Selasa, 11 Mei 2010

Review E-Book Nasional.Is.Me karangan Pandji Pragiwaksono

Buku ini gilaaaaaaaaaaaaa. Emosi saya diaduk aduk abis abisan. Parah. Haha. Secara umum itu kesan yang saya dapatkan dari e-book yang kalo dijadiin buku bakal lumayan tebal ini. Dari bab ke bab saya diberi banyak sekali wawasan yang baru tentang Indonesia dari perspektif penulis buku ini, Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Well, kalo yang gatau, Pandji itu yang dulu jadi host Kena Deh itu looooh. He’s also one of my favourite blogger. Biasanya tulisan di blognya cerdas dan menginspirasi. Makanya pas saya tau dia bikin e-book ini saya langsung nda ragu lagi buat ngedownload. Dan well, mumpung gratis :P

Anyhow, buku ini, entah bagaimana caranya telah membuat saya melihat Indonesia dari sisi lain. Saya ga pernah ragu untuk mengatakan diri saya sebagai nasionalis. Haha. Iyeeeeeee, saya emang narsis :P Saya nangis waktu timnas kalah. Saya sekolah yang benar karena pengen memajukan Indonesia. Saya ga pernah bosan chatting sama bule di Omegle dan mempromosikan negara saya yang maha indah ini :P Tapi rasanya, setelah melihat banyak orang hebat yang diceritakan di buku ini, saya merasa apa yang saya lakukan buat negara belum ada apa apanya. Tangisan saya tiap tanggal 17 Agustus jadi terlihat biasa aja kalo dibandingin dengan apa yang orang – orang hebat itu lakukan untuk mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Taufik Hidayat, Joko Anwar, Prof. Yohanes Surya. Level saya masih jauuuuuuuuh dibawah mereka :( But instead iri atau bagaimana, lewat buku ini juga saya malah makin terpacu dan percaya kalau suatu saat saya bisa seperti mereka. Bisa mengharumkan Indonesia sesuai dengan kemampuan saya :)

Membaca buku ini saya ga pernah bisa berhenti. Sensasi yang sama saat saya membaca Laskar Pelangi atau Divortiare atau juga The Naked Traveler. Ada saja alasan saya untuk terus memindahkan kursor ke bawah lagi dan lagi. Jarang jarang loh saya rela baca buku nonstop dari jam 10 malam sampai jam setengah 3 pagi. Jadi berbangga lah anda bang Pandji karna harus saya akui, anda adalah penulis yang baik :) Tipe tipe Adhitya Mulya, tapi jauh lebih singkat dan sarkas :D

Seperti yang sudah saya bilang, buku ini menampilkan banyak sisi positif lain dari Indonesia. Tapi sesuai dengan passion saya, ada dua bagian yang menjadi bagian favorit saya dari buku ini. Cerita tentang olahraga dan kota – kota di Indonesia.

Olahraga. Basically, saya emang selalu sehati sama bang Pandji kalo urusan ini. Secara kita kan samasama fans MU gitu yaaaaaa :D Jadi biasanya kalo dia nulis tentang topik itu di blognya saya selalu ngangguk ngangguk aja setuju. Tapi pas saya masuk di bab yang membahas olahraga di buku ini which is bab ‘Dari Menjadi Penonton Sampai Menjadi Pelaku’. Geeeeezzzzzzz. Rasanya ada yang nyes tiap saya baca kalimatnya satu demi satu. Dan yaya, sebagai seorang yang sensitif, saya akhirnya menangis :’) Saya udah sering kecewa yah sama penampilan atlet atlet Indonesia. Tapi selalu, saya ga pernah menyerah untuk berharap lagi dan lagi sama kesuksesan mereka. Saya ga pernah lelah untuk mendukung Indonesia.

LOVE IT LIVE. Ya itu beneeeeeer banget. Tau kenapa saya bela belain nonton Persisam live panas panasan berteman rokok dan kata kata kasar para lelaki? Karena saya punya harapan. Dengan membayar tiket, saya membantu keuangan klub kota saya. Entah apakah uangnya dikorup atau bagaimana tapi setidaknya saya sudah berusaha. Dengan membeli snack, saya membantu perekonomian seseorang. Saya emang bukan orang Jakarta yang bisa seenak udel bolak balik liat laga timnas (I envy them sooooo much!), saya emang cuma tinggal di Samarinda. Tapi saya punya harapan. Kami punya Stadion Utama Palaran. Salah satu stadion terbaik yang kini dimiliki Indonesia. Tidak jarang, juga digunakan untuk laga laga nasional. Setiap saya nonton di stadion ini, saya ga pernah mau buang sampah sembarangan. Saya menjaga kebersihannya. Saya berusaha karena saya punya harapan kalo umur stadion ini akan panjang dan insyaAllah akan lebih sering lagi digunakan untuk berbagai event.

Seperti yang mas Pandji bilang, saya juga sangat yakin olahraga memegang peranan yang sangat penting untuk bersatunya Indonesia. Waktu kelas 3 SMP dulu saya punya teman. Saya cukup kenal dia dan dia cukup kenal saya. Kami ga pernah dekat karena emang lingkungan pergaulan saya sama dia beda. Dia semacam preman sekolah sedangkan saya anak (yang sok) baik baik. Tapi suatu saat, untuk pertama kalinya kami ngobrol serius. Sepanjang tiga tahun di SMP yang sama, baru kali itu saya benar benar bisa memahami dia. Ngobrolin apa? Bulutangkis :) Kita diskusi habis habisan tentang gimana caranya supaya Tim Uber dan Tim Thomas bisa berhasil di tahun 2008 itu. Spontan. Walau setelah itu saya tetap menganggap dia preman dan dia tetap menganggap saya anak cupu, kami tahu kami telah bersatu. Untuk Indonesia :)

Dan ga hanya persamaan yang bisa menyatukan kita. Perbedaan pun bisa jadi sangat indah. Waktu ada PON di Kaltim tahun 2008 kemaren, alhamdulillah saya bisa aktif trus nonton berbagai macam cabang olahraganya. Saya bertemu banyak orang. Dari Sabang sampai Merauke. Tentunya yang paling berkesan adalah pertemuan dengan The Jakmania. Siapa coba yang ga kenal mereka? :) Awalnya saya takut mereka bikin rusuh di kampung saya. Tapi untungnya samasekali tidak. Kami memang perang urat saraf saat mendukung tim provinsi masing masing di pertandingan bulutangkis. Mereka mendukung DKI dan saya bersama teman – teman saya bertiga mendukung Kaltim. Waktu itu hari pertama pertandingan bulutangkis beregu dan Kaltim udah ketemu DKI aja gitu loh. Berhubung pertandingan mulai dari pagi, jadi masih belum banyak orang yang nonton. Cuma ada kami dan sekumpulan The Jak di tribun sebrang. Bayangkan gimana perasaan atlet Kaltim itu. Di negeri mereka sendiri, mereka cuma didukung empat remaja cewek sedangkan tim lawan yang mostly isinya pemain timnas semua didukung penuh sama The Jak. Secara logika, semua orang tau tim beregu Putri Kaltim ga bakal menang. DKI terlalu dewa untuk dikalahkan. Tapi kami, empat cewek itu ga pernah berhenti teriak menyemangati. Walaupun saya cinta mati sama Firdasari yang saat itu mewakili DKI saya tetap setia pada provinsi saya doooong :D The Jak ngolok kami balas ngolok. Walau jumlah kami kalah banyak, kami tidak takut. Samasekali.

Saat kami akhirnya kalah dan keluar dari pertandingan. Kami ngobrol aja gitu lohhhh sama beberapa The Jak. Mereka banyak bertanya tentang Samarinda. Otomatis, otak promosi saya langsung bekerja dengan nyerocos tentang tempat tempat wisata disini. Haduh. Pokoknya itu salah satu pengalaman terbaik saya. Intinya sih satu, sportivitas. Kalo itu semua sudah ada pasti ga akan ada konflik lagi di ranah olahraga Indonesia. Kita boleh kok ya perang habis habisan di arena. Tapi begitu keluar, mind set kita harus diatur lagi kalo kita harus bersatu untuk sesuatu yang lebih besar yaitu Indonesia itu sendiri :DDD Seperti kata Pandji loh ya, bukan SATU tapi BERSATU. Kita bisa pakai kaos Persija, Sriwijaya atau Persipura ke GBK buat nonton Timnas, tapi yang jelas saat lagu Indonesia Raya kita harus ikut menyumbangkan suara. Mungkin begitu analoginya. BERSATU bukan SATU :)

Dan bagian lain yang saya suka adalah tentang kota kota di Indonesia. Saya senang sekali saat sekarang ada banyak orang yang tidak hanya memuja Bali dan Jakarta. Karena Indonesia jelas jauh lebih dari itu :D

Dari dulu saya punya mimpi saya akan keliling Indonesia. Saya akan ke Belitong, saya akan ke Bunaken, saya akan ke Derawan, saya akan ke Lombok, saya akan ke Jayapura, saya akan ke Karimun Jawa. Yayaya, Trinity inspired me :) Tapi pelan pelan lah. Sekarang saya masih pelajar. Saya masih ingin (dan harus) belajar untuk memajukan generasi saya. Suatu saat saya percaya saya akan mewujudkan mimpi saya itu :) Untuk saat ini, saya tidak pernah kekurangan bahan untuk mempromosikan Indonesia. Tapi setelah membaca buku ini, ternyata bahan saya masih banyaaaaaak lagi. Saya mungkin tahu Cubadak, Pulau Datu, dll. Tapi ternyata saya baru tau ada Pulau Siladen di Manado dan Masjid Agung di Semarang yang subhanallah indahnya. Dan itu membuat saya tambah kebelet keliling Indonesia. Haha.

Apalagi ada bahasan tentang Papua dan khususnya Jayapura. Aaaaaaaaa. Saya suka sekali Papua! Awalnya kecintaan saya sih cuma sebatas kekaguman dengan Persipura Jayapura, klub kebanggan Papua. Saya suka aja sama prinsip bermain mereka yang saya banget. Walaupun saya orang Kaltim, tapi saya ga pernah malu bilang kalo saya adalah fan Persipura. Ga sedikit loh teman saya yang ngeledek kalo pemain Persipura tuh mukanya jelek jelek. Tapi saya suka aja sama mereka. Saya suka Ka Ricardo Salampessy, saya suka ka Imanuel Wanggai, saya suka om Eduard Ivakdalam, saya suka ka Bio Pauline, saya suka ka Boaz Solossa :D Menonton mereka bertanding seperti melihat semangat sepakbola yang sesungguhnya :D Kesukaan saya pada Persipura membuat saya punya banyak teman maya anak sana. Dan dari mereka (juga dari browsing sana sini) saya menemukan kalau alam Papua itu sangat indah. Raja Ampat terutama ;) Dan seperti kata bang Pandji di e-book nya, “Kalau anda bertemu dengan orang Papua, beri senyum dan sapa mereka, saya JAMIN, senyum balasan dari mereka 3 kali lebih lebar daripada senyum Anda.”

Saya pernah membuktikannya sendiri loh. Lagi lagi saat PON. Saat itu saya bertemu dengan sekumpulan atlit bola basket dari Papua. Saya tidak tau nama salah seorang dari mereka, tapi saya tau dia hebat. Saya menonton pertandingannya kemaren. Saat itu saya lagi ada di Stadion Sempaja, nonton pertandingan sepakbola antara Papua Barat dan Kaltim. Dia mendukung Papua Barat dan saya (tentunya) mendukung Kaltim. Tiba tiba mata kami bertemu. Dan otomatis, seperti biasa, saya langsung sok kenal dengan bilang, “Kakak mainnya hebat yah kemaren,” dengan tersenyum dan dia balas tiga kali lebih lebar dari senyuman saya! Padahal daritadi kami saling teriak menyoraki tim masing masing :D Sekali lagi, sportivitas is the rule :DD

Lagian sebagai anak Loa Janan, saya bisa sedikit memahami perasaan orang Papua dan mungkin masyarakat perbatasan lainnya.

Papua oh Papua :D

Tapi Kalimantan juga hebat loh bang Pandji. Disini ada Pulau Kakaban dengan danau prasejarahnya (yang cuma terdapat dua di dunia!), Sungai Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia dan tentunya keramahan orang orang Banjar di Kalimantan Selatan yang membuat saya selalu merasa hangat :D Ahahay. Promosi lagi saya :D

Terakhir, buku ini membawa pesan yang jelas kalo ada tiga hal nyata yang bisa kita lakukan untuk Indonesia. Dan saya akan membahasnya satu satu ah. Haha. Manjang manjangin posting ini aja ya :P

Pertama, Kenali Indonesia-mu. Pesan ini sederhana tapi buat saya sih maknanya dalem. Logika ya, gimana kita mau cinta kalo kita ga kenal? Gimana kita mau optimis kalo kita ga berusaha menemukan hal hal positif dari negeri ini? Jadi kenali Indonesia :) Banyak cara yang bisa kita gunakan. Mulai dari observasi langsung melihat indahnya Indonesia sampai berusaha browsing internet mencoba mencari berita baik (greatnewsfromindonesia.com is recommended!). And when you know Indonesia, like me and Pandji do, you’re gonna love it so bad like us :D

Kedua, temukan passionmu. Setiap orang punya passion. Saya percaya, ketika seseorang sudah bisa mengetahui passion dia dimana, he/she will give his/her best. Passion Pandji mungkin adalah menghibur. Komunikasi. Sebagai penyiar radio, MC, rapper dia sukses membawa visinya sekaligus mencari nafkah. Kalo saya? Emmm. Saya suka menulis dan saya suka membaca. Inilah yang membuat saya membuat blog ini. Saya ga tahu pekerjaan apa yang paling cocok (dan menghasilkan uang!) buat saya di masa datang. Tapi saya punya impian suatu saat saya dan passion saya akan membawa saya ke poin ketiga.

Berkaryalah untuk masa depan bangsamu. Impian saya sederhana. Saya seumur hidup tinggal di Loa Janan dan sangat menyadari minat baca masyarakat disini sangat kurang :( Kelak, saya akan punya perpustakaan umum disini. Saya akan punya toko buku disini. Saya akan meningkatkan minat baca masyarakat sini. Saya paham sekali apa yang saya impikan itu, walau sederhana, tetap saja tidak murah >< Jadi, saya tetap setia disini, belajar untuk mendapatkan posisi terbaik untuk mewujudkan mimpi saya suatu saat nanti :D Membaca adalah jalan dari segala sesuatu yang besar. Bung Karno suka membaca. Bung Hatta suka membaca. Saya percaya, membaca berkorelasi langsung dengan kepintaran. Jadi saya ingin menularkan semangat baca saya pada setiap orang :D

Terimakasih Bang Pandji. Saya sempat pesimis loh kalo saya kan masih kecil, cuma anak SMA ingusan yang ga akan bisa buat perubahan dengan impian saya itu. Tapi sekarang saya optimis. Terimakasih Bang Pandji. Lewat buku ini saya makin cinta ajaaaaaaaa sama Indonesia.

Terimakasih :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar