Selasa, 04 Maret 2014

Iseng Iseng Resensi

5 Centimeter Per Second
Suprisingly, aku sanggup aja menghabiskan film ini sampai habis. Bukan aku banget soalnya haha. Dari ketiga chapter, paling suka chapter kedua yang intinya tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Aduh itu nampar banget. Apalagi pas adegan satu hari di mana si pemeran cewek mau nyatain cinta. Trus trus dia kan akhirnya nyadar diri aja ya kalo cowoknya itu gak suka dia tapi si cowok ini emang naturally baiiiiik banget. Jadi dengan tersedu – sedu dia memohon biar si cowok gak usah baik baik sama dia biar dia gak kegeeran.Epik deh pedihnya :’( Buat beberapa cewek (aku termasuk tentu saja) emang lebih baik dijahatin deh daripada dibaik baikin gitu :( Pergantian antar frame yang lambat emang membosankan tapi gambar gambarnya indah banget. Konfliknya sederhana banget ya anyway, tapi menyentuh deh. Yah gak rugi rugi banget kok ditonton.

Ini adegan yang kubilang menyayat hati itu. See? Gambarnya bagussss

Flu
Sukaaaaaa banget sama film ini. Suka banget suka banget! Suka tema besarnya yang bisa menyentuh aku banget. Hell, who am I kidding? Tema tentang pandemik penyakit gini harusnya bisa lebih menyentuh banyak orang dibanding zombie atau monster dari luar angkasa kan? Kan? Terutama suka sama gimana film ini mengemas sebuah konflik penyakit menjadi konflik politik nan menggemaskan. Gak tau boy, harus mihak yang mana dan itu nyiksa yet mengasikkan sekali!! Gimana sutradara bisa menjaga tensi juga perlu diacungin jempol. Di beberapa bagian aku bahkan agak susah mengatur nafas karena tegangnya film ini. Trus beberapa adegan awal waktu penyebaran virus itu thrilling abis. Bikin parno liat orang batuk jadinya. Beberapa detil yang “Korea banget” juga aku suka, seperti balas dendam, cara mati yang bikin shock, dll. Korea banget!
Suka sama semua akting pemainnya, terutama anak kecil yang jadi scene stealer itu. Kamu lucu sekali nak :’) Mungkin beberapa hal yang bikin annoying adalah banyaknya adegan yang “too good to be true”. Tapi over all, aku sih suka banget film ini. Recommended! (Ah iya, aku beberapa kali nangis nonton ini. Udah sih mau bikin pengakuan itu aja :p)

This is my kind of leader :)

12 Angry Men
Salah satu hal yang wajib di-mention kalo ngomongin kebaikan film ini adalah humornya. Keselip, berkesan remeh padahal punya arti yang daleeeem. Yang paling kuingat pas mereka mendebatkan tentang kredibilatas seseorang sebagai saksi. Keren banget deh konklusi dari debat mereka di situ (dan juga beberapa bagian perdebatan lainnya). And also, this movie is beautifully shot. Dengan setting dan cast minim begitu, menakjubkan banget deh gimana film ini tidak membosankan dari sisi visual. Aku juga suka dinamika emosi di film ini dan antiklimaks in a good way di akhir. Kekurangan mungkin ada pada scoring yang hampir sama kayak film film jadul lainnya (duh sorry but “jeng jeng” sound is too much). Overall, aku pribadi suka sama film dengan jenis cerita gini jadi ya recommended.

One of the best shots
Prisoners
Kayaknya aku terlalu banyak berharap deh dengan film ini, jadinya agak kecewa gitu terutama sama endingnya. Nyebelin abis, men! Twist yang dikasih lumayan, tapi motifnya itu loh, gak meyakinkan banget huhu. Jadi agak agak antiklimaks gitu, padahal tensi dari awal udah dibuat tinggi banget. Anyway, aku suka sama gimana film ini mendeskipsikan “depresi”, dari akting akting pemainnya, ‘warna’ filmnya, semuanya dibuat sekelam mungkin and I love it because it’s so relevant. Terutama suka sama karakter Jake Gylenhall di sini. Karakter polisi perfeksionis dibawakan cukup baik (not perfect though) sama dia. Trus kudos juga deh sama make up-nya yang cukup total. Salah satu film wajib tonton 2013 kata sebagian besar orang and I’d say I agree for the dark athmosphere.

Make up nya keceee!

Pitch Perfect
I love this. Like love love love love this! Mungkin ini subjektif banget ya karena aku emang suka jenis film/series pop musical semacam Glee atau High School Musical tapi film ini keren abis deh beneran! Suka gimana film ini menceritakan kehidupan kampus di Amerika tanpa menjadi terlalu condong ke satu sisi. I mean, anak anaknya biasa banget. Super ordinary, gak kaya, gak pintar, gak cantik/ganteng, tapi bertalenta semua di bidang musik and they’re fun. Emang sih, untuk beberapa karakter keliatan banget cuma tempelan. Anyway, scene stealer di sini yang menjadi favorit aku adalah rapper keturunan India di grup Treblemaker, he’s hot, he’s a good rapper and he’s cute too! Kalopun gak tertarik nonton filmnya, boleh banget deh dengarin OSTnya aja. It’s that good!

Look how happy they are :) Ini waktu nyanyi lagu Party in The USA

Blackfish
Kasusnya sama kayak Prisoners nih, akunya over expected duluan. Jadi kalo boleh jujur, aku kurang suka film ini. Sebagai film dokumenter, dia udah bagus sih ngambil angle-nya, yaitu biar kita bisa lebih memahami mengenai binatang yang luarnya nampak unyu walau sebenarnya berbahaya dan sebenarnya lagi hidup mereka tuh menyedihkan. Tapi tampilannya messy banget. Dan terlalu banyak narasumber. Jadi nontonnya gak fokus gitu. Trus filmnya one-sided. Emang beralasan sih ya,karena pihak SeaWorld sendiri dari awal pembuatan film gak mau diwawancara and that actually speaks a lot, but still. Pengennya kan kayak The Imposter gitu yang bisa melihat sesuatu dari kedua sisi. Overall, not really recommended.

Bagian SeaWorld cuma segini hehe

The Breakfast Club
Aku suka gimana film ini membawa emosi penonton dari melihat lima orang pemerannya sebagai ordinary teenagers dengan karakter yang stereotipe, menjadi lima orang spesial dengan masalahnya masing masing. Dan humornya juga juara deh! Smooth gitu di sepanjang film. Chemistry di antara semua pemain kerasa dan aku paling suka chemistry antara basket case dan si atlit, so sweet! Open ending emang pas banget untuk mengakhiri film ini, bikin penasaran tapi juga bikin lega, karena si sutradara gak membuat judge sama kelanjutan cerita anak anak ini. Beberapa bagian agak membosankan juga sih tapi overall worth the watch kok.

Argo
Satu slot pujian khusus aku persembahkan buat adegan pertama dan terakhir film ini. Thriller! Agak bete sih di beberapa bagian karena membosankan dan sometimes ceritanya terlalu memojokkan sisi Iran. Technically speaking, suka sama bagian design product yang cantik banget menggambarkan Iran di jaman dulu. Suka gimana humor kecil dan pahit diselipkan di sana sini, dan juga sama the most memorable quote “Ar-go fuck yourself” yang kehadirannya selalu terasa pas. Dari awal aku tau sih film ini bukan tipeku, jadi untuk bisa bertahan nonton sampai akhir aja udah hebat.

Don Jon
Ini mungkin versi lebih berwarna dibandingkan Shame yang suram. Playful, dinamis, modern, etc etc. Tapi buat aku sih ini film way too extreme. Bahkan untuk seorang aku loh ya hahahahaha :p Sebenarnya pesan moralnya kuat sih tapi stereotipe di berbagai sudut film ini membuat aku merasa sang sutradara (which happened to be Joseph Gordon Levitt himself) berusaha terlalu keras membeberkan fakta. Beberapa adegan repetitif yang dibuat biar menarik malah jadi menjemukan. Dari segi akting, tiga pemeran utama di sini sudah cukup bagus memainkan perannya masing masing. Tapi jujur paling terkesan sama Scarlett Johansson. Resmi deh dia jadi salah satu aktris favoritku :D Dia termasuk konsisten dan pilihan perannya pun beragam. Di sini dia jadi cewek seksi yang konservatif and gotta say that she did it perfectly.

About Time

This movie is so sweet it melts my heart. Sukaaaa banget gimana ceritanya mengalir gitu aja, gak lebay gak dramatis tapi tetap enak dinikmati. Suka gimana karakter para tokohnya yang unik dan manusiawi saling bersentuhan satu sama lain. Suka sama semua momen sederhana yang dibuat indah dan bermakna. Terutama suka sama karakter Tim sebagai seorang manusia. Hubungannya dengan abah mamanya dan adiknya. Aku bisa relate banget, sebagai sesama anak pertama dalam keluarga. Tersentuh banget pas si Tim berusaha untuk membantu hidup adiknya bagaimanapun caranya huhu. Konsep time travelnya banyak bolong sih, tapi gak terlalu ganggu kok.

Awww suka banget sama hubungan Tim dan Kit Kat

2 komentar:

  1. Hai Kak Dita...kenapa nggak coba bikin label khusus resensi film? Sertakan juga sinopsis dari film nya biar greget. hehe. Anyway, resensi kamu ini bagus bagus lhoo. Pilihan filmnya juga gak mainstream. Anyway, coba nonton film nya Jason Reitmann deh, i think you're gonna love it. keep goin'! :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai hai anonim, komenmu manis banget sih :))

      Rencananya kalo resensi di blog ini udah banyak memang akan dibuatkan tag sendiri. Nah kalo masalah sinopsis, benar juga ya. Kacau banget masih tatanan resensiku. Lain kalo dirapiin lagi deh :)

      Ps, aku baru nonton Up in The Air dan sukaaa. Lain kali bakal nonton filmnya yang lain deh :D

      Hapus