Sabtu, 28 Maret 2009

Jawa? Dua Kali?

Maaf, kalo postingan ini membuat teman tersinggung. Cuma curhatan hati aja. Opini sendiri aja.

Tadi aku baru aja liat iklan partai GOLKAR yang ceritanya ada dua bapak – bapak lagi mau makan di food court. Terus mereka bahas soal gado – gadonya orang Indonesia. Well, the point is ada beberapa contoh suku di Indonesia yang disebutin. Mereka adalah sunda, makassar, minang, batak, dan jawa..

Well, my question is kenapa suku yang terakhir itu disebutin dua kali?????

Aku juga gak berharap banjar atau dayak atau kutai disebutin sih,, tapi kan ada banyaaaaaak sekali suku di Indonesia. Kenapa untuk suku itu disebutinnya harus dua kali? Kenapa gak masukin orang timur, suku aceh atau suku sawang aja sekalian?????? Kenapa????

Apa karena bangsa Indonesia dominan orang Jawa? Apa karena empat dari lima presiden RI itu orang jawa? Apa karena universitas terbaik Indonesia itu adanya di Jawa? Apa karena ibukota negara ada di pulau Jawa? Apa karena Gelora Bung Karno itu ada di Jawa? Apa karena Java Jazz itu diselenggarakan di Jawa? Apa karena orang Jawa banyak menjadi TKI dan menghasilkan devisa bagi negara? Apa karena Tukul orang Jawa?

Dan mereka gak menggubris betapa banyak bahan tambang yang membuat negara kaya dari Bangka Belitung, Kalimantan? Berapa banyak hutan di provinsi itu yang dikorbankan? Berapa banyak jalan yang hancur lebur oleh truk – truk yang membawa barang berharga itu ke negeri antah berantah? Berapa banyak devisa yang dihasilkan oleh surga dunia yang bernama Bali? Bahwa Bunaken dan Danau Toba juga bisa dikembangkan lebih lagi karena memiliki modal keindahan yang diakui warga dunia? Bahwa banyak anak di pedalaman Sumatra yang jago bulutangkis dan ada jutaan anak lagi di Papua yang lihai mengolah bola? Ada jutaan perkebunan sawit di Riau yang membuat negeri ini mendapat pundi – pundi uang? Dan mereka kadang kelihatan transparan oleh pemerintah pusat. Guru – guru di pedalaman itu. Anak – anak berbakat itu. Alam – alam bisu itu.

Aku juga tau betapa orang Jawa berarti dalam setiap denyutan jantung Republik ini. Tapi please,, ada jutaan orang yang berKTP Indonesia lagi yang butuh perhatian. Masalahnya gak cukup pada busway atau pernikahan dini Syekh Puji. Indonesia lebih dari itu. Seribu kali lebih daripada itu.

Aku mohon pada siapapun yang baca, jangan pernah melihat Indonesia seperti yang ada di TV. Indonesia lebih dari itu. Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Indonesia itu luas. Dan masyarakat Indonesia itu banyak. Dan mereka sama. Bangga menjadi warga negara dan selalu ingin melihat Indonesia maju. Tapi mereka juga butuh perhatian, dukungan dan penghargaan atas apa pun yang mereka lakukan. That’s it. Dan aku yakin, menyebutkan nama suatu suku mayoritas sampai dua kali, disaat masih ada banyak pilihan suku lain, di iklan politik bertaraf nasional, sama sekali bukan tindakan yang menyenangkan orang – orang minoritas itu. Setidaknya menurutku.

Aku gak pernah bilang aku benci orang Jawa. Tapi aku benci cara orang mempresentasikan suku Jawa itu. Seakan – akan Jawa adalah segala – galanya. Seakan – akan kalau gak ada orang Jawa kita gak bakal merdeka. Tidak seekstrim itu kan?? Tapi bagaimanapun aku kenal banyak orang Jawa dalam hidupku. Teman – temanku, guru – guruku, tetanggaku. Dan aku tau mereka adalah orang – orang baik.

Terutama aku respek sama Sri Sultan Hamengkubuwono X (bener gak ya nulisnya?) Dia pernah bilang kalo sesuatu yang mayoritas tidak boleh mengintimidasi yang minoritas. Seperti halnya Islam tidak boleh terlalu dominan dan Jawa bukan berarti segalanya. Aku setuju. Tapi tetap aja susah untuk menyatakan kalo apa yang Sri Sultan omongkan udah bisa kita lihat di negeri ini, kan? Aku mau bilang itu bullshit, tapi aku gak sanggup karena aku yakin sikap yang dibilang Sultan itu sikap yang benar. Dan jauh di lubuk hati, aku berharap kebenaran itu bisa jadi kenyataan. Even I don’t know when it really happens.

Aku harap teman suka sama postingan ini, dan bahkan kalo bisa ngambil pelajaran yang tersembunyi di dalamnya.

Tapi ya udah, kalo ada yang gak suka sama postingan ini. Toh, ini juga cuma curhatan anak Kalimantan yang haus perhatian.

Postingan ini gak penting. Super gak penting, for God’s sake!

Ps, maaf kalo postingan ini sedikit (atau sangat) rasis. Aku cuma gak bisa bohongin diri sendiri, kalo the fact is I’m the rasis one. Aku sama sekali gak bangga sama sifat asli aku itu kok! Aku cuma merasa gak berdaya aja untuk ngerubahnya. Dan mungkin karena memang realita kehidupan aku yang membuat aku jadi rasis. Yakni kenyataan kalo domisili di Samarinda membuat aku gak bisa nonton MU, atau bahkan sekedar SEA GAMES. Maaf. :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar