Sabtu, 31 Januari 2009

Loa Janan & Manchester United (MU)

Apa hubungannya Loa Janan dan MU? Nanti teman, nanti akan kujelaskan padamu.

Sekarang aku akan bercerita dulu tentang Loa Janan, tempat segala sesuatu dalam diriku bermulai.

Seperti yang kutulis di profilku teman, aku tuh tinggal di sebuah tempat bernama Loa Janan.

Terdengar asing???

Ya, mungkin ada teman – teman yang tidak tau apa – apa tentang Loa Janan. Ya, Loa Janan cuma sekedar daerah kecil yang pemerintahannya terbagi antara Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kertanegara (Kukar). Seterpencil apakah tempat tinggalku itu?? Ya, jelas tidak kecil – kecil amat. Tapi dengan tinggal disini, banyak sekali hal besar dalam hidupku yang harus hilang dari aku. Hal yang bagi aku amat sangat penting.

Tinggal di Loa Janan sebenarnya tidak jelek – jelek amat. Jarak dari rumahku disini ke Samarinda cuma belasan kilo dan kalo ke Balikpapan gak lebih dari dua jam aja. Intinya, dua kota besar itu cukup dekat dengan aku. Dan ya, aku sering kesana untuk menikmati kehidupan kota besar.

Di Loa Janan, perbedaan menjadi keindahan. Loa Janan itu unik, unik sekali. Segala budaya ada disini. Segala adat istiadat ada disini. Kutai, dayak, banjar, bugis, jawa, sunda, madura, bali, bima. Sebutkan semua suku di Indonesia. You say it, Loa Janan have it. Dan perang antar suku? Empat belas tahun aku hidup disini, barhttp://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=7791480796309051477&postID=4433590974640773126u satu kali aku mengalaminya!

Tapi Loa Janan juga punya kejelekan, selain kemampuan ajaibnya membuat semua mimpi aku terkubur dengan konyolnya. Segalanya, segalanya di Loa Janan akan selalu menjadi setengah – tengah. Sebenarnya aku ingin mengganti kata ‘Loa Janan’ diatas dengan ‘Kaltim’, tapi aku takut akan kehilangan konteks.

Program – program pemerintahnya, peraturan – peraturan sekolahnya, dan tingkah polahnya penduduknya tak pernah ada yang berujung pasti. Semuanya cuma sekedar wacana. Orang yang bisa menyeimbangkan rencana dan eksekusi di Loa Janan seperti orang muslim di Eropa. Ada, tapi sedikit.

Well, the point of this postingan is aku cuma pengen curhat betapa betenya aku tinggal di Loa Janan. Domisili disini telah menghancurkan harapan aku untuk :

1. Masuk sekolah. Apakah tidak ada sekolah di Loa Janan? Tentu saja ada SMP di Loa Janan yang akan menerimaku. Tapi yang aku maksud disini adalah sekolah yang bisa membuat siswanya merasa bangga. Dan cuma dua SMP yang membuat aku bangga berada di dalamnya. SMPN 1 Samarinda dan SMP Plus Samarinda. Dari nilai, tentu saja aku bisa masuk dua SMP itu. Aku siap diadu untuk itu. Tapi aku tak bisa kesana. Bukan karena aku gak mampu. Tapi karena SMPN 1 Samarinda itu jauh di Kota Samarinda. Sedangkan SMP Plus, walau lebih dekat, tetap tidak ada yang bisa mengantar karena abahku sibuk. Sedang peraturan di sekolah itu tidak membenarkan siswanya membawa motor ke sekolah.

2. Naik motor. Apa hubungannya tinggal di Loa Janan dengan sepeda motor? Apa karena tidak ada taksi disini, hingga harus bisa naik motor? Hahaha. Kalo yang teman pikirkan seperti itu, benar – benar salah. Kurang lebih seperti yang diatas, aku masih meneruskan obsesiku untuk sekolah di SMA yang bisa membuatku bangga pada diri sendiri. Oh, tentu teman, sekolah itu tentu berada (lagi – lagi) di Samarinda. Dan aku HARUS bisa naik motor untuk itu. Dan aku pun belajar naik motor. Jatuh. Dan selalu berusaha bangkit untuk menggapai impian.

3. Terkucil. Maaf ya, buat teman yang mungkin tersinggung. Aku gak bermaksud membandingkan, tapi aku mau tanya sama teman, pernah gak dengar Samarinda atau Kaltim diungkit – ungkit di berita nasional? Aku yakin selain PON 2008, Samarinda, Kaltim dan apalagi Loa Janan are nothing buat orang – orang pusat disana. Padahal hei, kami disini sangat produktif! Kami penghasil minyak, batu bara, gas alam!! Tapi tempat kami masih sering mati lampu,,,, kenapa? Karena batu bara itu dibawa ke negeri antah berantah, menjauh dari habitatnya. Kami berkorban hutan, tapi apa yang kami dapat? Nothing! Aku tau mungkin salah kami, yang sama sekali tidak kritis akan diri sendiri. Tapi jauh dalam hati, kami ingin perhatian, penghargaan atau apa sajalah yang membuat kami bangga dari pemerintah. Kami berkorban segalanya untuk negeri ini. Percayalah, teman! Dan emang Kaltim kurang punya ciri khas kalo dibandingkan daerah lain seperti Kalsel atau Sulsel. Kaltim penuh sesak dengan orang – orang dari berbagai penjuru Indonesia. Tapi itu yang membuat Kaltim istimewa, setidaknya di mataku. Kami hanya ingin pengakuan untuk Kaltim. Karena Kaltim berarti juga termasuk Loa Janan dan aku.

Cuma itu? Hahaha. Tidak teman, ada satu luka lagi yang akan meledak dalam enam bulan ke depan. Luka yang berusaha aku tutupi hingga saat ini. Tapi aku tau luka itu ibarat bom waktu. Dan dia akan meledak, tepat pada tanggal 24 Juli 2009 nanti.

Ya, tepat tanggal itu MU akan bertandang ke Indonesia, tepatnya Jakarta. Klub favoritku, tempat sampah stresku, penyebab senyumku, idola – idolaku akan bertandang ke negeriku. Tapi mereka kemana tadi? Jakarta? Tempat yang berjarak ribuan kilometer dari tempat aku menulis postingan ini, dari Loa Janan ini.

Dan apa karena kenyataan itu aku harus merelakan mimpi – mimpi yang tiap malam menyerang aku? Mimpi – mimpi yang mempertemukan aku dengan mereka. Aku tidak bisa. Maka aku menabung. Aku harap uang tabungan aku bisa membiayai aku menuju Senayan nanti. Aku bermimpi lagi. Tapi kali ini diiringi dengan usaha.

Dan bila mimpi itu hancur, apakah aku akan ikut hancur?

Ya, tunggu saja teman, apakah bom waktu itu akan meledak atau berhasil aku jinakkan dengan gagahnya?!

Yang jelas, I’ll work to it and you’ll wait to it.

Tetap semangat!!!

Karena kita teman, tidak akan pernah mendahului mimpi!

Hidup Arai!!!

Hahahahahahaha…

Dan begitulah hubungan antara Loa Janan dan MU, teman. Tarik menarik mempermainkan emosiku. Dari kecewa, sedih, marah, putus asa dan diam – diam senang. Kecewa, karena aku pengen ketemu MU tapi gak bisa. Sedih karena momen ini udah kutunggu dua tahun, sejak aku suka MU, tapi pada saat itu datang, aku malah gak bisa melakukan apa – apa. Marah, karena aku gak tau mau marah sama sapa. MU wajar banget lah kalo ke Jakarta, secara Jakarta juga ibu kota negara. Aku tau itu. Putus asa kadang – kadang, kalo merasa semua usaha aku kemungkinan berhasilnya gak lebih dari 20%. Diam – diam senang, ya, aku gak bisa menyembunyikan rasa senang aku karena MU kesini itu dream comes true banget. MU dua tahun gembar – gembor mo balik lagi ke Malaysia tanpa nyinggung – nyinggung tetangganya. Tapi, MU is coming to here, in six months from now!!

Teman, I just can’t believe this. Dan aku juga gak percaya, aku berjuang sekeras ini untuk MU.

Teman, doakan aku ya?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar