Senin, 02 Mei 2011

Selamat Tinggal, Bandeng!

That look is the shit that I will remember for the rest of my life.

Malam itu, 30 April 2011, Gelar Seni SMAN 1 Samarinda.

Semua bermula dari keisengan sih sejujurnya. Dua tahun yang lalu. Waktu aku pertama kali menginjakkan kaki di Smansa. Di Samarinda. Waktu aku, untuk pertama kalinya dalam hidupku, menentukan sekolahku sendiri tanpa campur tangan mama dan abah. Waktu aku memberanikan diri keluar dari zona nyaman dan sekolah dimana gak banyak temanku yang masuk sana.

Kelihatan keren memang. Tapi saat itu, gak sama sekali :))

Waktu itu namanya juga masih dalam tahap penyesuaian kali ya. Masih capek harus bolak balik belasan kilo tiap hari. Masih capek dapat banyak tugas. Masih capek ini itu. Masih capek harus selalu ngomong sama diri sendiri karena gak punya teman...

Jujur ya itu buat aku berat banget. Sumpah gak punya teman dan kemana mana sendirian itu nyiksa bangeeeeeetttt!!!! Sampe akhirnya aku udah mulai bisa menerima kenyataan. Kalo emang gak bisa mendapatkan apa yang aku cari di kelas aku waktu itu, kenapa gak nyari di kelas lain? Jadi jangan heran kalo dulu aku suka ke kelas kelas orang :p

Nah, syahdan, di suatu kelas, aku ngelihat orang ini. Seseorang yang aku kenalkan di blog ini dengan nama Bandeng. Seseorang yang menarik. Fisikly dan latar belakangnya tipe aku banget. Tapi udah ya sampe disitu aja. Gak ada apa apanya lagi. I don't know him. He doesn't know me either. Pokoknya saat itu aku cukup mengenal dia sebagai cowok paling menarik di Smansa angkatanku. Titik.

Sampe beberapa bulan kemudian aku dapat kabar aku masuk Aksel. Aku senang dong. Hehe. Disana aku sudah bertekad akan memulai sesuatu yang baru. Aku gak akan malu malu lagi dan aku juga janji sama diriku sendiri kalo aku gak akan jadi orang menyedihkan yang duduk di pojokan. Aku akan berubah.

Tapi pas udah masuk sana? Ngek ngok. Keadaan bisa dibilang sama aja. Aku bahkan sempat loh luntang lantung gak punya teman duduk. Untung ada Dila. Haha. Keadaan terus begitu sampe aku menyadari satu hal kalo itu semua bisa berubah. Aku, harus buat sesuatu yang impresif buat teman teman baruku.

Then I did observe apa sih yang komunitas baruku ini suka. Sampe akhirnya aku dapat kesimpulan kalo mereka suka membicarakan sesuatu. Mereka suka kalo ada salah satu di antara mereka yang menggebet seseorang. Mereka suka ngolok ngolok hal itu. And I can't help but think if I can use that for my own business.

Masalahnya, saat itu aku bener bener struggling sama hidup, sampe bahkan gak punya waktu buat memperhatikan cowok cowok di sekitar dan mencari gebetan. But then I remembered Bandeng and how potential he could be. So I did break the news to them that I was seeing someone. Yep, Bandeng it was. Dan terbukti, aku berhasil dapat perhatian mereka hingga akhirnya aku punya kesempatan buat membiarkan mereka mengenal aku lebih jauh :))

Aku manipulatif? Oh iya memang.

Dan hidup terus berjalan. Olokan olokan mereka yang mungkin memuakkan Bandeng buat aku adalah lem yang semakin merekatkan hubungan kami semua. Terima kasih loh ya untuk itu.

Dan jujur aku gak bisa bohong kalo selama itu juga aku kadang mengharapkan yang berlebih tentang Bandeng. Dari yang awalnya cuma iseng, rasanya lucu juga kalo aku bisa beneran ngegebet dia, flirting, pedekate apapun itu lah yang sejenisnya. So I did it all, especially the flirt part ya. I was turning into a bitch maybe. I don't know sih. Tapi mungkin itu yang ada di pikirannya Bandeng.

Di saat saat itu, aku tersiksa juga loh. Apalagi mengingat imageku yang sudah hancur banget di depannya. Gak ada harapan lagi. Aku kayak orang patah hati, padahal aku cuma suka sama dia. Bukan cintaaaaaa. Dan aku mati matian berharap aku bisa menemukan sesuatu dari dia yang membuat aku benci sama dia sekalian. Dan mengakhiri semua lelucon konyol itu. Once and for all.

But I couldn't. Because at that time, he's fuckin' perfect to me.

Semuanya terus sama sampe tanggal 30 April itu. Dia gak sengaja lewat kelasku, mereka ngolok. Aku gak sengaja lewat kelasnya, mereka ngolok. Kita gak sengaja ketemu di mana aja, mereka ngolok.

Tapi jujur semenjak September tahun lalu, aku udah bisa get over Bandeng. Because of 'him' sih. You know, seperti salah satu quote favoritku di Series Gossip Girl, "The best way to get over someone is to get under someone else." Aku udah gak punya perasaan apa apa lagi sama Bandeng semenjak aku mindahin semua itu sama him, another crush in my teen life. Walaupun yang ini gak ada yang tau juga sih, jadi mereka tetap mikir kalo hidupku selalu tentang Bandeng. Dan berhubung aku juga belum bisa membenci Bandeng, aku tetap menganggap Bandeng sebagai orang terganteng di Smansa. Nah mamam tuh pujianku :p

Semuanya berubah di malam itu.

Berawal dari aku ngobrol sama I, salah satu mantan teman sekelas Bandeng yang jadi teman sekelasku sekarang. Dia ngasih tau aku satu kekurangan Bandeng. Hhmmm aku pikir sih itu kekurangan yang sangat bisa diterima untuk anak cowok jadi aku gak begitu dengarkan sih. Tapi malam itu juga, aku ngeliat sesuatu yang berbeda dari dia. Sesuatu yang selama dua tahun ini belum pernah aku liat.

Cukup aku aja ya yang tau itu apa. Pokoknya apapun itu, udah berhasil membuat imajinasiku tentang kamu selama ini hancur lebur
Yakin mau di luar? Di luar banyak orang loh..
Itu kata kata kamu yang paling aku ingat malam itu, Deng.

Kata kata itu udah berhasil banget buat aku bisa dengan yakin mengucapkan kata kata yang jadi judul postingan ini. Cause there's nothing left. I'm successfully throw out anything about you from my mind. And it feels really good, you know Bandeng?

Cause I've been waiting so long for this.

Ini juga buat aku mikir, kalo aku gak musti terlalu keras sama hidup. What's meant to be will always find a way. What's not, won't. Gak perlu kita susah payah buat jalan itu sendiri atau bahkan memotong jalan itu seenaknya. Akan selalu tiba waktu yang tepat untuk sesuatu. Dan sekarang, mungkin adalah saat yang paling tepat itu untuk aku berhenti berkhayal tentang Bandeng sebagai seorang sosok yang sempurna. Cause nobody's perfect kalo kata Jessie J sama Hannah Montana #eeaaa

And I don't mind lah kalo selamanya kamu tetap anggap aku sebagai another bitch in your life because of that photo accident. Haha sedih memang. Maunya jadi kenangan buat yang terakhir kali tapinya malah jadi tragis gini. Jadi deh aku ngegalau kayak Anjela dan Intan. Haha. Tapi yo wes lah. Gak ada yang perlu disesalkan sama sekali kok dari cerita ini.

Aku senang kok sudah pernah mengenal dan mengagumi kamu, Bandeng.

Sincerely, pengagum rahasia kamu dari dua tahun yang lalu. :)))

7 komentar:

  1. Saya juga pernah merasakannya. Saat kita kagum dan berharap dapat bersama seseorang tapi itu hanya sekedar harapan dan tidak dapat terwujud walau kita berusaha mendapatkannya. Percayalah suatu saat pasti ada orang lain yang dapat mengisi hatimu. :)

    BalasHapus
  2. Saya akan percaya. Hehe. Saya sendiri yang belum siap mungkin :)

    BalasHapus
  3. seneng ya kalo bisa deket ama orang yang dikagumi... :D

    BalasHapus
  4. Hehe iya sih senang jg sebenarnya :))

    BalasHapus
  5. Hehe iya sih senang jg sebenarnya :))

    BalasHapus
  6. jadi masih mengagumi atau menyukai nih?

    BalasHapus
  7. Akan selalu mengagumi, Fan. Selalu. Hahaha.

    BalasHapus