Jumat, 23 Juli 2010

Kontroversi Satuan Polisi Pamong Praja

Warning! Karna aku cuma anak SMA cupu, maka POV yang aku pakai akan amat sangat polos. Jadi CMIIW aja yah buat semua reader, jangan langsung dibawa emosi deh kalo ada salah salah kata :)

Nah sesuai judulnya, di postingan ini aku akan membahas tentang kontroversi salah satu institusi negara, yaitu Satuan Polisi Pamong Praja atau yang lebih sering kita kenal dengan Satpol PP. Sebelum aku serang dengan opini opini pribadiku, lebih oke kalo kita liat dulu deh pengertian Satpol PP secara general. Dan seperti biasa, Wikipedia helps me. Ini yang aku dapat : Satuan Polisi Pamong Praja, disingkat Satpol PP adalah perangkat Pemerintah Daerah dalam memelihara ketentraman dan ketertiban umum serta menegakkan Peraturan Daerah.

Kalo menurut aku sih, secara apa yang aku liat di tipi yaaaa, Satpol PP itu perangkat pemerintah yang sering nertibin masyarakat – masyarakat kelas bawah dengan cara – cara yang kadang salah. No offense ya, tapi kekerasan itu selalu salah kan? Gebuk gebukin orang itu selalu salah kan? Ini udah jadi rahasia umum loh. Ga satu dua kali juga soalnya ditayangkan di tipi. Masyarakat udah tau kalo hampir dalam setiap pelaksanaan tugasnya, Satpol PP selalu menggunakan pendekatan kekerasan. Padahal menurutku ini agak aneh loh, secara mereka kan masuk ke dalam institusi sipil, bukan militer. Aku pernah nonton di Metro pas pimpinannya Satpol PP bilang alasan mereka begitu untuk pertahanan diri aja. Ya mungkin agak logis secara perlawanan rakyat kelas bawah itu biasanya juga kuat. Tapi kadang Satpol PP nya juga loh yang ngeyel. Kasus di Priuk jadi contohnya kan? Padahal seandainya mereka lebih sabar dan mau mengalah dengan mundur lebih awal, mungkin jadinya ga akan segitu heboh.

Aku berusaha memahami sih kalo pada dasarnya semua itu merupakan kesalahan satu dua oknum. Toh ga ada satu badan pun yang orangnya bersih semua. Tapi karena pekerjaan Satpol PP ini berhubungan langsung dengan wong cilik (yang dari awal udah susah hidupnya) mbok ya evaluasi lagi kalo ada yang salah salah. Kasian loh pak, pedagang kaki lima atau pengemis itu. Untuk makan aja mereka susah, apalagi menghadapi amukan bapak. Jadi baiknya kalo mau penertiban jangan terlalu kasar ya pak :) Toh bisa dikasih penjelasan atau dibujuk apa gitu kan. Kalo emang ga bisa ga kasar ya bubarkan aja deh, daripada terjadi yang engga engga di kemudian hari :)

Anyway, yang aku sebut kontroversi disini adalah wacana pemberian senjata api buat para anggota Satpol PP. Which is for me especially, so lameee. Kayak kelebihan uang aja gitu nah ya -,- Toh yang ditertibkan kan juga bukan penjahat, mereka kan cuma orang orang yang kebetulan dilahirkan miskin dan agak gak tahu aturan. Lagian mereka kan juga bukan orang militer yang udah dididik secara fisik dan psikologis buat menggunakan senjata. Takutnya mereka bakal kaget dan mensalahgunakan kewenangan yang diberikan.

Satu lagi nih ya efek negatif dari kebijakan itu. Buang buang uang!

Bukannya mau su’udzon ya, tapi siapa yang tau kan apa yang akan terjadi nanti? Mungkin aja awalnya semua orang yang terlibat dalam pengadaan senjata itu memang berniat baik dan ga ngelakuin apa apa. Tapi ke depannya ga ada yang tau. Mungkin aja yang dikasih tender senjata ini malah mikir ini kesempatan yang bagus buat beraksi. Seseorang itu ga akan tinggal diam loh kalo dikasih kesempatan. Waspada aja deh.

Jadi kalo menurut aku sih, karena lebih banyak mudaratnya, lebih baik ga usah aja itu wacana diteruskan. So wasting time lah. Kesannya kita malah jadi kebanyakan duit, musuhin wong cilik dan membuka kesempatan untuk korupsi. Ga mau kan ya pak SBY pemerintahannya dicap begitu? Jadi lebih baik ga usah aja. Mengenai Satpol PP nya, aku pribadi sih (seperti sebagian orang) menyerankan untuk dibubarkan aja. Toh kita udah punya polisi juga. Secara kerja mereka juga ambigu gitu, bisa dibilang menjurus ke wasting time juga gitu.

Soal para nasib anggotanya sih, saya sarankan untuk dimasukkan ke militer aja. Wong basicnya kan sebelas dua belas. Tinggal ditempa dikit insyaAllah mateng. Huahaha. Telor emang ya mateng mateng? :P Yah pokoknya gitu lah, tenaga mereka bisa disalurkan ke bidang apa gitu yang lebih bermanfaat dibanding ngebentak bentak orang di pasar :)

Oke, sekali lagi ya, maaaaaap banget kalo ada yang tersinggung dengan apa yang aku tulis di atas. Toh sebagai warga negara aku berhak juga dong ya untuk menyampaikan ekspresi, aspirasi atau mungkin juga seksresi (ups salah yaaaa? :P). Ini cuma sebagai masukan kok buat pihak pihak terkait buat kebaikan kita semua. Toh tujuan akhir kita juga pasti sama kan Bapak Bapak Ibu Ibu?

Yaitu menjadikan Indonesia negara yang lebih baik :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar