Kamis, 05 November 2015

Iseng Iseng Resensi Vol. IV

Dari awal gak pernah nyangka kalo proyek iseng ini akhirnya berlanjut terus bahkan sampai edisi keempat. Jadi gak pernah buat judul yang konsisten juga. Dari Iseng Iseng Resensi, Gak Iseng Lagi Resensi sampai Iseng Iseng Resensi (Vol III). Random semuaaa :P

Ntar deh kalo udah 10 entri (yang berarti aku udah nonton 100 film dengan serius yay), akan diseragamkan semua judulnya dan bakal dibikinin tag khusus. Until then, let's just watch many movies, self!

***

It Follows
Hype film ini sejenis sama The Babadook dan beda sama film horror box office macam Insidious atau The Conjuring. Dan sebagai anak yang rada hipster tau dong yang lebih menarik perhatianku yang mana? Hehe. Begitu pulang kampung langsung minta film ini sama Deny dan langsung nonton. Di luar dari hypenya, aku emang udah ngebet nonton karna poster – posternya yang bagusss banget. Overall, film ini gak mengecewakan sama sekali. Konfliknya sederhana, teknik gambarnya bagus, script-nya standar tapi efektif, trus scoring-nya mantap. Dan film ini asli thrill abis, deg degan sepanjang nonton film (dan bahkan setelahnya pun). Dari segi akting lumayan lah ya, para pemeran utamanya gak gengges, kalo lagi bego ya normal aja mungkin deg degan (dikejar ntahapaapa gitu loh, gimana gak deg degan wkwk).  Hantunya juga beneran kayak hantu dan believable kan jadi takut sendiri biar siang bolong haha. Anyway, film Sundance ini recommended deh beneran J

Satu adegan yang bikin aku nahan nafas

When Harry Met Sally
Sebagai orang yang ngaku kesana kemari suka romcom, aku terhitung telat untuk nonton satu karya klasik ini. But better late than never kaaaan? Anywyay, I love this movie! Gak suka yang cinta mati banget gitu sih macam A Little Thing Called Love atau Before Sunset, tapi suka pokoknya *apaan sih Dit -.-* Konfliknya sederhana, mengalir tenang kayak di sungai Mahakam, skripnya daily banget tapi indah dan membekas gitu. Masalah teknis malas ngomentarin ah, secara ini film lawas jadi aspek itu ya terima aja apa adanya. Si Billie Crystal jelek banget (I can’t stand him really :() tapi Meg Ryan cantik ya. Banget! Oh iya, editingnya rapi, sukak. Trus transisi antar waktunya itu manis sekali. Film ini sendiri mengajarkan banyaaak sekali petuah cinta yang kayaknya bakal lama melekat di pikiran aku.

Would love to do this kind of thing with my future lover ;)

Han Gong-ju
Semenjak baca premisnya di blog ini, entah kenapa aku langsung pengen nonton. Selain itu, posternya yang bagus (biasanya sih kalo poster bagus ya filmnya juga bagus) dan embel embel kalo ini diangkat dari kisah nyata juga menambah minat aku. Akhirnya nonton ini di Bioskop Dita sama Ayu, Rahmi dan Nurul. Ekspektasi kami pengen nonton yang sedih sedih sampai ke luar air mata. Dan... beneran kejadian deh, meski sedih aja, gak sampai ke luar airmata juga. Film ini sih khas Korea lah, lambat lambat cantik gitu. Yang nyebelin, transisi antar waktunya rada kabur. Jadi seringnya kami bingung sendiri (atau kaminya aja yang oon :p). Aku suka sama kemampuannya mempermainkan emosi penonton sampai aku bisa dibikin simpati sama pemeran utamanya. Beneran simpati sampe pengen ngejotos satu satu yang jahat sama dia T_T

Perumpamaan gorila yang gak hanya cerdas tapi juga bikin miris

Cinderella
Gak terlalu nafsu nonton ini sih, tapi tetap minta filmnya sama Deny karna ada satu quote-nya yang bagus banget dan sampai sekarang jadi pedoman aku. “Have courage and be kind” *tanemin dalam dalam di kepala*. Secara cerita ya sama persis kayak kartunnya yang waktu kecil kuputar berulang ulang itu hehe. Skripnya biasa aja, sinematografinya juga. Trus nih sebagai film romantis, chemistry antara si Ella dan si pangeran ini nihil banget. Agak mengecewakan ya kalo menurut aku. Well, satu satunya adegan yang memorable ya pas transformasi Ella dkk yang dibantu sama Ibu Peri. Baju pestanya cantik banget, euy. Yah kayaknya itu aja sih yang asik, sisanya aku banyak ngantuk aja nonton ini.

Ini shot paling memorable. Kelihatan banget kan magical-nya :D

Wild Tales
3 menit pertama menonton film ini... and I’m sold.

Ini film gue banget niiiih dari segi cerita. Sebagai penggemar cerita Oh Mama Oh Papa di Majalah Kartini (oh yeah I am!!), cerita yang gloomy, unik dan agak agak unbelievable itu selalu jadi jenis cerita favoritku. Makanya jangan heran kalo aku nulis fiksi tuh pasti rada rada gak waras premisnya haha. Aku juga cinta sama semua ide film Kim Ki Duk dan menurutku Old Boy itu keren abis ceritanya. Nah kan, tau kan aku orangnya gimana sekarang :P

Sebagai film antologi dengan 6 cerita yang gak nyambung tapi punya nyawa serupa, bisa dibilang film ini sukses membuat aku suka sama semua segmennya. Tapi tentu ada yang menonjol ya. Favoritku adalah cerita pertama dan ketiga. Asli cerita yang ketiga itu nendang banget sampe aku maksa Dana nonton juga karna bagus buat mengajarkan manner sama dia. Dan memang semua ceritanya ini nilai moralnya adalah tentang perilaku manusia yang, at times, bisa lebih ganas dari binatang (hint ini juga digambarkan waktu opening. Very cool!). Dan di aku sih semua nilai moralnya tuh mudah banget ditangkap. Bikin evaluasi diri banget dah pokoknya.

Ps, baru nyadar review tadi gak ada bahas teknisnya samasekali ya? Haha. Aku mah kalo dikasih cerita bagus ya emang gak terlalu peduli masalah teknis ya, maafkeun :P

Satu dari sekian banyak scene favoritku, ini dari cerita pertama

The Hangover
Telat banget ya baru nonton ini, telat banget. Di Fox Movies juga udah diputar berkali kali sampai bego haha. No excuse really, cuma akunya aja yang malas :P Dan sekarang nyesal deh habisnya filmnya bagus. Dikira humornya bakal fisik banget, yang mana aku kurang suka, eh ternyata enggak. Pas banget kok racikannya dengan skrip yang lucu lucu cerdas. Trus untuk ukuran film haha hihi, gambar gambarnya cantik banget. Niat!! :D Cara penceritaan merunut ke belakang juga sukses buat aku yang ngantukan terjaga sepanjang film. Ya intinya aku nonton ini pas lagi galau parah tapi bisa tetap ketawa ketawa berarti bisa dibilang berhasil dong ya komedinya yang kadang keterlaluan randomnya.

Joke favoritku yang terjadi di lobby Caesar's Palace Las Vegas

Mean Girls
I love love love this movie! Sebenarnya udah pernah nonton sih, tapi ini lagi pengen nonton ulang dan sekalian deh direview biar serius nontonnya (alasan macam apa ini haha). This movie is very girly, very funny (aku ketawa tulus beberapa kali aja dong) and also can easily punch any ladies in the face. In a nice way though. Skenarionya mengalir lancar, banyak punchline yang sampai sekarang pun masih hidup di Tumblr karena emang timeless banget. Color filmnya juga aku suka deh. Ah iya sama pengumpamaan kehidupan sekolah dengan kehidupan safari, cerdas abisss. Trus pemeran utamanya ganteng banget ya oloooh. Haha maaf reviewnya random :P On a serious note, Rachel McAdams sama Amanda Seyfried sukses jadi scene stealer favorit aku di film ini. You go, beyotch!

Mean Girls jadi relatable ya karna gimmick gimmick sederhana ini

The Class of 92
Oke, review yang ini bakal subjektif banget karna aku cinta mati sama MU.

Sebagai film dokumenter, konten dari film ini sendiri sudah sangat kuat. Kisah tentang enam orang remaja gila bola, yang dipersatukan oleh salah satu klub terbaik dunia dan kelak membuktikan diri dengan raihan tiga gelar dalam satu musim. Seperti kata Eric Cantona, it’s romantic, it’s a perfect script. Masalah penyajian konten atau editingnya udahlah aku gak gitu peduli, aku terlalu sibuk menyaring semua nilai nilai yang ada. Nilai yang mengingatkan aku sekali lagi kenapa dulu aku mau menghabiskan puluhan weekend di depan TV untuk mereka. But I think it’s decent enough. Emosi terbangun dengan baik kok, dan itu juga didukung dengan musik pengiring yang sesuai.

Mengenai nilai nilai Manchester United, maupun nilai individual per pemain semua disampaikan dengan sempurna and I like it the most about this movie. Mentalitas juara MU, Sir Alex and all his values (semua yang beliau lakukan itu applicable banget dalam kehidupan, heart him so so so much!), disiplinnya David Beckham, sifat down to earth Scholes. Disampaikannya itu gak obvious dan menggurui, tapi aku sih nangkap banget. Oke untuk menutup, aku mau pamer satu quote dari Sir Alex waktu Beckham kembali dari Piala Dunia 1998 di mana dia dapat kartu merah dan jadi bahan bully seantero Inggris.

“Don’t worry son, it’s over. You’ll comeback, you’re a Manchester United player. We’ll look after you, everyone’s supporting you, don’t even worry about anything. Go away, have a few weeks holiday, get some rest, but when you come back to Manchester United, you know you’ve got the support of everyone.”

My favorite quote from the movie

Scandal Makers
Aku nonton cuma modal streaming di Youtube dan dapatnya bukan versi yang lengkap kayaknya huhu. Anyway, penasaran banget sama film ini karena dua pemeran utamanya adalah bintang bintang Korea yang aku suka. Cha Tae Hyun yang main di Hello Ghost dan Park Bo Young yang keren di drama Oh My Ghostess. Dan lumayan memenuhi ekspektasi ya. Semacam drama comedy gitu, dimana keberhasilannya berat sebelah ke komedi aja. Asli, adegan adegan komedinya itu orisinal dan absurd. Absurd banget tapi gak gengges. Untuk aktingnya sendiri, aku rasa si Park Bo Young masih kurang lentur di beberapa adegan. Yang jadi scene stealer malah Wang Seok Hyeon yang berperan jadi anaknya, he was so cuteee.

Tiga generasi dalam satu frame, beautifully and functionally shot

My Neighbor Totoro
Aku sudah sering mendengar sepak terjang Studio Ghibli sebagai salah satu studio animasi terbaik di dunia. Tapi gak pernah benar benar menonton filmnya. Anehnya, aku tetap nekat menyimpan banyak film Studio Ghibli (khususnya yang disutradai Hayao Miyazaki) dalam laptop, hanya karna aku yakin kalo suatu saat aku pasti nonton dan aku pasti bakal suka. Dan itu sekarang menjadi kenyataan. Dan Totoro inilah yang aku pilih jadi film pertama yang aku tonton. Yang paling aku suka tentu adalah gambarnya ya, yang cantik banget. And when I said cantik, it means cantiiiik. Kalo manusia kayak Chelsea Islan. Ceritanya yang sederhana pun membuat kecantikannya terasa lebih menyenangkan. Oh iya penggambaran Totoro-nya dewa banget, bikin pengen meluk banget gak siiih. Trus karakter Mei itu lucu deh kayak Sarang, terutama aksen dan bahasa Jepangnya ya. Mungkin dari sekarang aku akan lebih sering menonton film Ghibli lainnya seperti Ponyo atau The Wind Rises.

Gak ngerti lagi deh sama cantiknya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar