung dia tau Fbku dan disitu ada alamat blog ini. Anyhow, dia menyebalkan sekali! Sama aja kayak Pak Matik. Huh. Tukang ngomel, kalo minta bantuin ngerjain tugas juga suka maksa. Hih. Males banget aku jadinya --’ dan the worst was dia kayaknya kok gak nyadar gitu ya kalo tingkahnya itu sangat memuakkan. Teman sebangku aku, Nana, sampai ketawa – ketawa gak jelas waktu dia maksa aku bantuin dia ngerjain tugas bikin paranada, waktu itu dia maksa – maksa kayak preman dengan suara secuil dan begonya dia gak bisa – bisa. Tapi gak bisa – bisanya sambil marah – marah. Gak kayak Windy yang kalau dia udah hopeless malah bikin aku ketawa. Kayak gitu kan jadi enjoy ngajarinnya. Ya kan? Tapi ya udahlah, lain ladang lain belalang, lain juga nyamuknya (iya, ga nyambung).
So, walaupun praktek Seni Budaya udah dapat 8, tetap aja kemarin jadi hari yang menyedihkan. Sampai rumah aja langsung tidur saking pusingnya.
Nah, buat kalian yang punya kecenderungan mudah iri dan dengki, ada baiknya untuk ga ngelanjutin baca postingan ini, karena aku akan menjadi narsis yang paling narsis, narsis yang hanya bisa menyombongkan dirinya sendiri ;) tapi buat kalian yang rendah hati dan bisa menerima kelebihan orang lain, keep on going alias LANJUTKAN guys! Dan kalian bakal tau bagaimana satu hal dapat merubah sebuah dunia.
Jadi ceritanya aku, semenjak nyasar ke kelas x-2 smansa ini, temannya gak lebih dari kumpulan jari di satu tangan. :( dan itu cukup membuat stres karena pada dasarnya aku suka punya banyak teman. Siapa aja deh. Yang bisa diajak jalan kemana – mana dan ngobrol ngalor ngidul. Tapi ya, layaknya minoritas di tengah kumpulan spansa (yang boleh gak aku sebut arogan?), temanku ya para sesama yang juga berasal dari daerah. Huh. Aku benci marginalitas. Dan ada satu orang lagi di kelas, biang keonaran yang dibenci sama semua minor, C-I-A, sebut aja begitu. Dan sumpah ya ini orang, nyebelin banget! Kalau mau lewat, dia halangin, padahal badannya kan gede gitu. Dan banyak lagi tingkahnya yang ****. And as always, kalau aku udah ketemu orang kayak gitu, aku cuma bisa ngebalas dengan mulut sinis. Hih. Jadi biasanya kami perang mulut. Walau itu juga jarang si, karena pada dasarnya aku kan damaiers sejati. Paling ga bisa perang.
Tapi semuanya berubah waktu Bu Ning, guru BK datang. Aku yang emang daftar aksel pun dibuat panas dingin karena katanya beliau mau ngumumin IQ anak – anak yang daftar itu. Wah, kalo IQku tinggi kayak Dilla sih bikin ketawa, tapi kalau IQku rendah kan malu – maluin banget. Imagine this, seorang anak kampung yang sok mau masuk aksel tapi sayang sekali, IQnya gak lebih dari 100. Huhu. Aku gak bakal punya muka lagi, dan akupun akan makin menyedihkan di kelas.
Tapi Allah masih sayang aku :D Bu Ning bilang, : “Fradita Wanda Sari, IQ 133, numerik, NEM, verbal, skolastik bagus semua. Semangat ya nak!” Dan seluruh kelas pun bertepuk tangan. Woalah,, I felt it again! Thanks guys, tepuk tangan kalian made my day! Dan resmilah sudah kalau secara kualifikasi umum aku bisa masuk aksel. Tapi masih harus nunggu, karena kuotanya cuma 24 orang dan semua peminat bakal diranking lagi. Wish me luck ya reader. Aku berharap banget untuk yang satu ini. Selain pengen bikin sejarah di keluarga seperti kata mama, aku males juga kalau musti bolak – balik naik motor lama – lama kayak gini. Lebih cepat lebih baik, kalo kata Pak JK. Kalo bisa dua tahun, kenapa ga kan?
Dan yang aku maksud dengan ‘sesuatu-hal-dapat-merubah-dunia’ adalah perlakuan semua anak – anak kelas sama aku. Jauh lebih ramah, walau aku tau most of them ngincar aku sebagai contekan, tapi aku ga peduli ah. Yang penting aku punya teman. It’s enough for me, at least for now. Dan mereka sekarang juga lebih mengenal aku. I’m happy with that fact! :D
So, ya udahlah, itu aja untuk saat ini. Btw, kalau kalian mau tau gimana sebulanan pertama aku di smansa, all I can say just “berat”. Ya berat. Berat sampai ke ubun – ubun. Kalo ga percaya baca postingan sebelumnya. Aku musti bangun jam 5, mandi menggigil, dengan mata yang berusaha dibelo – belokan, aku berangkat jam 6. Di jalan, gabung sama anak – anak TSC (Tukang Sayur Community), konvoi belasan kilo menuju Samarinda. Helm ga bias aku tutup, soalnya kabut dan aku bakal jadi ngantuk kalo itu ga dibuka. Sampai di sekolah, masih belum ada orang. Akhirnya bengong kayak orang gila lima belas menitan. Belajar. Kadang asik kadang bikin pusing. Pulang jam 2. Baru bisa keluar lima belas menit kemudian. Macet. Nyelip. Diselip. Kalo milih lewat jembatan lama, jalannya bakal mulus tapi resikonya sih banyak persimpangan yang bikin ngeri. Trus kalau lewat Mahulu, jalannya rusak, tapi sepi, ya paling banter papasan sama truk batu bara atau pengendara loa buah yang gila. Sampai rumah cuci muka dan tangan, ganti baju, makan, istirahat bentar, ngerjain PR. Trus mandi, ngerjain PR lagi maksimal sampai jam setengah 9. Trus ganti buku, dan jam 9 harus sudah baring untuk tidur. Ya, sekali lagi aku tegasin, berat. Cuma Lintang (entah itu fiksi atau bukan), orangtua dan adek - adekku yang bisa membuat aku agak lebih tabah.
Tapi aku ga bisa nyalahin siapa – siapa. Toh, ini keputusanku sendiri. I choosen a hard way. So, ya udah, aku jalani. Tapi aku ga mau nyesal ah. Aku tau, seperti yang pernah kubilang, begitu aku masuk sini, masa depan akan tersenyum sama aku. KKM disini 7. Untuk semua mata pelajaran. Sedangkan di SMANJU (sebagai contoh) rata – rata kalau gak 5 ya 6, agama aja yang 7. Sedangkan semua PMDK di uni – uni negeri minimal 7, untuk semua mata pelajaran, jadi di smansa aku emang dididik keras dengan nilai tinggi untuk masa depan. Untuk masuk uni dengan mudah. Untuk kuliah. Karena itulah gunanya SMA, berbeda dengan SMK. I agree with that one. Dengan ekspektasi yang tinggi begitu, aku bakal terpacu, coba kalau KKMnya rendah dan saingannya enak – enak, aku bakal sombong dan acuh sama pelajaran (I did when I was in SMP).
Ah udah ah, kok jadi ngelantur gini. Aku gak mau bikin sakit hati teman – temanku yang disana, bagaimanapun juga aku pernah sekolah di daerah. Dengan aku sekarang di kota, aku gak boleh pesimis sama mereka. Ga ada alasan untuk aku melakukan hal itu. Toh, aku tau mereka pintar – pintar. Kurang ditekan aja untuk dikeluarin kepintarannya. Hidup SMANJU anyway!
Jadi kalau Dewi mungkin baca ini, selamat ya udah jadi nomor satu di SMANJU. You really worth it for that, I know. :) dan buat semuanya, tolong dong didoain supaya aku bisa masuk aksel!! Biar keren gitu. Haha. Ya? Ya? Thanks before reader.
See you on the next post! ^^
PS, jangan heran kalau nanti aku bakal sering posting, dengan notebook sendiri dan jaringan inet yang membabi buta di sekolah, ga ada alasan buat aku untuk ga manjain blog ini. :))))
So, selama satu jam pelajaran pertama aku bener – bener pusing. I mean, pusing. Abisnya si bapak ngomong nyerocos sana sini dengan mata tajam dan muka super galak. Pokoknya galak, GALAK BANGET! Well, biasanya sih aku cuma ketawa – ketawa aja kalo bapak udah mulai kumat gitu. Tapi ga tau kenapa kemarin kepala aku mumet begitu :( untungnya pas pelajaran sebenarnya udah dimulai, aku udah pulih dan akhirnya bisa dengerin dengan benar juga. Huh. Tapi kepala tetap pusing.
Dan kepala aku semakin pusing karena seseorang berinisial N. Aku ga mau nyebutin merk ah, takut dia ga sengaja baca blogku, berhubung dia tau Fbku dan disitu ada alamat blog ini. Anyhow, dia menyebalkan sekali! Sama aja kayak Pak Matik. Huh. Tukang ngomel, kalo minta bantuin ngerjain tugas juga suka maksa. Hih. Males banget aku jadinya --’ dan the worst was dia kayaknya kok gak nyadar gitu ya kalo tingkahnya itu sangat memuakkan. Teman sebangku aku, Nana, sampai ketawa – ketawa gak jelas waktu dia maksa aku bantuin dia ngerjain tugas bikin paranada, waktu itu dia maksa – maksa kayak preman dengan suara secuil dan begonya dia gak bisa – bisa. Tapi gak bisa – bisanya sambil marah – marah. Gak kayak Windy yang kalau dia udah hopeless malah bikin aku ketawa. Kayak gitu kan jadi enjoy ngajarinnya. Ya kan? Tapi ya udahlah, lain ladang lain belalang, lain juga nyamuknya (iya, ga nyambung).
So, walaupun praktek Seni Budaya udah dapat 8, tetap aja kemarin jadi hari yang menyedihkan. Sampai rumah aja langsung tidur saking pusingnya.
Nah, buat kalian yang punya kecenderungan mudah iri dan dengki, ada baiknya untuk ga ngelanjutin baca postingan ini, karena aku akan menjadi narsis yang paling narsis, narsis yang hanya bisa menyombongkan dirinya sendiri ;) tapi buat kalian yang rendah hati dan bisa menerima kelebihan orang lain, keep on going alias LANJUTKAN guys! Dan kalian bakal tau bagaimana satu hal dapat merubah sebuah dunia.
Jadi ceritanya aku, semenjak nyasar ke kelas x-2 smansa ini, temannya gak lebih dari kumpulan jari di satu tangan. :( dan itu cukup membuat stres karena pada dasarnya aku suka punya banyak teman. Siapa aja deh. Yang bisa diajak jalan kemana – mana dan ngobrol ngalor ngidul. Tapi ya, layaknya minoritas di tengah kumpulan spansa (yang boleh gak aku sebut arogan?), temanku ya para sesama yang juga berasal dari daerah. Huh. Aku benci marginalitas. Dan ada satu orang lagi di kelas, biang keonaran yang dibenci sama semua minor, C-I-A, sebut aja begitu. Dan sumpah ya ini orang, nyebelin banget! Kalau mau lewat, dia halangin, padahal badannya kan gede gitu. Dan banyak lagi tingkahnya yang ****. And as always, kalau aku udah ketemu orang kayak gitu, aku cuma bisa ngebalas dengan mulut sinis. Hih. Jadi biasanya kami perang mulut. Walau itu juga jarang si, karena pada dasarnya aku kan damaiers sejati. Paling ga bisa perang.
Tapi semuanya berubah waktu Bu Ning, guru BK datang. Aku yang emang daftar aksel pun dibuat panas dingin karena katanya beliau mau ngumumin IQ anak – anak yang daftar itu. Wah, kalo IQku tinggi kayak Dilla sih bikin ketawa, tapi kalau IQku rendah kan malu – maluin banget. Imagine this, seorang anak kampung yang sok mau masuk aksel tapi sayang sekali, IQnya gak lebih dari 100. Huhu. Aku gak bakal punya muka lagi, dan akupun akan makin menyedihkan di kelas.
Tapi Allah masih sayang aku :D Bu Ning bilang, : “Fradita Wanda Sari, IQ 133, numerik, NEM, verbal, skolastik bagus semua. Semangat ya nak!” Dan seluruh kelas pun bertepuk tangan. Woalah,, I felt it again! Thanks guys, tepuk tangan kalian made my day! Dan resmilah sudah kalau secara kualifikasi umum aku bisa masuk aksel. Tapi masih harus nunggu, karena kuotanya cuma 24 orang dan semua peminat bakal diranking lagi. Wish me luck ya reader. Aku berharap banget untuk yang satu ini. Selain pengen bikin sejarah di keluarga seperti kata mama, aku males juga kalau musti bolak – balik naik motor lama – lama kayak gini. Lebih cepat lebih baik, kalo kata Pak JK. Kalo bisa dua tahun, kenapa ga kan?
Dan yang aku maksud dengan ‘sesuatu-hal-dapat-merubah-dunia’ adalah perlakuan semua anak – anak kelas sama aku. Jauh lebih ramah, walau aku tau most of them ngincar aku sebagai contekan, tapi aku ga peduli ah. Yang penting aku punya teman. It’s enough for me, at least for now. Dan mereka sekarang juga lebih mengenal aku. I’m happy with that fact! :D
So, ya udahlah, itu aja untuk saat ini. Btw, kalau kalian mau tau gimana sebulanan pertama aku di smansa, all I can say just “berat”. Ya berat. Berat sampai ke ubun – ubun. Kalo ga percaya baca postingan sebelumnya. Aku musti bangun jam 5, mandi menggigil, dengan mata yang berusaha dibelo – belokan, aku berangkat jam 6. Di jalan, gabung sama anak – anak TSC (Tukang Sayur Community), konvoi belasan kilo menuju Samarinda. Helm ga bias aku tutup, soalnya kabut dan aku bakal jadi ngantuk kalo itu ga dibuka. Sampai di sekolah, masih belum ada orang. Akhirnya bengong kayak orang gila lima belas menitan. Belajar. Kadang asik kadang bikin pusing. Pulang jam 2. Baru bisa keluar lima belas menit kemudian. Macet. Nyelip. Diselip. Kalo milih lewat jembatan lama, jalannya bakal mulus tapi resikonya sih banyak persimpangan yang bikin ngeri. Trus kalau lewat Mahulu, jalannya rusak, tapi sepi, ya paling banter papasan sama truk batu bara atau pengendara loa buah yang gila. Sampai rumah cuci muka dan tangan, ganti baju, makan, istirahat bentar, ngerjain PR. Trus mandi, ngerjain PR lagi maksimal sampai jam setengah 9. Trus ganti buku, dan jam 9 harus sudah baring untuk tidur. Ya, sekali lagi aku tegasin, berat. Cuma Lintang (entah itu fiksi atau bukan), orangtua dan adek - adekku yang bisa membuat aku agak lebih tabah.
Tapi aku ga bisa nyalahin siapa – siapa. Toh, ini keputusanku sendiri. I choosen a hard way. So, ya udah, aku jalani. Tapi aku ga mau nyesal ah. Aku tau, seperti yang pernah kubilang, begitu aku masuk sini, masa depan akan tersenyum sama aku. KKM disini 7. Untuk semua mata pelajaran. Sedangkan di SMANJU (sebagai contoh) rata – rata kalau gak 5 ya 6, agama aja yang 7. Sedangkan semua PMDK di uni – uni negeri minimal 7, untuk semua mata pelajaran, jadi di smansa aku emang dididik keras dengan nilai tinggi untuk masa depan. Untuk masuk uni dengan mudah. Untuk kuliah. Karena itulah gunanya SMA, berbeda dengan SMK. I agree with that one. Dengan ekspektasi yang tinggi begitu, aku bakal terpacu, coba kalau KKMnya rendah dan saingannya enak – enak, aku bakal sombong dan acuh sama pelajaran (I did when I was in SMP).
Ah udah ah, kok jadi ngelantur gini. Aku gak mau bikin sakit hati teman – temanku yang disana, bagaimanapun juga aku pernah sekolah di daerah. Dengan aku sekarang di kota, aku gak boleh pesimis sama mereka. Ga ada alasan untuk aku melakukan hal itu. Toh, aku tau mereka pintar – pintar. Kurang ditekan aja untuk dikeluarin kepintarannya. Hidup SMANJU anyway!
Jadi kalau Dewi mungkin baca ini, selamat ya udah jadi nomor satu di SMANJU. You really worth it for that, I know. :) dan buat semuanya, tolong dong didoain supaya aku bisa masuk aksel!! Biar keren gitu. Haha. Ya? Ya? Thanks before reader.
See you on the next post! ^^
PS, jangan heran kalau nanti aku bakal sering posting, dengan notebook sendiri dan jaringan inet yang membabi buta di sekolah, ga ada alasan buat aku untuk ga manjain blog ini. :))))
Minggu, 26 Juli 2009
Tenggarong + Bontang = Cihuy
Ini dia postingan yang tertunda itu saudara – saudari. Maaf yah, maaf yah! Janji deh ga akan terulang. ;) Well, enjoy my blog!
Akhirnyaaaaaaaaaaa… setelah liburan panjang yang membosankan itu kuhabiskan di rumah sajah,, aku akhirnya melanglang buana, memulai tur Kalimantanku yang insya Allah akan kulanjutkan hingga nanti aku menginjak Berau, Sengatta atau mungkin Sebatik??? Amin amin. Tapi itu kayaknya masih lama banget kejadian. Walaupun aku bakal mati – matian berjuang. Hehehe. Thanks Mbak T, you are my inspiration.
Anyway, back to our main topic, kemarin aku jalan yang dekat – dekat aja duluh. Tenggarong dan Bontang. Ya, I know… dua kota itu SANGAT DEKAT. Ga sesuai banget dengan judulnya, ‘TUR KALIMANTAN’. Gusti,,,,, kapan ya? Aku bisa nembus pedalaman Borneo gitu dan promosiin sama orang – orang kalo Kalimantan itu indahhhhh banget!! Dan ya, it is. Di Bontang ama Tenggarong aja aku udah ternganga - nganga. Gimana kalo ke Derawan?? Yah, mimisan lagi deh, bayangin Berau ;)
Day 1
Pagiku yang indah dirusak oleh gedoran mama. Uggggghhhh.. Baru juga jam 9! Akhirnya (dengan terpaksa) aku keluar, mandi, dan pakai baju. Aku tau banget kalo mama bangunin jam segini pas liburan pasti ada yang penting. Dan ya, ternyata rumah aku kedatangan tamu, keluargaku yang tinggal di Bontang. Well, setelah dandan – dandan ga jelas, aku akhirnya keluar dan nyapa tamu aku. Tiga orang aja. Suami istri sama anaknya yang baru umur 3 tahun. Aku yang awalnya masi bete (dan ngantuk) pun berubah jadi excited karena ditawarin jalan ke Tenggarong. Kebetulan keluarga aku itu baru pindahan dari Banjar, dan belum pernah ke Tenggarong. Jadi ya,,,, sok atuh. Aku akhirnya jalan sama mereka plus dua acil aku dan tiga sepupu aku yang masih kecil.
Berhubung aku udah sering ke Tenggarong (karena kerjaan abah), aku pun sok – sok jadi guide gitu. Hehehe. Gaya deh gaya, yang penting eksis! Tapi berhubung udah kena virus T, aku pun mulai merubah kebiasaanku waktu jalan – jalan. Lebih banyak moto ketimbang dipoto, ga belanja – belanja ngasal, mencoba makan apa aja, mencoba ngobrol dengan penduduk lokal dan yang paling penting, lebih banyak melihat. Being the real traveler is the best thing in the world anyway. Tenggarong yang awalnya biasa aja pun terasa berbeda liburan kali ini.
Jadi waktu itu kami jalan – jalan ke Museum (entah kenapa kalo bawa keluarga pasti kesini, tapi tempatnya emang asik sih, historikal banget), Pulau Kumala (yang panas, tapi juga seru buat dipotoin, sayang ga mampir ke Laminnya , anyway buat yang ga tau, Lamin itu rumah adat dayak), mutar lewat Samarinda dan akhirnya lewatin Jembatan Mahulu (Mahakam Hulu) yang baru dibuka untuk umum. It was first time for me!! And Mahulu was so cool sore itu. Huhuh. Kami pun sampai di Loa Janan, tepatnya di rumah sepupu aku, Nanda, karena disana lagi ada arisan keluarga. Turun. Ditawarin makan, tapi aku tolak karena udah kenyang ngecengin temen – temennya Nanda (anak - anak SMK 7). Hehehehe.
Dan waktu keluarga aku itu mo pulang, tiba – tiba aku dapat durian runtuh. AKU DITAWARIN KE BONTANG!!!!!! Yeeeee! Tapi awalnya aku ragu sih, males aja kalo musti sendirian kesana nebeng ama keluarga yang udah lama ga ketemu. Bakal garing abis kan? Tapi ssstttt, nenekku bersedia menemani. Dan berangkatlah kami, seorang nenek dengan cucunya yang cantik jelita plus keluarga malang yang kami tebeng, jam 7 malam tepat hari itu juga.
Jam 10 kami akhirnya nyampe. Setelah ngobrol terus sepanjang perjalanan, aku akhirnya cuma bengong pas ngeliat langit Bontang. Oren eksotis.
Dan biasa, karena jetlag (loh?), aku pun baru bisa tidur jam 11. Trus bangun lagi jam 2. Tidur lagi.
Day 2
Aku pun baru beneran bangun pas jam 5. Santai – santai sarapan. Trus baru jam 8 aku mandi. Asleeeeeeee deh.. tempat tinggal keluargaku yang disini pewe abis. Pas pagi – pagi gituh, udah banyak aja orang – orang yang jualan jajanan. Tiap rumah tempat sampahnya satu. Dan sehari dua kali ada petugas yang ngambilin itu sampah. Emang mantap deh Perumahan Badak NGL Hop 2 entu.. Tapi ya selain pewe, kompleksnya juga sepi banget. Aku ulangin ya, sepiiiiiiiiiiii banget! Dan gara – gara kata sial*n itu, nenek aku minta dijemput BESOK! Halah, belon kemana – mana juga.
Ya, sesiangan itu kita emang ga ada kemana – mana. Karena satu, si suami kerja, jadi mobilnya dipakai, dan ga ada kendaraan buat kita untuk jalan – jalan. Taksi?? You wish! Taksi di Bontang itu kayak cewe berjilbab di Amerika. Susaaaaaaah carinya! Alasan kedua karena kata sang istri, “Bontang emang ga asyik kalo siang gini. Sepi. Nanti aja kalo malam kita jalan.” Aku pengen bilang, “Masa sih?????” tapi ga jadi soalnya aku aku gelap soal Bontang. Aku cuma pernah kesini satu kali, itupun udah lamaaaaaa banget.
Well okay, akupun menunggu dengan sabarnya hingga jam menunjukkan jam lima sore teng. Dan kami memulai perjalanan untuk menjamah Bontang. Tujuan pertama adalah Bontang Kuala. Tempatnya masuk sekitar 1 km sampai ke pusatnya yang berupa anjungan yang menghadap laut dan penuh gerai minuman. Masuknya bisa jalan kaki atau naik motor dengan jalan kayu yang kalau dilewatin motor bunyinya ‘gluduk – gluduk’.
Dingin, bisa liat langit Bontang (my fave thing in Bontang) dengan sangat bebas, banyak gerai minuman murah dan memberikan kesempatan buat aku untuk jalan kaki. Nilai tempat ini 6,5. Karena walaupun pewe, kayaknya terlalu standar aja, kayak Pantai Loa Sari jaman dulu. Mungkin saran buat pemerintah Bontang sih, ada baiknya dibikin penyewaan perahu dayung tradisional, kan seru tuh???? Iya ga???
Anyhow, keluarga aku yang di Bontang ini baiiiiiik sekali, aku diajak ke Kafe Kapal yang jauh dari pusat Bontang Kuala. Naik motor, aku bonceng tiga sama si suami dan si istri sedangkan si anak dan nenekku tinggal di mobil. Yihaaaaaa.. Jalanannya itu banyaaaaak banget polisi tidurnya. Dan aku bilangin aja ya, si suami itu adalah a real crazy driver. Jadi bayangin aja deh kalo jadi aku….
Tapi basically aku ga nyesal ko ke Bontang Kuala.
Target kedua adalah Kompleks PKT. Kita keliling mulai dari pabriknya (yang kalo dilihat dari atas, kayak ngeliat GP F1 yang malam itu loh di Singapura, gemerlap lampu – lampu gitu), trus hotelnya (Bukit Sintuk namanya), perumahan bulenya (cuma liat dari luar aja sih) dan terakhir, pujiseranya. Well, pujisera itu kayak food court tapi outdoor. Aiiiiiihhhhh.. pujiseranya mantap abissss. Pujisera perumahan Badak banci banget deh kalo dibandingin dengan yang punya PKT. Dan tau ga apa lagi yang buat aku berdecak kagum, ternyata, dari pujisera itu, lewat bawah tanah, ada pintu masuk menuju Stadion Mulawarman!!!!!!!! Iya, Markasnya Bontang PKT. Huuuuhh.. enak banget ga sih? Abis nonton bola, langsung makan – makan di tempat pewe yang makanannya beragam dan enak – enak banget itu?? Coba di Palaran? Boro – boro…….
Disitu juga readers, for the first time, aku nyoba yang namanya DIMSUM. Makanan yang SUSAH BANGET DITEMUKAN DI LOA JANAN ini, dengan mesumnya aku foto sebelum aku ambil keperawanannya. Hehe. Maaf kalo terdengar katro, tapi emang dimsum SUSAH BANGET DITEMUKAN DI LOA JANAN.
Untuk kompleks PKT, aku kasi nilai 9. Puaaaaas banget aja mata aku ngeliatin kehidupan orang burjo. Mungkin gara – gara diciptakan Tuhan terlalu cantik kali ya? *ga nyambung*
Terakhir, kita ke Loktuan. Ngeliat pelabuhan baru yang belum jadi. Bangunannya unik deh. Kayak masjid gitu.
Day 3
Aku bangun jam 7. Hahaha. Karena udah ga jetlag dan emang capek banget semalaman jalan mulu. Mandi jam 9. Trus males – malesan lagi deh. Karena Bontang, terutama di Perumahan Badak, emang ga seru banget kalo siang gini. Tapi untungnya, jemputan aku dari Loa Janan (mama, abah, and my brothers, deny dan dana) sampe juga jam 11. Alhamdulillah. Karena udah ada mobil, kami pun akhirnya bisa jalan – jalan. Mutar situ – situ aja si, karena abahku juga ga tau jalan. Kita ke kantor Walikota trus liat sekolah – sekolah di Bontang. Karena jujur dulu sempat niat mau sekolah disana. Sayang banget ga jadi.
Sorenya, jam 5, kami mulai jalan yang beneran dengan ditemanin si suami. Ke Singapur. Iya, naik pesawat dari Bontang ke Singapur.
Hehe. Kidding. Itu mah cuma Singapur gadungan. Merlion bohongan. Tapi lucu juga. Buat seru – seruan. Hehehe. Ga rugi juga, walau sebentar disitu, aku dapat sunset Bontang. Dan nilai dari Singapur 6,5.
Next, kita ke PKT dan ember, pabrik PKT yang waktu malam keren banget mah sangat biasa aja pas ga pake lampu. So kita pun cepat – cepat ngabur ke Pujisera karena musti ngejar waktu karena kami harus pulang hari itu juga karena abah aku besok harus kerja karena besok hari Rabu dan karena hari Rabu bukan weekend dimana PNS kayak abah bisa libur. Ah, dunia. Kami sampai Pujisera sekitar jam 6 lewat dikit. Dan aku, di detik – detik terakhir di Bontang ini, dengan menggila memakan satu porsi batagor, tiga tusuk sate, satu porsi kebab, dan setengan porsi pisang keju. Ah, nikmatnya dunia. Sampe aku muntah gara – gara kekenyangan. Hehehe.
Dan pas mo pulang masih sempet – sempetnya minta poto sama Deny di gerbang Mulawarman. Sampe ga sempat saliman ama si suami. Hehe. Sorry, but I love Mulawarman so much. Pengen banget suatu hari nanti bisa nonton langsung disanaaaaaa…
Dan aku pun kembali ke Loa Janan tercinta……………………………….
NOW…
Aku minta doanya supaya bisa lulus dengan nilai yang bagus karena pengumumannya ternyata dipercepat jadi tanggal 19 nanti. Ahhhh… aku udah ga sabar aja. Dan tambah ga sabar lagi hari pendaftaran ke SMA. Doain aku bisa nembus SMANSA atau SMAPAN ya. Kemarin denger cerita Icha yang udah mulai aktif sekolah di SMK Kesehatan. Agggghhh.. bikin ngiler aja tuh anak. Tapi beneran ya doain aku? Doain juga aku bisa masuk IPA nanti. Doain aku dapat uang terus biar bisa lanjutin TUR KALIMANTAN. Bisa kuliah. Bisa cobain clubbing. Bisa cepat punya cowo. Bisa naik haji. Bisa nonton MU langsung di Old Trafford. Dan sekali lagi bisa masuk SMANSA atau SMAPAN!!!
Ps, kemarin curhat sama Jo (temen fesbuk) kalo lagi ada di Bontang, dia bilang must visit di Bontang entu Bontang Kuala, Singapur, PKT. Aku udah seneng aja karena semua udah aku datangin. Tapi ternyata, habis ngobrol sama Bang (mama’s youngest sister), aku baru tau kalo ada pantai asik (Pantai Marina kalo ga salah) dan pulau tenang di Bontang (lupa nama pulaunya). Akhhh,, pantai sih biasa, tapi dengar pulau, telingaku berdiri. Well Bontang, I’ll be back later!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Akhirnyaaaaaaaaaaa… setelah liburan panjang yang membosankan itu kuhabiskan di rumah sajah,, aku akhirnya melanglang buana, memulai tur Kalimantanku yang insya Allah akan kulanjutkan hingga nanti aku menginjak Berau, Sengatta atau mungkin Sebatik??? Amin amin. Tapi itu kayaknya masih lama banget kejadian. Walaupun aku bakal mati – matian berjuang. Hehehe. Thanks Mbak T, you are my inspiration.
Anyway, back to our main topic, kemarin aku jalan yang dekat – dekat aja duluh. Tenggarong dan Bontang. Ya, I know… dua kota itu SANGAT DEKAT. Ga sesuai banget dengan judulnya, ‘TUR KALIMANTAN’. Gusti,,,,, kapan ya? Aku bisa nembus pedalaman Borneo gitu dan promosiin sama orang – orang kalo Kalimantan itu indahhhhh banget!! Dan ya, it is. Di Bontang ama Tenggarong aja aku udah ternganga - nganga. Gimana kalo ke Derawan?? Yah, mimisan lagi deh, bayangin Berau ;)
Day 1
Pagiku yang indah dirusak oleh gedoran mama. Uggggghhhh.. Baru juga jam 9! Akhirnya (dengan terpaksa) aku keluar, mandi, dan pakai baju. Aku tau banget kalo mama bangunin jam segini pas liburan pasti ada yang penting. Dan ya, ternyata rumah aku kedatangan tamu, keluargaku yang tinggal di Bontang. Well, setelah dandan – dandan ga jelas, aku akhirnya keluar dan nyapa tamu aku. Tiga orang aja. Suami istri sama anaknya yang baru umur 3 tahun. Aku yang awalnya masi bete (dan ngantuk) pun berubah jadi excited karena ditawarin jalan ke Tenggarong. Kebetulan keluarga aku itu baru pindahan dari Banjar, dan belum pernah ke Tenggarong. Jadi ya,,,, sok atuh. Aku akhirnya jalan sama mereka plus dua acil aku dan tiga sepupu aku yang masih kecil.
Berhubung aku udah sering ke Tenggarong (karena kerjaan abah), aku pun sok – sok jadi guide gitu. Hehehe. Gaya deh gaya, yang penting eksis! Tapi berhubung udah kena virus T, aku pun mulai merubah kebiasaanku waktu jalan – jalan. Lebih banyak moto ketimbang dipoto, ga belanja – belanja ngasal, mencoba makan apa aja, mencoba ngobrol dengan penduduk lokal dan yang paling penting, lebih banyak melihat. Being the real traveler is the best thing in the world anyway. Tenggarong yang awalnya biasa aja pun terasa berbeda liburan kali ini.
Jadi waktu itu kami jalan – jalan ke Museum (entah kenapa kalo bawa keluarga pasti kesini, tapi tempatnya emang asik sih, historikal banget), Pulau Kumala (yang panas, tapi juga seru buat dipotoin, sayang ga mampir ke Laminnya , anyway buat yang ga tau, Lamin itu rumah adat dayak), mutar lewat Samarinda dan akhirnya lewatin Jembatan Mahulu (Mahakam Hulu) yang baru dibuka untuk umum. It was first time for me!! And Mahulu was so cool sore itu. Huhuh. Kami pun sampai di Loa Janan, tepatnya di rumah sepupu aku, Nanda, karena disana lagi ada arisan keluarga. Turun. Ditawarin makan, tapi aku tolak karena udah kenyang ngecengin temen – temennya Nanda (anak - anak SMK 7). Hehehehe.
Dan waktu keluarga aku itu mo pulang, tiba – tiba aku dapat durian runtuh. AKU DITAWARIN KE BONTANG!!!!!! Yeeeee! Tapi awalnya aku ragu sih, males aja kalo musti sendirian kesana nebeng ama keluarga yang udah lama ga ketemu. Bakal garing abis kan? Tapi ssstttt, nenekku bersedia menemani. Dan berangkatlah kami, seorang nenek dengan cucunya yang cantik jelita plus keluarga malang yang kami tebeng, jam 7 malam tepat hari itu juga.
Jam 10 kami akhirnya nyampe. Setelah ngobrol terus sepanjang perjalanan, aku akhirnya cuma bengong pas ngeliat langit Bontang. Oren eksotis.
Dan biasa, karena jetlag (loh?), aku pun baru bisa tidur jam 11. Trus bangun lagi jam 2. Tidur lagi.
Day 2
Aku pun baru beneran bangun pas jam 5. Santai – santai sarapan. Trus baru jam 8 aku mandi. Asleeeeeeee deh.. tempat tinggal keluargaku yang disini pewe abis. Pas pagi – pagi gituh, udah banyak aja orang – orang yang jualan jajanan. Tiap rumah tempat sampahnya satu. Dan sehari dua kali ada petugas yang ngambilin itu sampah. Emang mantap deh Perumahan Badak NGL Hop 2 entu.. Tapi ya selain pewe, kompleksnya juga sepi banget. Aku ulangin ya, sepiiiiiiiiiiii banget! Dan gara – gara kata sial*n itu, nenek aku minta dijemput BESOK! Halah, belon kemana – mana juga.
Ya, sesiangan itu kita emang ga ada kemana – mana. Karena satu, si suami kerja, jadi mobilnya dipakai, dan ga ada kendaraan buat kita untuk jalan – jalan. Taksi?? You wish! Taksi di Bontang itu kayak cewe berjilbab di Amerika. Susaaaaaaah carinya! Alasan kedua karena kata sang istri, “Bontang emang ga asyik kalo siang gini. Sepi. Nanti aja kalo malam kita jalan.” Aku pengen bilang, “Masa sih?????” tapi ga jadi soalnya aku aku gelap soal Bontang. Aku cuma pernah kesini satu kali, itupun udah lamaaaaaa banget.
Well okay, akupun menunggu dengan sabarnya hingga jam menunjukkan jam lima sore teng. Dan kami memulai perjalanan untuk menjamah Bontang. Tujuan pertama adalah Bontang Kuala. Tempatnya masuk sekitar 1 km sampai ke pusatnya yang berupa anjungan yang menghadap laut dan penuh gerai minuman. Masuknya bisa jalan kaki atau naik motor dengan jalan kayu yang kalau dilewatin motor bunyinya ‘gluduk – gluduk’.
Dingin, bisa liat langit Bontang (my fave thing in Bontang) dengan sangat bebas, banyak gerai minuman murah dan memberikan kesempatan buat aku untuk jalan kaki. Nilai tempat ini 6,5. Karena walaupun pewe, kayaknya terlalu standar aja, kayak Pantai Loa Sari jaman dulu. Mungkin saran buat pemerintah Bontang sih, ada baiknya dibikin penyewaan perahu dayung tradisional, kan seru tuh???? Iya ga???
Anyhow, keluarga aku yang di Bontang ini baiiiiiik sekali, aku diajak ke Kafe Kapal yang jauh dari pusat Bontang Kuala. Naik motor, aku bonceng tiga sama si suami dan si istri sedangkan si anak dan nenekku tinggal di mobil. Yihaaaaaa.. Jalanannya itu banyaaaaak banget polisi tidurnya. Dan aku bilangin aja ya, si suami itu adalah a real crazy driver. Jadi bayangin aja deh kalo jadi aku….
Tapi basically aku ga nyesal ko ke Bontang Kuala.
Target kedua adalah Kompleks PKT. Kita keliling mulai dari pabriknya (yang kalo dilihat dari atas, kayak ngeliat GP F1 yang malam itu loh di Singapura, gemerlap lampu – lampu gitu), trus hotelnya (Bukit Sintuk namanya), perumahan bulenya (cuma liat dari luar aja sih) dan terakhir, pujiseranya. Well, pujisera itu kayak food court tapi outdoor. Aiiiiiihhhhh.. pujiseranya mantap abissss. Pujisera perumahan Badak banci banget deh kalo dibandingin dengan yang punya PKT. Dan tau ga apa lagi yang buat aku berdecak kagum, ternyata, dari pujisera itu, lewat bawah tanah, ada pintu masuk menuju Stadion Mulawarman!!!!!!!! Iya, Markasnya Bontang PKT. Huuuuhh.. enak banget ga sih? Abis nonton bola, langsung makan – makan di tempat pewe yang makanannya beragam dan enak – enak banget itu?? Coba di Palaran? Boro – boro…….
Disitu juga readers, for the first time, aku nyoba yang namanya DIMSUM. Makanan yang SUSAH BANGET DITEMUKAN DI LOA JANAN ini, dengan mesumnya aku foto sebelum aku ambil keperawanannya. Hehe. Maaf kalo terdengar katro, tapi emang dimsum SUSAH BANGET DITEMUKAN DI LOA JANAN.
Untuk kompleks PKT, aku kasi nilai 9. Puaaaaas banget aja mata aku ngeliatin kehidupan orang burjo. Mungkin gara – gara diciptakan Tuhan terlalu cantik kali ya? *ga nyambung*
Terakhir, kita ke Loktuan. Ngeliat pelabuhan baru yang belum jadi. Bangunannya unik deh. Kayak masjid gitu.
Day 3
Aku bangun jam 7. Hahaha. Karena udah ga jetlag dan emang capek banget semalaman jalan mulu. Mandi jam 9. Trus males – malesan lagi deh. Karena Bontang, terutama di Perumahan Badak, emang ga seru banget kalo siang gini. Tapi untungnya, jemputan aku dari Loa Janan (mama, abah, and my brothers, deny dan dana) sampe juga jam 11. Alhamdulillah. Karena udah ada mobil, kami pun akhirnya bisa jalan – jalan. Mutar situ – situ aja si, karena abahku juga ga tau jalan. Kita ke kantor Walikota trus liat sekolah – sekolah di Bontang. Karena jujur dulu sempat niat mau sekolah disana. Sayang banget ga jadi.
Sorenya, jam 5, kami mulai jalan yang beneran dengan ditemanin si suami. Ke Singapur. Iya, naik pesawat dari Bontang ke Singapur.
Hehe. Kidding. Itu mah cuma Singapur gadungan. Merlion bohongan. Tapi lucu juga. Buat seru – seruan. Hehehe. Ga rugi juga, walau sebentar disitu, aku dapat sunset Bontang. Dan nilai dari Singapur 6,5.
Next, kita ke PKT dan ember, pabrik PKT yang waktu malam keren banget mah sangat biasa aja pas ga pake lampu. So kita pun cepat – cepat ngabur ke Pujisera karena musti ngejar waktu karena kami harus pulang hari itu juga karena abah aku besok harus kerja karena besok hari Rabu dan karena hari Rabu bukan weekend dimana PNS kayak abah bisa libur. Ah, dunia. Kami sampai Pujisera sekitar jam 6 lewat dikit. Dan aku, di detik – detik terakhir di Bontang ini, dengan menggila memakan satu porsi batagor, tiga tusuk sate, satu porsi kebab, dan setengan porsi pisang keju. Ah, nikmatnya dunia. Sampe aku muntah gara – gara kekenyangan. Hehehe.
Dan pas mo pulang masih sempet – sempetnya minta poto sama Deny di gerbang Mulawarman. Sampe ga sempat saliman ama si suami. Hehe. Sorry, but I love Mulawarman so much. Pengen banget suatu hari nanti bisa nonton langsung disanaaaaaa…
Dan aku pun kembali ke Loa Janan tercinta……………………………….
NOW…
Aku minta doanya supaya bisa lulus dengan nilai yang bagus karena pengumumannya ternyata dipercepat jadi tanggal 19 nanti. Ahhhh… aku udah ga sabar aja. Dan tambah ga sabar lagi hari pendaftaran ke SMA. Doain aku bisa nembus SMANSA atau SMAPAN ya. Kemarin denger cerita Icha yang udah mulai aktif sekolah di SMK Kesehatan. Agggghhh.. bikin ngiler aja tuh anak. Tapi beneran ya doain aku? Doain juga aku bisa masuk IPA nanti. Doain aku dapat uang terus biar bisa lanjutin TUR KALIMANTAN. Bisa kuliah. Bisa cobain clubbing. Bisa cepat punya cowo. Bisa naik haji. Bisa nonton MU langsung di Old Trafford. Dan sekali lagi bisa masuk SMANSA atau SMAPAN!!!
Ps, kemarin curhat sama Jo (temen fesbuk) kalo lagi ada di Bontang, dia bilang must visit di Bontang entu Bontang Kuala, Singapur, PKT. Aku udah seneng aja karena semua udah aku datangin. Tapi ternyata, habis ngobrol sama Bang (mama’s youngest sister), aku baru tau kalo ada pantai asik (Pantai Marina kalo ga salah) dan pulau tenang di Bontang (lupa nama pulaunya). Akhhh,, pantai sih biasa, tapi dengar pulau, telingaku berdiri. Well Bontang, I’ll be back later!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kamis, 09 Juli 2009
Beberapa hari yang lalu mama aku ulang tahun. Tepatnya tanggal 29 Juni. Silly me, karena hari itu bertepatan dengan hari pendaftaran PSB dan aku masih agak linglung soal Smansa, aku lupa. Tapi ya,, untung sorenya aku udah ingat. Dan seperti biasa, ritual di keluarga aku, kalo ada anggotanya yang ultah, kami bakal jalan bareng ke Samarinda.
Well, soal mamaku sendiri sih,, mungkin ada jutaan kata yang bisa menggambarkan beliau yang keluar dari mulutku. Entah itu baik atau buruk. Serius deh, 14 tahun aku jadi anaknya, aku telah belajar untuk menerima kalo mamaku sendiri manusia biasa yang ga sempurna. Dan aku berusaha menerima dan mencintai semua aspek dalam dirinya. Walau terkadang jujur aku ga berhasil . Tapi aku tau mamaku adalah perempuan yang sangat kuat.
Lahir di tengah keluarga miskin, dulu rasanya seperti mimpi, mamaku bisa sesukses sekarang. Ya aku ga bisa aja bayangkan gimana perasaan mamaku waktu ga bisa nerusin sekolah pas lulus SMP. Toh aku yang masuk SMP 15 aja masih sempetnya nangis – nangis ngumpat. Dan pengalaman hidup mamaku yang kelam itu juga yang membuat aku bisa lebih tabah kalo dapat cobaan. Karena aku percaya ga ada yang ga bisa diselesaikan di bawah langit ini. Ya kan, readers??? Hehehe.
Anywayyyy.. walaupun mamaku cuma S2 (Sd & Smp), tapi mamaku orang yang cerdas loo.. buktinya mamaku berhasil ngembangin bisnis toko kelontong dari aku masih kecil kaya upil sampai gedenya ngalahin gajah sekarang. Hehe. Mamaku selalu bilang ‘pengalaman adalah pendidikan yang paling berguna’. Setuju. Tapi bukan berarti mamaku bisa ngalangin aku untuk dapat pendidikan setinggi – tingginya, just like usual you do ya ma..?? Nobody’s perfect, mama aku juga bisa jadi silly parah. Buktinya percakapan tolol menjelang pemilu kemarin..
Wu’ (ade mama no. 1) : Om Herman (suaminya) milih golput aja loh pemilu nanti..
Bang (ade mama no. 2) : Iya. Iya. Om Hendra (suaminya) juga tuh.. Golput.
Mamaku : (dengan tampang lempeng.com) Wah.. banyak banget yang golput! Di TV juga banyak beritanya. Parpol baru apa sih? Ko laku banget sekali masuk??
Aku dan Deny : …………………………………………………(NGAKAK)
Well, soal mamaku sendiri sih,, mungkin ada jutaan kata yang bisa menggambarkan beliau yang keluar dari mulutku. Entah itu baik atau buruk. Serius deh, 14 tahun aku jadi anaknya, aku telah belajar untuk menerima kalo mamaku sendiri manusia biasa yang ga sempurna. Dan aku berusaha menerima dan mencintai semua aspek dalam dirinya. Walau terkadang jujur aku ga berhasil . Tapi aku tau mamaku adalah perempuan yang sangat kuat.
Lahir di tengah keluarga miskin, dulu rasanya seperti mimpi, mamaku bisa sesukses sekarang. Ya aku ga bisa aja bayangkan gimana perasaan mamaku waktu ga bisa nerusin sekolah pas lulus SMP. Toh aku yang masuk SMP 15 aja masih sempetnya nangis – nangis ngumpat. Dan pengalaman hidup mamaku yang kelam itu juga yang membuat aku bisa lebih tabah kalo dapat cobaan. Karena aku percaya ga ada yang ga bisa diselesaikan di bawah langit ini. Ya kan, readers??? Hehehe.
Anywayyyy.. walaupun mamaku cuma S2 (Sd & Smp), tapi mamaku orang yang cerdas loo.. buktinya mamaku berhasil ngembangin bisnis toko kelontong dari aku masih kecil kaya upil sampai gedenya ngalahin gajah sekarang. Hehe. Mamaku selalu bilang ‘pengalaman adalah pendidikan yang paling berguna’. Setuju. Tapi bukan berarti mamaku bisa ngalangin aku untuk dapat pendidikan setinggi – tingginya, just like usual you do ya ma..?? Nobody’s perfect, mama aku juga bisa jadi silly parah. Buktinya percakapan tolol menjelang pemilu kemarin..
Wu’ (ade mama no. 1) : Om Herman (suaminya) milih golput aja loh pemilu nanti..
Bang (ade mama no. 2) : Iya. Iya. Om Hendra (suaminya) juga tuh.. Golput.
Mamaku : (dengan tampang lempeng.com) Wah.. banyak banget yang golput! Di TV juga banyak beritanya. Parpol baru apa sih? Ko laku banget sekali masuk??
Aku dan Deny : …………………………………………………(NGAKAK)
Langganan:
Postingan (Atom)