Minggu, 31 Januari 2016

My OCD Habit

Saatnya kembali ke rutinitas yang membuat otak bekerja secara rutin ini, Fradita Wanda Sari. Menyarikan dari kata kata Hendra, my friend, santai santai itu harus berjangka jangan keterusan. Haha. It's been a great 2 months, many subjects to be learned, many new friends in the process, new places and new foods to try. Sekarang aku mau fokus untuk mengembalikan kualitas hidup. Menerapkan pola pikir dan rutinitas yang, hopefully, akan membuat aku memiliki takdir yang lebih menyenangkan lagi. Apa aja kah itu? Ntar kapan kapan aku bahas di satu pos sendiri ya. Sekarang mari fokus ke challenge mingguan ini aja lagi :D

***

I don't think I actually have one, until recently I found out about this tweet. I forgot who tweet-ed it, but it's about how he (I'm so sure it's a he!) will never get interested with a girl who typed wrongly, and by wrongly, he meant the girls who write without using proper grammar.

And it just hit me so hard. It's soooo me. I'm also easily annoyed when someone writes / texts not according to basic EYD, you know, the use of intersection, the difference between 'di mana' and 'dimana' (especially in Bahasa, our own mother languange, for crying out loud). I'm indeed a grammar nazi, in a silent manner though. Because I don't like to point out people's wrong doing directly, I usually just keep it by myself. Not to mention, I will also think of the person lowly, just because I can.

Thus, I won't fall for that person, no matter how handsome he could be.

So I guess that's my OCD Habit. What's yours?

Sabtu, 30 Januari 2016

The Importance of Watching Movies

One of the most common hobbies in the world nowadays is watching movie. It's a simple activity which we can do simply by ourselves or with a bunch of friends. We can enjoy a movie not only in cinema, but now also in our own house by downloading the movies either legally or illegally. Especially with the launching of Netflix, an application which we can stream our favorite movies anywhere and anytime as long as there is a stable and fast internet connection.

Other than being a simple and fun hobby, watching movie is also believed to be very important by some people. Because through movies, we can learn a lot of things ; things we never actually approach in real life. It's like, we can experience and get the life lesson for every kind of people.

For example, we can learn that bullying is a very serious matter through the movie 'Thread of Lies'. It's a South Korean movie which tell about the hardship of a young girl whom been bullied by her junior high school friends and not being treated in a nice manner by her family. Without being a bully nor a victim, we can embrace the sadness and hopefully realize that it's not okay to share our own pain by bullying someone.

The life lesson provided by a movie is only one of the reasons of its importance. Other reasons may include that watching movie can release people's stress, or it can help people to stimulate their brain. People have their own point of views regarding this hobby and how it can actually make an impact in our daily life. Thus, the degree of importance of watching movies is different for each individual.

***

Waktu di Pare kemaren, salah satu kelas yang aku ambil adalah Writing 2 di Global English. Kelas ini diajar oleh Mr. T dan materinya tentang menulis esai. It was a loooot of fun for me, karna aku diingatkan sekali lagi betapa aku cinta untuk menulis dan membaca (literally apa aja), dan melakukan aktivitas itu in English adalah sebuah tantangan baru yang menyenangkan. Walaupun aku sering bolos (maafkan ya Mr T_T) tapi beneran deh, aku jadi jauuuh lebih bahagia menulis, diberikan teori teori, diberikan task dengan tema tertentu dan yang paling penting, diberikan deadline. Bahkan pernah nih teman satu kelasku, Sella, bilang dengan yakin kalo aku emang suka banget nulis. Keliatan kali ya, ngerjakan task tapi muka malah bening bersinar haha. Anyway, tulisan di atas adalah satu dari tugas tugas yang kami dapat. Cuma mau disombongin di sini aja sih, soalnya gak bakal bisa juga dikirim ke mana mana karna terlalu singkat dan diksinya masih itu itu saja. See you tomorrow! :D

Minggu, 03 Januari 2016

My Embarassing Stories

I can tell tons and tons and it still won't cover all the silliness that's in my life.

Bahkan aku dulu pernah nge-tweet kalo dalam sehari pasti aku ngalamin satu dan/atau dua hal ini : kebodohan dan kesialan. Waktu kuliah juga udah jadi legenda deh di antara geng Purnama how dodol Dita can be.

Aku bakal ceritain dua di antaranya aja deh ya, yang paling diingat :P

#1 Nepok pantat orang yang dikira teman sendiri
Ini kejadiannya waktu SMP. Sudah lamaaa, tapi aku masih ingat banget detilnya haha. Jadi waktu itu aku lagi di kantin SMP dan mau ngejajan. Pada dasarnya, setiap kali istirahat kantin Libels itu pasti penuh kayak orang tawaf. Tapi somehow semuanya juga tertib antrinya membentuk satu garis lurus gitu. Jadi, pada saat itu, aku merasa ada temanku di depan dengan jarak 3 orang. Aku iseng aja jadi pengen nyapa tapi dengan nepokin pantatnya. Karna... temanku itu emang rada bahenol jadi pengen aja wkwk.

I still prefer guys to girls, ini asli cuma iseng :P

Jadi akhirnya aku tepoklah kan. Trus orang itu noleh. Eng ing eng, ternyata bukan temanku! Gak tau anak kelas berapa. For your information aja, total kelas di Libels pada waktu itu ada 20 lebih jadi gak hafal semua manusianya sih aku. Tapi karna aku orangnya lumayan sigap dan penuh dengan back up plan, aku langsung aja balik ke barisan dan sembunyi sambil liat liat jajan di samping. Pura pura gak tau. Kebetulan juga pas aku nepok itu gak ada yang sadar jadi gak ada saksi yang bisa memberatkan :P

Dan cerita itu tetap tersimpan di otak tanpa pernah kubagi maupun kulupakan :P

#2 The Q Mall tragedy
Ini waktu kuliah, masih fresh banget dan masih ampuh bikin senyum sendiri tiba tiba.

Jadi ceritanya aku lagi jalan jalan ke Q Mall sama Rahmi. Ceritanya menghilangkan kegundahan dari sakit kaki yang gak sembuh sembuh dan jadinya musti butuh bantuan dari mana mana (yang mana, bukan gue banget minta bantuan). Saat itu, keadaan kaki udah lumayan banget jadi aku nekat makai wedges UP ku yang 12 cm.

Merasa pede dan cantik banget sih, tapi itu cuma bertahan sampai pintu masuk mall. Karna baru aja melangkah ke dalam aku udah jatuh aja dong dong dong. Di depan satpam! Kebetulan Rahmi jalan di depan jadi dia gak liat. Tapi aku sempat tepelecok (ini bahasa Indonesia bukan ya?) heboh sampai si satpam itu langsung nyamperin. Aku, menjadi aku, cuma ketawa gaje dan bilang "gak papa" berkali kali. Trus langsung melesat nyusul Rahmi ke eskalator. Ketawa gak habis habis selama belasan menit.

Kemudian kita jalan jalan menyenangkan hati dengan photobox, main Timezone, ke Informa. Sampai tiba waktunya buat turun dan aku jadi parno dan gak enak hati. Yang kebayang di pikiran cuma gimana kalau nanti pas melangkah di eskalator aku kehilangan keseimbangan dan jatuh dan mati. Duh drama yaaaa. Akhirnya ngotot mau coba pakai lift aja. Sayang lift-nya pada waktu itu masih under construction *kemudian patah hati*

Beberapa kali bolak balik eskalator tapi rasa hati tetap gak enak. Balik masuk ke Informa buat nyari... sendal jepit. Gak penting banget ya haha. Gak kehabisan akal, aku mulai ngatur strategi gimanapun caranya gak mau turun eskalator pakai heels, karna pada saat itu aku tuh kebayang aku jadi pemeran utama di Final Destinasion gitu. Mau nekat nekatan nyeker sampai bawah juga gak punya nyali. Akhirnya setelah galau belasan menit, aku memutuskan akan nyeker aja turun ke lantai 2, dan kemudian beli sandal di Matahari.

And I did!

Bukti hikshiks. The whole drama pas mau nyeker dari lantai 3 ke lantai 2 ini direkam aja loh

Sabtu, 02 Januari 2016

My Biggest Fear

Jeng jeng jeng!!!

Kembali lagi ke challenge setelah minggu kemaren liburan dan sibuk macam macam. Liburannya sendiri hampir seminggu aja loh. Kediri-Malang-Solo-Kediri. Highlight-nya? Nemuin jalanan yang cantiiiik banget buat road trip yaitu Pare-Malang via Batu. Seriously, dari yang awalnya mau tidur aja karna udah ngantuk dibuai materi Structure TOEFL, sampai ujung ujungnya cuma pasang headset, nemplok di jendela dan senyum senyum sendiri. Pas banget lagi dapat mobil travel kece yang super nyaman dan aku duduk sendirian di belakang.

Life is good. Terimakasih ya Allah, setahun ini banyak sekali anugerah dan pelajaran. Dari lulus kuliah (tepat waktu yay!), jalan ke mana mana sendirian, sampai bisa ngumpul sama keluarga di akhir tahun. Di tahun 2015 juga cukup banyak dikasih waktu buat "istirahat" dan evaluasi hidup. Belum dikasih rejeki pekerjaan sih, tapi I'm looking forward to it by sharping myself each and every day. Semoga cepat dapat kabar baik ya di 2016 ini.

Oke sekian intermezzo-nya, kembali ke topik. Ketakutan terbesar aku adalah... hmmm. Dalem deh jadi tulisannya. Memikirkan topik ini sama aja mengorek luka luka dulu yang maunya aku lupakan aja. Tapi sehatnya jangan dilupakan juga ya, sesuram apapun pasti bisa jadi pelajaran akhirnya :P Ah elah habis melakukan kesalahan besar nih dalam hidup, jadi berubah bijak hahaha najis ah. Cerita kesalahan ini kapan kapan aja ya kalo mood. Pokoknya ini wajib jadi kesalahan terakhir sebagai produk helicopter parents!

Talking about my biggest fear, I think it'd be 'people exposing my insecurity'. Jangan heran pas kejadian ini aku langsung terpukul banget bahkan sempat nangis beberapa kali karna kepikiran itu aja. Trus disentil dikit sama kata kata beberapa teman juga pernah nangis diam diam dan kepikiran lama. Padahal remeh bin receh banget.

Contohnya ya pas aku lagi makan malam sama anak anak kampus. Aku waktu itu lagi makan pake sendok doang. Trus gak lama nasinya melancung lancung dong (kalo gak tau artinya melancung tanya aja di kolom komentar ya haha). Dan Rahmi yang berada di sebelahku langsung ngomel dan ngasih garpu hehe. Aku sih awalnya biasa aja, kebodohan kecil kecil gitu udah jadi makanan sehari hari. I usually just laugh it away. Sampai satu teman cowok komentar kalo aku tuh orangnya butuh perhatian dan bimbingan banget, karna masih polos dalam banyak hal. Gak persis gitu sih ngomongnya, tapi intinya gitu.

Trus langsung nyesss.

Kok elo tau sihhh?!?! Aku gak suka banget disadarkan sama hal itu karna pada dasarnya aku suka hidup sendirian. Bebas, lepas, gak terikat sama siapa siapa (kecuali keluarga sendiri). Gak perlu minta bantuan orang samasekali kalo perlu. Karna aku takut ditolak. Kurang aman apa coba kan hidup gueee? Tapi aku udah damai dengan kekurangan aku itu. Susah banget dirubah malihhh, dari kecil. Jadi biasanya aku cuma hidup sebaik mungkin, belajar sebanyak mungkin dan berusaha melakukan apa aja sendirian. Kalo gagal, ya diketawain aja dan jadi pelajaran. Aku berusaha jadi orang yang selaw dan ikhlas, demi gak ketahuan orang kalo aku minta bantuan aja malas, sekali lagi, karna takut ditolak.

Ya jadi begitulah ketakutan terbesarku. Kalo ketakutan terbesar kamu apa?