Sabtu, 25 April 2009

Sejarah Kelam Negeri Jiran

Sebelumnya, just for your information, postingan ini sama sekali tidak dibuat berdasarkan rasa benci dan sifat rasis. Dan juga bukan karena ingin membongkar aib negeri jiran kita tersebut. Ini semua hanya renungan. Agar kita lebih waspada dan kenangan pahit itu tidak terulang.

Ceritanya ini udah lama, acil (sama dengan tante atau bule) aku beli majalah Kartini dan aku pun baca majalah itu. Yang mana ada diberitakan soal nasib seorang Model Mongolia (selanjutnya, dia kita sebut MM). Dia menikah (jadi istri kedua) dengan seorang pengusaha Malaysia yang juga masih ada keturunan bangsawan. Singkat kisah, MM tiba – tiba menghilang.

Dan teman tau apa yang kemudian terjadi? Polisi menemukan serpihan – serpihan dari tubuh MM di sebuah tanah kosong di tempat terpencil. Ya, cuma serpihannya aja!! Karena MM tubuhnya dibom! Benar – benar deh, bom itu ditaruh di tubuhnya!!! Sampe tubuhnya samasekali gak berbentuk lagi karena hancur berkeping – keping. Gila, sadis banget ga sih itu?? Pengusaha itu pun ditangkap oleh polisi. Tapi dia tetap gak mau ngaku dan masih tampil dengan tampang gak berdosa. Dan jujur aja aku nangis. I’m not a social one. Yang kalo ada masalah sosial, langsung mewek cuma karena kasihan. Tapi ini benar - benar kejam, sadis!

Sampai sekarang pun aku belum tau hukuman apa yang didapat sama pembunuh keji itu. Yaa… kalo dilihat dari ‘siapa dia’ dan ‘siapa MM’, aku pesimis hukumannya bakal setimpal.

Well, tahun – tahun berlalu, sampai akhirnya aku kembali ingat kasus itu saat tau ada model Indonesia yang punya nasib agak mirip sama MM. She’s Manohara Odelia Pinot. Mereka sama – sama model. Sama – sama nikah dengan orang Malaysia keturunan bangsawan. Sama – sama cantik. Sama – sama non-malay. Dan… untungnya tidak sama – sama mati sadis (naudzubillah jangan sampe deh).

Setau aku, sampai detik ini, Manohara masih hidup, walau aku gak tau pasti apa dia baik – baik aja. Ya, kalo kata berita, dia sering disiksa dengan tubuh mulusnya disilet dan dipaksa berhubungan badan walau lagi menstruasi. Kalo semua itu benar dan bisa dibilang baik – baik saja, aku cuma bisa bilang alhamdulillah kan? Dan bukannya su’uzon juga, tapi jujur aku sendiri selalu waswas menanti kabar dari dia. I mean, sampai sejauh ini, nasib Manohara dan MM sangat mirip kan? So, dari awal, aku selalu mendukung kalo masalah ini harus clear secepatnya. Walaupun aku gak kenal sama sekali sama Manohara dan otomatis gak bakal dapat apa – apa kalopun masalah ini selesai, aku cuma gak pengen ada yang kayak MM lagi. Satu orang udah cukup kan?

Tapi aku tau apa yang aku harapkan bakal susah terwujud. Dan harapan kalo Manohara bakal muncul dalam keadaan baik – baik saja? Ya, kemungkinannya menurutku cuma 30%. Kenapa? Karena melihat dari norma hukum di Malaysia yang cukup banyak unsur agamanya. Dan sebagaimana kita tahu, dalam Islam, saat seorang gadis menikah dia sudah menjadi 100% milik suami. Dan pasti susah buat kita untuk ngontrol itu.

Belum lagi ada pencekalan yang dilakukan pemerintah Malaysia sama keluarga Manohara. What the fuck sih? Mereka mau apa sih? Jujur, pertama dengar yang satu ini, aku gak tau lagi mau ngomong apa kecuali “JAHAT! JAHAT! JAHAT!” Aku tau ‘jahat’ itu kata yang kejam, tapi ‘tega’ terasa sangat konyol. Apalagi saat ditanya kenapa, mereka gak bisa menjelaskan! Well, masalah Manohara disekap, aku ngerti banget itu oknum, kesalahan personal, tidak menggambarkan gimana masyarakat Malaysia keseluruhan. Tapi ini kan sudah ada campur tangan pemerintah? Apa mereka benar - benar gak punya hati? Apa mereka segitu jahatnya? Sorry to say, tapi aku 1000% yakin untuk bilang iya.

Dan jalan terakhir yang dipilih keluarga Manohara adalah KBRI Indonesia di Malaysia. Yang aku paham banget kalo itu tindakan putus asa yang hampir pasti sia - sia. Karena KBRI is nothing. Oke, maaf kalo terdengar pedas, tapi KBRI itu banci, cemen, dan sama sekali gak punya gigi. Terbukti kan sama David, yang kematian anehnya masih menjadi tanda tanya??? Karena KBRI emang gak bisa berbuat apa – apa! Dengan alasan klasik, “Negara X kan punya hukumnya sendiri.”

Dan apa yang aku pikirkan itu terbukti benar saat aku dengar keterangan Da’i Bachtiar, dubes RI untuk Malaysia. Dia bilang mereka cuma berhasil dapat pernyataan tidak tertulis kalo Manohara baik – baik saja. Tapi mereka gak berhasil untuk mengorek lebih lanjut. Kurang banci apa lagi coba??? Tapi pernyataan selanjutnya malah bikin aku mau muntah, “Kami tidak bisa mengorek lebih dalam, karena masalah ini masalah rumah tangga yang bersifat pribadi.” What the fuck again?? Belum tentu ini masalah rumah tangga aja, kemungkinan ini menjadi masalah ‘nyawa’ seseorang sangat besar!!!!

Dan fakta lain yang membuat aku makin sedih adalah usia Manohara. Dia mudaaaa… banget! Cuma beda tiga tahun dari aku! Tapi dia harus melayani pria (yang gosipnya) punya kelainan seksual. Harus udah nikah sebelum usia 17 tahun.. Jujur aja, untuk bagian yang ini, Dewi, temanku, punya opini sendiri.

“1000% salah ibunya dong! Bodoh banget mau nikahin anaknya semuda itu, dengan cowo asing yang pasti gak gitu kenal kan? Gara – gara gelar bangsawan? Kayaknya terlalu murah deh kan..? Pasti ada sesuatu yang lebih mahal! Uang!” Well, mungkin yang dibilang Dewi benar. Tapi gimanapun juga, gak ada satu ibu pun yang mau anaknya menderita kan? Ibu itu mungkin juga gak akan menikahkan Manohara kalau dia tahu kejadiannya bakal seperti ini.

Ya intinya, aku masih tetap berpegang pada asas praduga gak bersalah, tapi melihat riwayat hukum dan kekejian orang Malaysia di masa lampau, sama sekali gak ada salahnya kan kalau kita sedia payung sebelum hujan? Kita gak tau apakah Manohara akan jadi the next MM atau enggak. Tapi selama itu belum terjadi, kita wajib mencegahnya kan? Bukan karena dia Indo aja ya, makanya aku semangat banget, tapi ini masalah NYAWA, euy, NYAWA! Takutnya juga kalo udah kejadian, kita semua bakal menyesal dan hubungan RI-Malaysia jadi rusak. Anyway, aku cuma pengen liat Manohara berdiri tegak dan bilang, tanpa paksaan dari siapapun, “I’m okay.” Itu aja udah bikin aku lega kok. Secara nalar aja ya, apa susahnya sih buat orang – orang Malaysia itu? Apa coba alasan mereka ngurung Manohara kalau emang kata mereka Manohara baik – baik aja? Well, cukup kali ya semuanya. Karena aku tau yang bakal aku tulis selanjutnya pasti kata – kata benci untuk negara itu. Dan sifat rasisku akan keluar. Tapi aku gak bisa disalahkan sepenuhnya, kan? Aku punya cukup bukti untuk bilang mereka gak punya hati. Ya, kan?

Terakhir, walau dengan setengah hati, aku tetap berusaha untuk bilang semua ini cuma ulah oknum. Sama sekali tidak menggambarkan seluruh rakyat Malaysia. Ya, hanya setengah hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar