Jadi tadi malam aku nonton Laut Bercerita. Film Laut Bercerita adalah film panjang yang diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karya Leila S. Chudori. Film dengan genre fiksi sejarah ini menceritakan perjalanan hidup karakter utama bernama Biru Laut, mulai dari awal mula keterlibatannya sebagai aktivis saat masih menjadi Mahasiswa, hingga detik-detik saat perjuangannya menegakkan demokrasi mencapai titik nadir di tahun 1998.
Sebagai self-proclaimed book lover, tentu aku sudah membaca
buku fenomenal itu. Sudah cukup lama bahkan, dan aku pun udah lupa sebagian besar isinya. Yang aku ingat betul, buku ini satu dari sedikit buku yang bisa membuat aku menangis, dan itu
udah cukup buat aku menandai bahwa buku ini spesial dan bagus. Meski di kemudian hari aku mendapati banyak sekali fakta sejarah yang menyanggah kualitas ataupun mempertanyakan intensi dari buku ini, aku tidak bisa menampik bahwa saat membaca, hati aku dibuat tersentuh dan muncul empati untuk setiap karakternya. Sampai sekarang, aku pun tetap yakin kalau membaca
buku ini bisa menjadi salah satu gerbang pembuka buat siapa saja yang mau
diingatkan kembali tentang sejarah Indonesia. Gerbang pembuka ya, bukan satu fakta
bulat yang bisa ditelan mentah-mentah, toh karena ini kan fiksi juga :)
Aku nonton berdua dengan seorang teman yang bukan pembaca
bukunya. Seorang teman yang beberapa kali pandangan politiknya berseberangan
dengan aku. Kenapa masih temenan? Karena aku merasa both of us don't have ill
intention, emang beda cara approach aja buat menjaga Indonesia. Beda sama orang
yang udah tau program Presiden jelek (sampai ada yang meninggal!), tapi tetap dukung
karena punya kepentingan pribadi di situ. Nah, sama orang-orang itu aku ga mau
temenan. Anyway, pada malam itu, bahkan saat filmnya belum selesai, kita curi-curi
waktu untuk bisik-bisik diskusi. Betapa yang disajikan di layar sangat
menyesakkan (shoutout untuk efek sound design di satu adegan di rumah susun!),
betapa beberapa hal terasa sangat dekat dengan keadaan saat ini.
Sampai akhirnya layar gelap dan lampu studio kembali menyala, film
ini terbukti merupakan adaptasi yang setia pada bukunya. Film ini berperan sebagai gambaran dari kehidupan Biru Laut, satu dari sekian banyak aktivis pada masa itu. Satu
dari sekian banyak rakyat sipil yang disia-siakan oleh Negara. Film ini menyajikan satu fragmen kehidupan,
tanpa penjelasan lebih lanjut soal kejahatan yang ditampilkan (yang harusnya bisa
disimpulkan sebagai kejahatan sistemik ya, akan aku jelaskan lebih lanjut di tulisan ini). Aku bisa memahami kenapa Leila sebagai penulis buku
maupun Leila dan Yosep Anggi Noen sebagai penulis skenario memilih jalur
penceritaan seperti itu, sangat realistis untuk sebuah karya seni yang punya
keterbatasan dimensi dan durasi (me trying to be positive here :)).
Toh, menurut aku, walau cuma berupa fragmen, baik buku maupun
filmnya sukses memantik diskursus. Semoga ya. Setidaknya itu yang terjadi
antara aku dan temanku :)
Karena menonton film ini, kami berdiskusi dan berefleksi tentang apa
yang salah dan tidak boleh dinormalisasi dari kehidupan bernegara sekarang.
Buat aku, kesadaran itu aja udah mahal loh. Coba deh, ngobrol sama orang di
luar circle kalian, buat tahu sesuatu ga normal aja tuh kadang mereka tidak bisa T_T Aku pun merasa aku butuh waktu tahunan untuk itu, sekarang juga masih
belajar T_T Padahal tanpa kesadaran, kita gak akan tahu apakah yang kita
dapatkan itu sudah yang sepantasnya. Tanpa kesadaran, kita gak akan tahu kita
harus bergerak dan berubah. Padahal Allah saja tidak akan mengubah nasib suatu
kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.
Tapi di balik pujian aku tentang keberhasilan filmnya untuk
memantik diskusi, aku tetap harus kasih kritik soal pilihan penceritaan ini ya,
karena jujur buat aku menggelisahkan banget. Menurutku, pilihan penceritaan
ini membuat filmnya luput menyoroti bahwa kejahatan yang ditampilkan di film
ini adalah kejahatan sistemik. Sosok antagonis digambarkan secara eksplisit dan berlapis lewat gerombolan penculik sebagai tim eksekutor serta atasan langsung mereka yang hanya muncul di akhir film. Main keroyokan, ringan tangan, bodoh,
berkata kasar, semua kelakuan setan diborong oleh para antagonis ini (shoutout untuk cara
Anggi Noen sebagai Sutradara menggambarkan itu semua! Sangat halus tapi juga sangat nyata dan
bikin traumatik!). Tidak cukup sampai di situ, dihadirkan pula sosok antagonis
lain dalam balutan plot twist (gonna be the talk of the town because we all know
Indonesian moviegoers love plot twist!). Kurang berlapis apa itu kan, sampai
ada tiga! Tiga dan hanya berhenti sampai di sana, tidak ada satu adegan pun
yang menjelaskan secara eksplisit dari mana ide untuk menjegal Biru Laut dkk
ini berasal.
Satu fakta itu membuat aku ga bisa hanya sekadar menonton dan membaca film ini dalam hati. Aku memutuskan untuk menulis review ini untuk menyuarakan kritikan aku. Aku tahu maker tidak punya tanggung jawab atas pembacaan penonton terhadap karya mereka. Aku tahu bukan hakku untuk menghakimi kedalaman pembacaan penonton lain. Tapi aku berharap ketika kita semua keluar dari bioskop, kebencian kita tidak berhenti pada sosok eksekutor. Bagaimanapun juga, melakukan penculikan terhadap beberapa orang tuh pasti bukan modal benci dan jahat dari para eksekutor aja. Pasti ada sosok tak kasatmata yang tidak pernah dibicarakan, yang sayang sekali, lampu sorot dari film ini tidak pernah cukup tinggi untuk menyasar orang-orang itu. Aku harap semua yang menonton film ini tidak hanya menonton, terkesima dengan plot twist, marah dengan tim eksekutor, dan berhenti sampai di sana. Tapi dengan menonton film ini, semoga kita diberi kesadaran bahwa kasus Biru Laut dan Andrie Yunus punya benang merah yang sama.
To be fair, aku sadar bisa jadi pembacaan aku di paragraf
sebelum ini juga salah. Bisa jadi intensi pembuat film ini tidak segitu
dangkalnya karena toh, di beberapa bagian ada kok sosok nomor satu saat itu, yaitu Presiden Soeharto ditampilkan (meski semuanya out of context). Bisa jadi
kejahatan sistemik itu ya memang mau digambarkan sesubtil itu. Jadi intensinya
bisa aja tetap baik, tapi aku tetap harus mengutarakan kritik aku ini ya:
sebaik apa pun itu intensinya untuk menjelaskan kejahatan sistemik (kalaupun
ada), yang tersampaikan ke audiens rasanya tipis sekali.
Aku sudah bilang sebelumnya kalau semua perilaku setan diborong oleh para eksekutor kan? Hal itu membuat aku menghabiskan waktu semalaman setelah menonton dengan berpikir, "pekerjaan macam apa sih yang bisa buat orang punya mentalitas gapapa nyakitin orang lain?" Oke, justifikasinya, mereka disuruh oleh atasan, mereka digaji untuk itu, tapi apa mereka tidak berpikir bahwa apa yang mereka lakukan itu jahat? Ngomong-ngomong, menyakiti di sini tidak hanya dalam bentuk fisik ya, tapi memeras itu juga menyakiti. Meminta yang bukan haknya itu juga menyakiti. Berkata kasar itu juga menyakiti.
Sungguh tidak terbayang sistem dan pucuk pimpinan seperti apa
yang bisa melahirkan pekerja-pekerja dengan mentalitas seperti itu (ikan busuk dari kepalanya, bukan?). Dan tidak terbayang juga apa yang diharapkan ketika memutuskan untuk memilih Pemimpin dengan mentalitas seperti itu. Mungkin ada kaum 58% yang mau mewakili untuk menjawab?
Catatan tambahan:
Aku punya beberapa kritik tambahan untuk film ini, yaitu:
1. Wig karakter Ibu Biru Laut jelek
2. Karakter Kinan miscast. Setiap kehadirannya membuat aku ga nyaman karena latar belakangnya di dunia nyata. Kalau mau berargumen demi kesinambungan dengan film pendeknya, toh di film pendek dia memerankan Anjani, bukan Kinan. Kalau mau berargumen dia punya kemampuan, aku gak setuju karena menurutku perannya easily replaceable sama aktor lain. Curiga ga pakai casting kali ya. Padahal ini peran krusial yang screentimenya banyak loh, sayang aja jadinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
NO SPAM PLEASE T_T