Kamis, 22 Oktober 2015

#MelawanAsap

Aku sebenarnya lagi malas banget ngomongin pemerintahan atau politik atau sejenisnya. Karena nih untuk beberapa orang, aku yang dulu cukup frontal mendukung Jokowi harusnya nunduk sama semua kebijakan dia dan aku dianggap gak relevan kalo mengkritik kebijakan itu. I know, bad logic. Dan begonya aku, aku ngerasa offended aja dong dan gak segagah Pandji atau Kak Tirta atau Joko Anwar (he blogs on twitter, so I can't prove a proper link here :P) yang bisa mempertahankan pendapat mereka.

Tapi untuk #melawanasap di twitter ya aku kenceeeeng ya. Abisan "beberapa orang" itu gak ada di twitter (kalo ada juga gak terlalu peduli sih, twitter buat aku wadah paling bebas untuk opini sehari hari, bacain reply aja jarang loh. Jadi di twitter itu buat aku tempat pengeluaran segalanya, gak butuh timbal balik dan gak peduli). Trus ya kalo #melawanasap itu menurutku bukan kritik, tapi lebih meningkatkan awareness biar orang orang tau kalo asap itu samasekali bukan becandaan. Dan aku paham sih, pemerintah udah melakukan beberapa hal buat menanggulanginya (Not as many as I wish, but they did. They did. Let's not forget about that fact. Bisa baca di sini atau situ contohnya), tapi menurutku masih belum cukup. Ya aku gak ngarep juga sih mereka melakukan tindakan fantastis yang bisa membuat aku melihat langit biru lagi dalam sekejap. Mereka bukan dewa. Mengatasi kabut di lahan gambut itu memang butuh proses panjang, aku paham, dan aku harap rakyat Indonesia lain juga paham.

Menurutku kebijakan yang ada sekarang masih belum cukup, dalam konteks untuk dapat menyentuh hati rakyat. Belum kerasa genuine-nya. Aku gak tau ya apa pemerintah itu memang gak genuine atau ini cuma masalah bad PR aja, atau malah rakyat aja yang terlalu sensitif dan malas mencari informasi (sometimes it's so true it hurts, seperti yang minta minta ditetapkan bencana nasional dan lupa gimana kita kecolongan sama Lumpur Lapindo, we should read more guys, indeed), entahlah. Tapi huru hara yang ada ini, somehow, buat aku bisa lebih mereda jika pemerintah mau lebih "menggapai" kita.

Membuat iklan di TV Nasional mengenai penanganan kabut (seperti masker apa yang dipasang, apa yang bisa dilakukan untuk seminimal mungkin terjadi kontak dengan asap, gitu gitu) dan info potensi penyakit beserta cirinya. Waktu iklannya pas prime time.

Atau bisa juga pejabat terkait lebih intense (sehari sekali mungkin) lagi muncul dan memberikan pernyataan resmi mengenai statistik kerusakan dan upaya yang sekarang dijalankan. Fakta dan runut. Misalnya kementerian Kesehatan harusnya memberikan pernyataan berapa orang terkena ISPA di provinsi A, B, C, trus apa upaya konkrit supaya angkanya turun. Upaya dari pemerintah ya, kalo imbauan pakai masker dan berdiam di rumah juga kami juga tau, tapi apa yang Kementerian Kesehatan lakukan untuk menanggulangi itu. Atau kementerian Polhukam menjelaskan ini loh daftar perusahaan diduga terlibat pembakaran hutan dan mereka bakal dikenai sanksi sekian sekian dan kapan tindakan hukum itu akan dilaksanakan.

Oh iya, ini jangka panjang sih, tapi menurutku harus dimulai dari sekarang. Pemerintah pusat harus TEGAS sama pemerintah daerah dan begitu pula dari satu jabatan tertinggi ke bawahnya. Presiden ke gubernur, gubernur ke bupati, bupati ke camat and so on. Jangan ada alasan konyol kementrian gak bisa ngontrol gubernur lagi. Satu orang dari pusat harus maju dan dengan lantang memaparkan mengenai sikap yang harus diambil sama setiap pejabat daerah saat ditawari pembukaan lahan. Kalo di atas udah keras dan jelas, harusnya bawahan ngikut, and that's something Mr. President should do. Soal pembukaan lahan gambut sendiri udah ada hukumnya loh di PP No. 71 tahun 2014, jadi harusnya gak ada excuse lagi. Mengutip kata Jokowi sendiri, "Tiada solusi baru pada masalah ini karena semua orang memahami apa yang harus dilakukan. Ini soal apakah kita mau menyelesaikan masalah ini." Nah kan ketegasannya aja dari semua pihak diperlukan. Trus kalo bisa pers bantu juga lah, dengan jeli melihat di mana kecolongannya (rakyat biasa juga bisa sih untuk ini). Entah dari atas, gubernur atau bupati, atau malah semuanya. Semua ini adalah kerja bersama yang harus kita konsisten wujudkan.

Aku tau sekarang bala bantuan yang dikerahkan udah banyak banget, tapi kalo mau ditambah lagi buat aku bakal membantu rakyat untuk merasa lebih diperhatikan. Dua, atau tiga kali lipat kalau perlu. Baik dari segi sumber daya manusia maupun alat yang digunakan. Terutama alat ya. Kalo gak punya (atau punya tapi belum cukup banyak) ya investasi. I know I sound like a nagging teenage girl yang minta dibelikan iPhone terbaru sama orang tuanya, tapi kami anak daerah emang se-insecure itu sama orang pusat. No kidding. Kalopun memang biayanya terlalu besar dan dihitung hitung gak efektif investasi di situ dan mau pakai cara lain yang lebih murah, tolong dijelaskan juga. "Maaf kami tidak bisa menambah bala bantuan dengan membeli X karna akan merusak ekonomi negara dan dampaknya bakal lebih buruk di masa depan. Oleh karna itu kami memilih metode Y yang lebih efektif karena....". Atau penjelasan lain lah, orang komunikasi di pemerintah harusnya jauh lebih jago bikin kalimat yang lembut didengar rakyat.

Aku harap dengan teriakan #melawanasap yang berulang kali kita dengungkan, pers bakal lebih giat lagi meliput kasus ini dan pemerintah juga lebih aware lagi untuk menangani semua ini sebaik, secepat dan setulus mungkin. Serta kita, seluruh rakyat Indonesia, bisa terus diingatkan untuk melawan asap dengan cara masing masing, bahkan sampai nanti setelah asap sudah gak ada lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar