Sabtu, 31 Maret 2012

Bukan Tentang BBM

Bukan, ini bukan postingan mengenai opiniku soal rencana kenaikan BBM yang akhirnya ditunda itu. Ya walaupun ntar ada lah aku kasih opini juga. Hehe. Postingan ini, actually, ditulis dalam rangka kembali mengingatkan kita semua buat menjaga omongan. Karena lidah itu gak bertulang, boy. Omongan kamu, yang kamu kira udah pintar banget itu, bisa jadi malah memperlihatkan hal yang sebaliknya :)) Atau omongan kamu, yang kamu kira udah tegas dan membuat kamu berwibawa, juga malah membuatmu dinilai dengan kebalikannya :)) I'm not saying I was thinking of a certain someone while I wrote this. Tapi buat yang merasa yaaaa baguslah :))

Oke, too much sarcasm.

Jadi gini, mengenai BBM itu, aku sendiri sih setuju banget kalo emang dinaikin. Bukan masalah naik atau enggaknya sih, tapi aku pada dasarnya emang gak setuju kalo ada subsidi buat bahan bakar. Gak matching aja rasanya. Itu tuh kayak jebakan batman dari para kelas menengah ngehek yang pengen punya kendaraan ini itu tapi gak mau modal beli bahan bakarnya. Haha su'udzon banget ya? Buat pembaca baru, jangan kaget. Aku emang jahat gini kok orangnya. Nah aku lebih setuju kalo subsidi itu buat transportasi umum, pendidikan sama usaha kecil dan menengah. Alasannya panjang, ntar malah bisa jadi satu postingan sendiri. Hehe. Gak usah pake batasan miskin dan kaya, karena itu batasannya gak jelas. Aburizal Bakrie aja bisa bisa merasa miskin loh, kalo doi lagi dibandingin sama Donald Trump misalnya :P  Trus masalahnya di sini ada sama masyarakat Indonesia yang selama bertahun - tahun udah kebiasaan disuapin dengan subsidi yang salah arah ini. Aku sih bingung juga mau ngasih solusi apa, sampe aku liat tweetnya Kevin Aprilio yang bunyinya ini nih :

BBM naik mari kita tingkatkan mutu diri kita. Pada dasarnya saya tidak senang tapi ini seharusnya jadi motivasi kita utk lbih kerja keras.


Nah, emang sih susah dipraktekkan, tapi kalo emang kepepet pasti bisa even sampai berdarah darah. Buktinya aku aja bisa tiga praktikum satu semester dan masih ngisi blog ini. Haha iyaaaa ga bisa disamain emang, tapi insya Allah bisa. Pasti bisa. Itu malah mungkin bisa improve kita jadi bangsa yang lebih kuat dan cerdas, karena udah terbiasa sama tantangan.

Well itu opini aku ya :P

Kalo ada yang ga setuju sama opini aku itu? Nah ini dia poin yang pengen aku kejar di postingan ini. Mulutmu harimaumu, they said. Dan aku membuktikan itu sama dua sampel yang aku temuin the last few days. Dua sampel ini sama - sama mengkritisi opini lain yang bertentangan dengan opini mereka mengenai BBM itu. Dan entah kenapa, aku merasa kedua sampel ini sama sama dangkal omongannya. Mungkin ini masalah redaksi kata aja atau emang they meant what they said, nah aku itu gak tau.

Sampel pertama adalah yang tidak mendukung kenaikan BBM. Dia dengan mudahnya bilang kalo orang (dalam hal ini, yang dia maksud adalah fraksi fraksi di DPR) yang mendukung BBM naik tidak pro rakyat. Yang mana kata - kata dia langsung dibalas dengan Sutan Batoeghana (eh bener ga sih spellingnya?) dengan kalimat yang kurang lebih seperti, "Sebenarnya pilihan apapun yang tersedia, mau BBM naik atau tidak itu pasti pro rakyat, tapi pasti ada kekurangan dan kelebihannya masing - masing." Even though, I don't really adore that man, I agree with his opinion. Hidup itu memang tentang memilih dan rasanya tidak ada satupun pilihan yang tidak abu - abu. Jadi mengatakan satu pilihan lain tidak pro rakyat hanya karena pilihan itu 'the hard way' rasanya aneh sekali. Terlepas dari motif - motif lain yang tentunya dimiliki anggota DPR (apa yang bisa diharap dari politisi, hah?), mereka pasti juga pengen lah (atau at least dianggap) pro rakyat. Kan bekal juga buat Pemilu. Haha.

Sampel kedua malah lebih parah. Sampel ini termasuk dari golongan tidak mainstream, yaitu yang mendukung naiknya BBM. Kesannya keren banget ya, dia mahasiswa dan otaknya cerdas banget sampai bisa menganalisa masalah ini dan sampai pada satu kesimpulan kalo BBM memang sepatutnya naik. Beda lah kesannya sama mahasiswa yang cuma bisa turun ke jalan tanpa tau duduk persoalan apa yang terjadi. Tapi masalahnya, cara dia menyampaikan opininya gak asoy banget. Kesannya kok malah kayak merendahkan kedudukannya sebagai kaum intelegensia ya? Or is it just me?

Intinya dia bilang kalo orang yang gak setuju BBM naik itu bodoh. Wow ekstrim sekali, bukan? Bodoh itu sih aku sudah consider kasar loh, atau emang aku yang terlalu sensitif ya? Hehehe. Nah walaupun aku setuju sama opini sampel kedua ini, tetap aja aku super risih dengerin pernyataannya itu. I mean, kalo kamu punya opini trus yang lain gak setuju kamu langsung bisa bilang mereka bodoh gitu? Instead of ngejelasin kenapa kamu beropini begitu, kamu malah langsung ngejudge orang lain bodoh? Wow hebat sekali. Bodoh setahu aku beda dengan tidak tahu loh. Dan dengan pemahaman masyarakat tentang subsidi BBM yang hanya dari sumber terbatas tentu kita harus maklum dan menyadarkan mereka pelan - pelan. Gak langsung ngatain bodoh. Yaaa itu opini aku sih. Terserah deh kalo mau dianggap bodoh juga atau enggak. Hehe.

Nah itu baru tentang BBM aja yaaa. Satunya lagi aku mau curhat mengenai orang yang ngakunya sih dimana - mana paling gak bisa dibentak, tapi kenyataannya kalo ngomong gak ada sopan sopannya dan nadanya juga, some times, bisa tinggiiiiii  dan nyolot sekali sampe bikin telinga yang dengar jadi berdarah. Nah enaknya diapain ya? Dipanggang atau disate atau dibacem aja?

Yah itu aja deh. Ini postingan juga self note buat aku sendiri, secara aku juga masih suka sembarangan ngomong.


Peace, love and gaul! :)

2 komentar:

  1. hu uh. setuju. makin lembut bicara orang kan bisa lebih simpatik yah.

    eh tapi aku pro ke BBM ngak naik sih. tapi subsidi yang lain juga tetap ada. hmmm gimana tuh. harus nya optimis bisa lah ya

    BalasHapus
  2. Yah kan opini jadi terserah aja :) Hehe optimis harus dong, naik gak naik, insya Allah kita bisa hidup nyaman dan berkecukupan terus :)

    BalasHapus