Sabtu, 29 Agustus 2009

The Joy of Being Morning Person

Sebagai seorang anak pedalaman (ya, I mean it!), aku yang sekarang sekolah di ibu kota provinsi ini dengan amat sangat rela musti berangkat pagi – pagi buta. Jam 6. Yap, jam segitu, saat pelajar lainnya masih berselubung selimut aku harus udah pake seragam lengkap, dengan mio biru dan helm Bugs Bunnyku, aku mengarungi jalanan sekitar 20 km selama kira – kira 40 menit. That’s my life baby,, and I have to enjoy it. Dan ga misuh – misuh lagi kayak postingan yang kemarin – kemarin. So now, I wanna share how fantastic to be me. Seorang pelajar asing yang sekarang berteman dengan semua komunitas pagi di jalanan antara Loa Janan-Samarinda.

Oke, udah aku bilang ya, kali ini aku mau cerita – cerita yang baik – baik aja. Dan untuk memulainya, aku akan cerita soal alam kalo pagi – pagi. Aku bisa ngeliat sunrise!!! Langit yang oren (dan kadang – kadang malah ungu gitu loh!) dengan udara yang dingin. Wah, aku serasa ada di Bandung. Hohoho. Adem banget pokoknya. Selain itu, udara juga masih segar. Beda sekali lah dibanding kalo aku pulang.

Selain itu, kenikmatan lain menjadi the morning person adalah aku bisa ngeliat orang – orang yang bersemangat. Well, maksud aku adalah orang – orang yang mendedikasikan dirinya untuk pekerjaan yang dimulai sejak pagi hari. Seperti tukang sayur, tukang ikan, dan orang – orang yang kerja di kota dan harus berangkat pagi – pagi. Beh, jujur aja, aku salut banget sama mereka! Aku ga akan bisa jadi mereka. Di tengah dingin, di tengah kantuk, mereka berjuang untuk mencari nafkah bagi keluarganya di rumah. ^^ Semua orang tau aku berlebihan dan mereka emang ga sehebat itu karena ga ada tuh penghargaan khusus bagi profesi – profesi seperti itu. Tapi coba rasain sendiri deh, jadi pelajar asing seperti aku, you’ll know kalo menjadi manusia pagi itu tidak mudah dan rasa salut itu akan tumbuh begitu saja. Membuat aku melakukan hal – hal aneh (yang menurut banyak orang, ga penting) yang menurut aku dapat membuat beban mereka sedikit berkurang.

Untuk Tukang Sayur, sebagai manusia – manusia pagi paling is the best se Loa Janan-Samarinda, walau mereka selambat apapun, aku tetap ga mau nyelip. I mean, aku aja kalau diselip suka jantungan, apalagi mereka kan? Yang bawaannya segudang.. so, aku ga pernah mau nyelip mereka, for any kind of reason! Karena buat aku, mereka adalah orang – orang yang paling berarti untuk aku di jalan. Disaat pengendara lain mati – matian mau nelan aku (nyelipin aku maksudnya), mereka ga pernah tuh kayak gitu. Jadi aku dengan senang hati sering buntutin mereka. Perasaan aku aman aja gitu kalo deket mereka. Ga tau kenapa… Karena hobiku suka konvoi sama mereka aku pun menamakan komunitas itu sebagai TSC (Tukang Sayur Community). Walau kami semua ga saling kenal, tapi ditengah kebisuan itu kami saling melindungi, menguatkan hati di tengah perjalanan pagi yang sepi. :D love u all of member TSC Loa Janan-Samarinda!

Sedangkan untuk supir taksi, pekerja di kota, dan terutamanya tukang ikan, tanda simpati aku lakukan dengan rela menjadi bulan – bulanan mereka. Alias diselipin. Dibuat sakit jantung. Aku rela. Karena aku tau mereka punya kepentingan yang lebih. :) toh aku cuma pelajar asing. Tapi satu pesan aku buat tukang ikan kalau ada yang baca ini, mohon kecepatannya agak dikoreksi dong. Beberapa kali aku rasa mereka agak lebay. Tau tau pagi sepi, tapi ga musti membuat aku meraga ga aman gitu kan? Jadi tolong ya tukang ikan, contohlah tukang sayur. Mereka adalah teladan pengendara pagi yang baik ;)

Keluar dari tukang – tukangan, keuntungan lainnya adalah aku bisa memuaskan hasrat terpendamku dalam melihat orang – orang yang berolahraga. Call it as my hobby. Aku suka aja melihat orang – orang yang bersemangat itu ;) dan aku menemukan banyak sekali dalam perjalanan 40 menitku. Ada yang lari – lari, senam, dan banyak lagi. Thanks all, you make my day. Really. Oia, most of them itu orang – orang tua loh.. hoho. XD

Yaaa… itu aja dah curhatku tentang kehidupan pagiku :) Kehidupan ini awalnya sangat kubenci dan dengan ga ikhlas aku jalani, tapi kini, aku menikmatinya diam – diam. Aku mengagumi jutaan udara segar dari Tuhan yang aku hirup. Semua manusia berdedikasi yang menemani pagiku. Dan belasan langit indah yang sempat aku lihat.

Alhamdulillah ya Allah… :D I could say what I never think I am gonna do it.

*sebuah pikiran pelajar asing di tengah pagi buta, perjalanan Loa Janan-Samarinda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar