Sabtu, 10 Oktober 2015

Mem-bully atau Di-bully?

Honestly, I've never fit in with the world
I was always alone
It's been a long time since I've forgotten about love
I can't listen to hopeful love songs anymore
You and me both, we're just sad clowns, tamed and scripted
I've come too far, I'm coming home
I wanna go back, to when I was young

At some point, I started looking at the ground more than the sky
It's hard even to breath
I hold out my hand, but no one holds it

It's a cycle of girls and mistakes
Love them for one night
And hate them when morning comes
Can't own up to it
Because of my selfish pleasure
Everything is being ruined
Can't stop this dangerous full speed run
Now I have no interest, no fun anymore
I'm standing alone at the edge of a cliff, I'm going home
I wanna go back, to how it was before

At some point, I've gotten scared of people's eyes
I'm sick of crying so I tried smiling
But no one recognizes me

I'm a loser, loner.
A coward who pretends to be tough
A mean delinquent
In the mirror, you're just a loser.
A loner, a jackass covered in scars
Dirty trash

I curse the blue skies
Sometimes I wanna lay it all down
I wanna say goodbye
When I stop wandering at the end of this road, I hope I can close my eyes without regrets

***

Buat yang gak tau, di atas itu adalah lirik lagu Big Bang yang judulnya Loser.

Sebenarnya udah lama aku pengen nulis mengenai bullying di blog ini. Mau mencoba menulis dari sudut pandang yang berbeda aja dari orang kebanyakan. Berdasarkan pengalaman diri juga gimana bersosialisasi sama teman teman selama ini. Niat itu makin kuat pas nonton lyric video lagu Loser di Youtube, terutama pas baca komentar komentar yang ada. Duuuuh pada baper semua. Scroll scroll sampai tiba tiba aku nangis sendiri. Orang orang itu tau mereka salah tapi baru terbukakan lagi mata hatinya pas ada yang mengetuk. Pas ada lagu Big Bang ini, bless those five boys lah *insert love emoticon here*

Orang yang kesakitan dan melampiaskan sakitnya ke orang lain itu ternyata banyak ya di dunia :"

Pertama baca liriknya aku langsung ingat Dodo dari The Heirs. Isss Do, hidup lu banget nih nyet haha. Dan aku yakin banyak Dodo Dodo lain di luar sana. Orang orang yang terperangkap sama keadaan dan comfort zone untuk menjadi... a delinquent. Atau kasarnya ya tukang bully.

Aku percaya, setiap orang itu punya nature kindness dalam diri masing masing. Mereka pasti juga punya sisi negatif, yang kontrolnya tiap orang beda beda. Dan satu hal lagi yang aku percaya, anak di bawah umur 20 tahun (dan mungkin lebih tua/muda lagi, kedewasaan itu emang gak diliat dari umur sih) itu masih rentan banget dengan segala macam tekanan lingkungan. Masih mencari cari jati diri, masih keseret arus sana sini. Mereka dengan kontrol lemah inilah yang mungkin jadi tukang bully, dengan berbagai alasan yang berbeda beda tiap orang. Di aku, mungkin alasan itu adalah agar aku lebih mudah diterima lingkungan. You know, biasanya ada satu dua orang "terasingkan" yang merekatkan hubungan sekelompok manusia. Aku mengorbankan hati nurani aku demi menjadi sekelompok manusia itu. Seperti itu.

Udah banyak banget kisah inspiratif maupun tragis mengenai korban bullying, jadi aku mau coba cerita dari sisi sebaliknya. Bullying aku bukan fisikly ya, tapi lebih ke mental. Dan buat aku itu sama aja kejamnya. Nusuk jantung juga, keluar darahnya banyak juga, cuma gak keliatan aja.

Aku selalu merasa jadi orang terasingkan saat SMP. Kalo liat anak anak populer, aku tuh diam diam iri. Haha I know, gak sehat banget. Tapi gimana ya, anak SMP gitu loh, pasti mau jadi populer dan banyak teman gitu ya. Pada saat itu, punya teman banyak adalah segala galanya buat aku. Jadi ketika akhirnya aku masuk SMA dengan lingkungan yang beda, aku mau start over. Aku mau membuka pergaulan dan membuang jauh sifat pemalu aku jaman SMP. And I did.

Tapi resiko berada dalam kelompok besar itu ya tadi. Sudut pandang aku habis habisan dipengaruhi mereka. Aku pun juga banyak mempengaruhi sih. Ya, timbal balik aja lah. Ada satu orang aneh yang punya masalah sama satu di antara kami, aku langsung pasang badan juga. Aku jadi lebih sering melihat buruknya dia biar ada bahan bicara sama kelompok besar itu. Dan yang paling parah, lama lama aku sendiri yang berinisiatif menyakiti orang itu :( Setelah kuliah aku pun kembali ke lubang yang sama. Gak usah diceritakan ya detilnya, pokoknya aku kejam. Makanya pas baca lirik lagu Loser itu langsung merasa abis abisan. That mean delinquent, I really am one of them T_T

Aku ngelakuin semua itu bukan gak tau kalo itu salah. Tau banget. Aku yakin teman temanku dalam lingkaran besar itu juga merasakan hal yang sama. Kadang aku ngerasa tindakan kita dah keterlaluan banget, dan aku melangkah mundur untuk melihat sesuatu lebih jelas biar aku sadar. Tapi besoknya, aku melakukan lagi kesalahan yang sama :(

Walaupun, menurutku kadang ada juga saat di mana si korban itu yang keterlaluan. Entah ya apa mataku yang udah gak bisa liat objektif, tapi kadang si korban ini yang gak mau berubah. Si korban ini yang memang aneh dari sananya, udah dibully gitu tapi masih merasa dirinya yang paling benar. Like, they are the center of the world gitu. Ya aku tau lah, people have their own reasons, but still, nyebelin. Aduuuuh salah ya aku ngomong gini :( Tuh bener kan, umur 21 tahun belum tentu juga dewasa :(


Kasus setiap orang beda beda dan tulisan ini bisa jadi subjektif banget berdasarkan sudut pandang aku. Tapi mungkin aja ada yang kasusnya mirip sama aku, jadi aku harap ini bisa jadi pelajaran untuk semua pihak lah ya.

Menjadi tukang bully mungkin terlihat keren dari luar. Tapi percaya deh, mereka itu cuma orang orang sakit, yang melampiaskan sakitnya ke orang lain. Di aku sih begitu. Saking takutnya aku gak dapat teman, aku berusaha merekatkan teman teman yang ada dengan ngomongin satu orang aneh. Iss jahat ya :(

Yang gak kalah jahat, perlakuan dunia sama kasus bullying ini. Udah ada banyaaak sekali dukungan buat korban. It's normal, I get that too. Tapi kita lupa kalo yang melakukan pun kadang butuh dukungan. Yang nge-bully itu juga kadang kesakitan loh, dia gak nyadar aja. Atau nyadar tapi gak mau ngasih tau dunia. Ujung ujungnya mereka cuma dengerin lagu Loser, baper, trus mengulangi kesalahan yang sama esok harinya. Mungkin kita bisa berkilah kalo itu salah mereka juga ya, udah tau sakit bukannya mencari kesembuhan malah meperin sakitnya ke orang lain. Tapi sekali lagi, kesadaran manusia tuh beda beda. Menurut aku penting banget buat orang orang yang suka nge-judge tukang bully itu untuk nge-define ulang pemahaman mereka. Cukup diingatkan sama Karofsky di serial Glee aja lah, kalo sama seperti halnya korban bully, tersangka bully itu juga punya tendensi untuk mengakhiri jiwanya.

Diulang ya, biar poinnya ketangkep.

Sama seperti korban bully, tersangka bully juga punya tendensi untuk break down, menangis setiap hari, dan paling parah menyerah sama kehidupan.

Jadi, bencinya sama tindakannya aja ya. Jangan sama orangnya. Kalo ketemu kasus bullying, selain ngerangkul korban, coba tolong rangkul tersangkanya juga. Kalopun gak sanggup, cukup dengan mendiamkan aja, gak usah dikatain macam macam tanpa kita tau alasan sebenarnya dia berbuat begitu.

Oke, sekian aja deh ceritanya. Ini juga reminder buat diri sendiri yang masih suka khilaf, gak mandang posisi orang lain dulu, gak mandang perasaan orang lain dulu. Let's be the better version of ourselves in the future. Cheers!

Ps, untuk yang merasa pernah aku bully, tolong maafkan ya? Aku masih terlalu pengecut untuk minta maaf secara langsung, tapi aku optimis suatu saat kita bisa ketemu dan aku beneran bisa minta maaf, setulus mungkin. You know who you are.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar