Selasa, 08 Desember 2015

Memahami Keagungan Tuhan

Aku pernah curhat di sini mengenai kegalauanku soal agama. Cuma satu kalimat, tepatnya.

"Aku gak bisa jadi alim karena aku masih punya banyak keraguan yang belum aku temukan jawabannya."

Dan ketika aku bilang banyak keraguan, it literally is... banyak. Belasan mungkin. Atau puluhan. Setelah aku pikir berkali kali, sumber utama keraguan itu adalah cara aku diperkenalkan dengan banyak hukum agama, yang salah.

Pertama, di lingkungan keluarga. Keluargaku bukan kumpulan orang yang alim alim banget gitu, tapi kami selalu sebisa mungkin menjalankan kewajiban dan kebaikan, serta tentunya menjauhi segala dosa. Nilai agama sudah ditanamkan dari aku kecil. Harus sholat, harus puasa, harus sedekah. Tapi aku gak pernah dijelaskan mengapa. Dan bodohnya aku, aku juga gak pernah bertanya. Kewajiban tanpa alasan. I naturally hate that, berasa didikte tau gak kayak gitu. Jadi jujur, kalopun sampai sekarang aku masih memegang nilai agama itu, suruhan masa kecil samasekali bukan menjadi alasan aku melakukannya. It's just because I (fortunately) still have faith in Allah. Seriusan, walau kelakuanku gak meyakinkan gini, aku masih percaya kok sama eksistensi Allah :)

Kedua, di lingkungan pertemanan. Aku punya beberapa oknum teman, yang agak fanatik dengan agama yang kita sama - sama anut. Everyone has to be perfect people for them, it's exhausting. Aku gak masalah ya kalo mereka mau sempurna dalam menjalankan semua aturan agama (instead I'm going to be so so proud!), tapi sekali lagi aku mulai bete kalo cara aku memperlakukan Tuhan juga didikte sama mereka. Buat aku, masalah ini sangat personal. Hitung hitungan dosa dan pahala biarlah jadi urusan aku dan Tuhan. Kalo dalam taraf mengingatkan sih oke, tapi kalo udah nge-judge aku bakal masuk neraka... wow, who are you, really? Instead bikin aku takut, itu malah bikin aku makin ragu sama agama deh.

Bahkan ada teman yang tidak membuka ruang untuk keraguan. Jadi ada nih, teman teman lain yang melakukan sesuatu karna penasaran apa sih manfaatnya ibadah sunnah satu itu. Trus malah niat itu dipertanyakan. Dibilang ngapain mempertanyakan amalan yang udah jelas jelas baik. Wow, I can't agree on that. Aku tau sih, agama itu tidak semuanya bisa dijelaskan dengan logika. Eh bukan tidak, tapi belum (more on this subject later :D). Tapi kalau memang ada orang yang berusaha mencari, who are we to stop them? Orang menyelami Agama dengan berbagai macam cara, dan seharusnya itu personal. Kita gak seharusnya sibuk berurusan dengan cara cara itu.

Dan yang ketiga, dari eksposur berita di dunia. Terlalu banyak informasi tentang agamaku yang berseberangan dengan nilai nilai baik yang aku percayai.

Ketiga alasan itu membuat raguku semakin besar dan besar. And it leads to.. none other than.. kemalasan aku untuk melakukan beberapa hal yang seharusnya aku lakukan. It's not good and I'm actually feeling really, really bad inside. Tapi seperti yang aku bilang, suruhan dan paksaan semua orang gak akan mempan sama kekeras kepalaanku ini. Aku pernah loh ada di suatu masa, di mana aku gak mau ngelakuin salah satu rukun Islam karna menurutku oke oke aja kalo gak dilakuin.

Oh iya, berbekal semua keraguan dan keinginan aku untuk memperbaiki diri, aku tuh selalu berusaha belajar loh mengenai agama ini. Aku membaca (I even bought one book titled "Muslim Kok Nyebelin?", belum dibaca sih ini hehe) dan banyak menonton. Aku begadang semalaman nontonin video video Gus Mus dan Gus Dur. Semenjak aku pulang lagi ke Loa Janan, aku juga udah beberapa kali nemanin mamaku ke acara ceramah di masjid. Tapi tentu semua itu masih kurang ya, masih banyak banget pertanyaan dalam hatiku.

Dan kemudian, beberapa hari lalu aku baca artikel ini : http://suamigila.com/2015/11/menurut-kamu-bagaimana.html

Sekali lagi deh, ditampar sama tulisan Adhitya Mulya.

"Selalu ada ilmu, baik logika, science mau pun sosiologi yang ada di balik perintah Tuhan. Mungkin butuh 13 abad untuk otak manusia mencari jawabannya. Tidak berarti kita tidak perlu beribadah sebelum ada bukti. Tapi tidak berarti juga kita berhenti belajar. Tidak ada tempat di dunia ini untuk kalimat “Sudah dari sononya.”."

Jadi kesimpulan dari tulisan ini : tetap berada di jalur yang benar ya, Fradita Wanda Sari. Jangan berhenti beribadah hanya karna ragu dan jangan berhenti belajar hanya karna begitu yakin. Dan itu keyakinanmu ya Dit, gak usah maksa maksain ke orang lain. Yang bisa melabel benar atau salah seseorang dalam hal Agama cuma Tuhan.

Buat sesama orang yang juga sedang belajar, boleh banget dibagi kalo ada bacaan menarik tentang Islam. Nih aku bagikan beberapa favoritku :

http://letthebeastin.blogspot.co.id/2015/06/benarkah-kamu-merindukan-ramadhan.html
http://letthebeastin.blogspot.co.id/2013/11/ok-so.html
http://suamigila.com/category/islam
http://blog.imanbrotoseno.com/berniaga-dengan-tuhan/

Dan bonus Kick Andy episode Gus Mus yang bikin ngakak dan bikin mikir :))

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar