Rabu, 09 Juli 2014

Like Father, Like Son

Beberapa bulan ini aku lagi merajin rajinkan diri buat nonton film. Selain untuk nambah pengetahuan dan biar terlihat keren, juga biar bisa selalu nyambung kalo ngobrol sama Deny. Masalahnya, aku pribadi tuh bukan orang visual, gampang banget bosen kalo musti melototin layar yang paling cepat juga dua jam sekali tayang. Beda lah pokoknya kalo sama buku, seharian pun aku bisa. Nah untuk "memaksa" diri sendiri, aku punya semacam proyek Iseng Iseng Resensi yang kemaren udah sekali keluar. Jadi ceritanya aku bakal nonton 10 film, ngasih review singkat trus diposting di blog. Musti banget dibuat gitu biar aku lebih peka sepanjang film, mulai dari memperhatikan ceritanya, dialognya, sampe cara ambil gambarnya. Ini proyek santai tanpa deadline sih, jadi harap wajar ya kalo untuk satu edisi dibuatnya lama banget :p

Nah, beberapa hari lalu aku menjatuhkan pilihan ke film Jepang berjudul sama dengan judul postingan ini. Juara Cannes 2013. Baru aja baca reviewnya di Vampibots dan pas pulkam kemaren Deny udah punya jadi aku minta lah dan aku nonton begitu sampai di kos. Begitu nonton ya udah... aku yakin aku gak bakal sanggup nulis reviewnya. Dan aku pikir, aku musti nulis sesuatu yang lebih dari sekedar review untuk film se-perfect itu. So for now, let me tell my story.

Pertama, cuma mau bilang kalo dari segi teknis, film ini perfect. Like perfect perfect. Kayak brownies Amanda dimakan sama eskrim Populaire cokelat di siang bolong, perfect perfect. Alurnya pas banget, cepat tapi tenang. Gak ada satu adegan pun yang sia - sia karna semua gambarnya bercerita. Semua pengambilan gambar cantik dan apa adanya. Dan detilnya film ini keterlaluan deh, jatuh cinta mati matian sama ketelitian sutradaranya. Di sepanjang film, alunan piano yang lembut bikin hati jadi hangat. Cast-nya pun sangat oke bahkan dedek dedek lucu itu (duh Keita sini kakak peluk yuuuuuk). Oh iya sebagai cewek, aku juga terhibur banget sama sosok Ryota yang ganteng bingiiiits :D Dialognya sangat "daily" dan setia sama premis utama. Yah intinya secara teknis, film ini perfect buat aku. Titik.

Nah trus aku nangis aja gitu kan di akhir film. Dari pertengahan udah beberapa kali mau keluar air mata sih tapi masih bisa ditahan. Tapi beberapa menit menjelang ending itu emang nusuk banget ceritanya jadilah aku nangis. Ngejer. Aku nontonnya tengah malam so that night, I literally was crying myself to sleep. Ada kali satu jam aku nangis aja sambil dengerin lagu Home di-repeat baru akhirnya ketiduran sendiri. Paginya pas bangun... nangis lagi. Asli. Segitu gedenya impact film itu buat aku.

Nah aku tulis dong ya semua itu di Twitter. Trus dikomen deh sama Cici yang juga udah nonton film ini. Dan dia gak menemukan tuh kesedihan yang membuat dia nangis berhari - hari kayak aku. Untungnya, aku gak kayak pendukung fanatik Capres yang gak mau dikritik (ehem this sarcasm is coming for both sides). Aku malah refleksi dan nyadar satu fakta, kalo film itu sifatnya personal.

Aku malah refleksi sama kehidupanku dua puluh tahun ini, hubunganku sama anggota keluargaku yang lain. Dan, shit, aku akhirnya paham sepaham pahamnya kenapa aku bisa nangisin Like Father, Like Son berhari - hari (bahkan sambil nulis ini hati udah bergetar banget pengen nangis). Simply, karena aku tahu (walaupun tidak persis sama) perasaan setiap orang di film itu. Aku bisa memahami semua perbuatan perbuatan mereka. Sebenarnya sih gak susah buat penonton lain bisa memahami itu karna directing yang perfect dari pembuat film ini, tapi tau deh kenapa hal itu gak berlaku buat kamu Ci :p

Nah this is why Like Father, Like Son segitu personalnya buat aku

Jadi walau aku memuja setinggi langit, aku gak jamin juga sih kalian bakal sesuka itu sama film ini seperti aku suka sama film ini. Berikut beberapa poin dari film ini yang sukses buat aku kepikiran trus dan nangis trus.

1. Film ini, terutama menekankan hal di bawah ini sama aku

Dalam hubungan keluarga, cinta yang sunyi bukan berarti cintanya tidak lebih besar dari cinta yang sering diumbar

Hal itu terutama nusuk aku pas ending film, yang sukses buat aku mengeluarkan semua air mata yang udah kutahan. Keluargaku itu basically punya flow kehidupan yang sama seperti keluarga Nonomiya di film ini. Gak sama persis tapi mirip lah. We do love each other so much (you don't say but you just love them so hard, that kind of love), we talk formally in daily basis, we rarely even talk though, we know each other so well, orangtua yang sibuk dan sangat mencintai pekerjaan mereka, things like that. Bedanya mungkin cara orang tuaku mendidik ya, gak kayak Ryota yang disiplin, orangtuaku lebih longgar lah. Tapi masalah cinta sunyi aku bisa relate banget. Buat sebagian penonton mungkin melihat Ryota ini ortu yang gak sayang anak saking sibuknya. Tapi dari awal aku udah ngerasa kalo dia sebenarnya juga sayang banget kok sama anaknya, cuma emang cara pengungkapannya beda. Dia gak mau memanjakan anaknya biar anaknya gak manja, dia berusaha ngejar uang biar si anak bisa main piano, sekolah di sekolah favorit, yada yada.
Dan ketika pada akhir film terkuak seberapa besar cinta Ryota sama anaknya (damn his acting is too good. Scene nangis sambil liat kamera itu sukses bikin aku nangis juga), aku langsung teringat sama Mama dan Abahku di Rumah. They are my Ryota. And I am their Keita. And I just can't help but imagine if the same bad thing happened to me. On the other side, aku juga bersyukur aku cukup beruntung bisa memahami cinta sunyi mereka. Trus aku mikirin adek adekku, takut banget aja mereka gak seberuntung itu. Nah kan banyak banget pikiran pikiran yang timbul dari film ini. Intinya sih film ini membuat aku punya faith sama sesuatu yang udah aku sadari dari dulu, tapi gak pernah diangkat sama satu orangpun di dunia ini, sehingga kesannya gak ada dan aku jadi sering ragu sendiri. Cinta sunyi itu. That's my ultimate reason for loving this movie that much.

2. Penyesuaian hidup itu susah dan menyakitkan
Duh aku gak kebayang ya gimana kalo cerita di film ini nyata. Salah satu alasan aku nangis itu juga karna aku sedikit mencoba membayangkan gimana kalo aku yang jadi Keita. Duh sedikit aja tapi aku nangis trus jadinya. Aku kan cintaaaaa banget ya sama kedua adekku. They're like, my ultimate reason to always be good, be better, be the best. Orangtuaku gak pernah menuntut apa apa, tapi aku tau aku wajib jadi yang paling oke biar adek adekku bisa bangga sama aku. Kalo misalnya aku musti pisah sama mereka itu gimana bisa? Gak peduli aku bakal jadi anak tunggal di keluarga miliarder, tetap aja aku gak mau lepas dari mereka. Ngeliat gimana setiap individu di film ini struggle, dengan karakterisasi yang perfect, mengiris hati aja pokoknya. Titik.

3. You don't have to be your parents. And parenting style is personal.
Gak bisa dipungkiri ya, kalo kita itu versi kecil dari orang tua kita. Mau seberapa keras pun kita menyangkal, itu lah kenyataan yang ada. Dan walaupun menurut kita cara parenting ortu kita mungkin udah perfect karena terbukti di kita itu berhasil, tapi kasus setiap anak berbeda. Anak kita itu bukan kita. Di film ini ada scene di mana Ryota diperingatkan soal hal itu dan kayak petir deh buat aku karena pesan sederhana itu powerful tapi jarang diungkit.

4. Blood is thicker than any other liquids, it's true. Tapi tidak perlu memiliki pertalian darah untuk bisa saling mencintai sebegitu dalam.
Cheesy sih, bahkan cara penyampaian ini di film juga cheesy banget. Tapi aku tetap suka pesannya itu.

5. It's hard for the parents, but it's even harder for the kids
Mereka masih anak anak gitu loh yaaa. Hal hal kecil kayak penyesuaian yang aku bilang di poin kedua itu mungkin banget bisa menimbulkan trauma yang mendalam. Sampai bertahun tahun. Bikin keiris gak sih tiap dipikirin? Dan di film ini, semua kemungkinan trauma itu dapat terlihat jelas dari tatapan mata para pemainnya, even without the dialogues. Amazing huh?

6. There's no perfect solution for this issue.
That's why, having an open ending is the greatest desicion for this movie. Brilian banget lah menurutku. Itu juga salah satu alasan kenapa aku bisa puas nangis karena ya udah, ceritanya sampai di situ aja. No judging, no further explanation.

7. Film ini membuat aku teringat sama Abah, Mama, Deny dan Dana. Keluarga kecilku.
Nah di titik inilah film ini menjadi sangat personal buat aku. Aku tinggal jauh dari mereka. Sekarang lagi bulan Ramadhan, seharusnya aku lagi di rumah menghabiskan waktu bersama mereka tapi aku malah di kos, nonton film semenyakitkan ini. Gimana gak nangis? Film ini bikin aku kangen sama mereka, sama cinta sunyi kami yang mungkin hanya kami semua yang mengerti. Kangen sama keluarga disfungsional ku tapi juga keluarga yang paling mengerti aku. Dan merinding ketakutan setiap harus membayangkan kalo aku tiba tiba harus berpisah sama mereka seperti Keita yang berpisah dari keluarganya.

Jadi ya, buat siapapun aku rekomendasiin deh film ini. Mungkin kamu gak bakal segitu tersentuhnya seperti aku karena keluarga kamu mungkin gak sama seperti keluargaku dan Nonomiya. Tapi aku yakin teknis film ini sendiri udah cukup mantap sebagai kriteria film oke. So, please watch this movie. Thank me later ;)


(5/5)

2 komentar:

  1. duh jangankan nonton filmnya, baca postingan tentang film ini aja aku udah sedih :(
    paling ngga kuat banget nonton film soal keluarga begini, dari hello ghost (korea) sampai kabhi kushi kabhi gham (india) klo nyeritain keluarga pasti nangis bombay karena ngebayanin klo keluarga kita kayak gitu

    BalasHapus
  2. Iya kak film kayak gini emang paling bs bikin hati terkoyak. Tapi film ini seriusan wajib tonton deh. Detilnya terlalu indah untuk gak dinikmati :D

    BalasHapus