Sabtu, 02 April 2016

Unfairness

Halo haloooo.

Kerasanya lama banget gak ngisi blog, padahal gak juga ya hehe. Mungkin karena kemaren bener bener rutin seminggu sekali main #challenge, nah ini udah beberapa minggu ditinggalkan. Sedih? Iya banget. Tapi aku berusaha untuk gak terlalu keras sama diri sendiri, berhubung diri ini masih gak jelas juga maunya apa. Jadi kita bawa seloooo aja dulu ya :P

Anyway, aku kembali karna ada satu topik yang mengganjal hati dalam beberapa minggu ini. Bikin sumuk banget sampai akhirnya diputuskan harus dibagi di blog. Topiknya persis seperti judul di atas : ketidakadilan.

Ketidakadilan dalam konteks sejarah Indonesia. Jadi for your information, aku tuh dari SD suka banget sama pelajaran Sejarah. Aku bisa dengan mudahnya menjawab kalo pelajaran Sejarah tuh pelajaran favoritku kalo ditanya demikian. Gak seperti pelajaran lainnya, aku demen banget bacain buku paketnya. But you know what, that's it. Setelah dipikir pikir lagi, pola pendidikan negeri ini emang parah banget ya. Pelajaran yang aku sebut sebagai pelajaran favorit sekarang toh cuma aku ingat sebagian hapalannya aja.

Gak ada "ide" yang terkenang. Gak ada "dorongan" untuk menumbuhkan terus pertanyaan dan mencari jawabannya di luar dari buku buku yang dipelajari di sekolah. Kerjaannya ngafaaaaal aja.

Fast forward, aku mulai mengenal internet sejak tahun 2009 melalui blog. Mulai deh, dari situ aku menemukan "pelajaran pelajaran" yang di aku ada ide dan dorongannya. Aku belajar fashion, sepakbola, menulis resensi, aerobik, ekonomi. Dan juga politik.

Salah satunya melalui Pandji Pragiwaksono atau simply dikenal dengan Pandji "Kena Deh" secara dulu itu acara TV-nya dia yang paling terkenal hehe. Aku lupa tau blog dia dari mana, tapi aku ingat aku jadi suka baca baca pemikirannya di situ dan di twitter. Dan berkenalanlah aku secara satu arah dengan beberapa temannya yang sesama suka MU (waktu dulu aku gak cuma sekedar suka tapi juga rajin ngikutin pertandingan :P) dan aku follow-lah. Salah satunya adalah si tit (nama disamarkan lol).

Nah si tit ini somehow sempat jadi twitter crush aku untuk beberapa waktu. Habis life values-nya sama banget gitu kan aku jadi luluh hahahaha. Jadi aku kepo-lah ke media social lain yang dia punya, termasuk ask.fm. Dari situ, aku nemu satu pap-nya yang katanya itu buku tentang idolanya. Saking keponya nih, aku sampai niat buat google image itu foto haha. Dan dari dia, aku nemu satu nama yaitu : Tan Malaka.

Fast forward lagi ke jaman SD, aku yang suka banget sama cerita rakyat dan legenda ini, beberapa kali bersinggungan dengan nama Tan Malaka. Sosoknya buat aku sangat membingungkan. Karna aku sering liat dia di cerita legenda yang takhayul banget, tapi di satu sisi aku juga pernah dengar kalo dia pahlawan. Dan si tit bilang itu idolanya. Why? Sedikit juga yang aku tahu soal Tan Malaka, dia ada hubungannya dengan gerakan Komunis saat pasca Kemerdekaan. Basic banget gak sih gueee?!

Aku mendiamkan pertanyaan itu sampai beberapa bulan yang lalu aku nonton Surat dari Praha dan hatiku terkoyak koyak sama ketidakadilan. Aku tidak ingin menyudutkan kelompok manapun, tapi aku merasa sedih aja sama keadaan. Ketidakadilan itu. Satu poin yang paling bikin hatiku perih saat membayangkan tokoh utama yang merupakan lulusan teknik nuklir, pelajar berprestasi yang mengalahkan banyak orang lain untuk beasiswa di luar negeri, harus menjadi eksil politik dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai janitor. Teknik nuklir looooh. Ilmunya blasss gak kepakai. Padahal dia ya gak tau apa apa soal paham komunis. Dia cuma dapat beasiswa ke luar negeri. Titik.

Patah hati kedua adalah saat aku baca buku Pulang dari Leila S. Chudori. Isss perasaan tidak adil lagi lagi menggorogoti hatiku sampai diam diam aku nangis pas baca buku ini. Emang sih, itu cerita cuma fiksi, tapi aku bisa banget memahami perasaan Dimas Suryo, eksil politik yang diceritakan di buku ini. Padahal si Dimas Suryo ini juga kubu tengah, alias dia gak kiri maupun kanan. Tapi karna keadaan, nasibnya dia jadi eksil dan harus jauh dari tanah air selama berpuluh tahun. Betapa mewahnya ya kemampuan memilih dan tidak memilih itu. We really shouldn't take that opportunity for granted now.

Dan patah hati ketiga terjadi beberapa hari ini. Ceritanya di timeline Twitter lagi rame terbitnya Seri Buku Tempo : Bapak Bangsa yang nge-cover beberapa tokoh kemerdekaan. Mulai dari sang proklamator Soekarno sampai yang kontroversial macam D.N Aidit. Nah tertariklah aku mau beli kan. Awalnya mau beli yang Aidit, tapi setelah liat ada yang Tan Malaka aku langsung kepo aja pengen beli. Dan sekarang setelah baca buku yang gak terlalu tebal itu, aku ngerasakan sekali lagi betapa ketidakadilan itu menyakitkan.

Dan ini bukan lagi tentang Tan Malaka atau masa lalu ya. Ini murni tentang aku. Millenial yang dilatih oleh negara untuk menjadi ignorant dengan sejarahnya sendiri.

Jadi semua kemisterian soal Tan Malaka ini terkuak seiring dengan aku membaca. Intinya, dia memang pahlawan nasional (diangkat oleh Soekarno sendiri) tapi keberadaannya memang tidak pernah diceritakan di buku pelajaran sejarah manapun. Dan dalam kasus aku, tidak ada satu orangpun guru yang memberi pengetahuan tentang dia. Dari SD sampai SMA. 10 tahun! Sedih gak sih lo, satu poin penting dalam pelajaran yang seharusnya jadi favorit lo, tapi lo gak tau.

Dan semua orang masih heran ketika Tere Liye mengeluarkan statement macam ini tapi masih punya banyak fans setia.

Kenapa menurut aku penting banget buat orang Indonesia mengenal Tan Malaka? Karena pemikirannya. Bukan masalah dia pahlawan terus harus kita elu elukan dan dikasih posisi tinggi di hati. Dari buku yang aku baca, tersirat juga dia orangnya selo kok sama posisi. Pemikirannya tentang republik itu yang harusnya kita lestarikan. Pemikiran yang bahkan sampai saat ini masih sangat relevan sampai buat aku merinding, literally.

Ini aku kutipkan ya satu paragraf yang ada di halaman 155. Ini diambil dari kolom berjudul Republik dalam Mimpi Tan Malaka tulisan Hasan Nasbi A.

"Demokrasi dengan sistem parlemen melakukan ritual pemilihan sekali dalam 4, 5, atau 6 tahun. Dalam kurun waktu demikian lama, mereka sudah menjelma menjadi kelompok sendiri yang sudah berpisah dari masyarakat. Sedangkan kebutuhan dan pikiran rakyat berubah - ubah. Karena para anggota parlemen itu tak bercampur-baur lagi dengan rakyat, seharusnya mereka tak berhak lagi disebut sebagai wakil rakyat."


Gilak, relevan banget kannnn?


Belum lagi pemikiran pemikiran lainnya mengenai komunisme, politik diplomasi, dll. Dia memang bukan sosok yang sempurna, tapi pemikirannya buat aku patut didiskusikan supaya kita punya sisi lain dalam berpikir. Tidak mentah menelan arti komunisme dari apa yang buku sejarah ajarkan. Tidak terpaku pada hitam atau putih, padahal hampir segala hal di dunia ini sebenarnya abu - abu.

Haha mulai lebay ya seriusnya :P

Intinya ya gitu, ketidakadilan memang situasi yang bikin aku sedih luarbiasa dan musti banget curhat di blog.

Ps, guys, dibaca ya Seri Buku Tempo : Bapak Bangsa dan buku Pulang dari Leila S. Chudori. Juga ditonton film Surat dari Praha (oh iya Sang Penari juga!). Bagus banget deh, gak bakal nyesal kok :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar