Rabu, 01 Februari 2012

Sorry

For everything.

For not being consistent about this and that and now, for not writing anything in January.

Mungkin gak ada yang peduli juga ya sama blog gak penting satu ini. Tapi aku, sebagai penulis dan pembaca nomor satu (yesss, I read my blog that many times), merasa penting sekali untuk tetap konsisten menulis setiap bulannya. Aku emang bukan orang yang produktif banget nulis, tapi liat aja, setiap bulan aku pasti nulis di blog ini. Sebusuk dan sesingkat apapun tulisanku. Tapi Januari ini, aku gagal *emot nangis*


To be honest, I can't even explain why I became like this.. desperate. Atau mungkin aku bisa, tapi terlalu malu aja untuk menyampaikannya. So here I am, di hari pertama bulan Februari, berusaha brainstroming apa yang salah selama ini.

Oke langsung ke pokok masalah utama, sebenarnya berat banget aku buat nulis ini tapi yeah I wanna leave it here, and just move on with my life afterward so here it is : Aku ngerasa hidup aku di 2011 itu kayak a series of failure. Nah that was it.

Mulai dari kehidupan cintaku yang... gak usah dijelaskan lagi kali ya. Udah terlalu sering kayaknya curhat gak penting tentang itu di sini :P Tapi beneran loh, luka yang lagi pedih pedihnya pas awal 2011 itu masih kerasaaa aja sampai detik ini. Haha bodoh pang aku ya, salah paham terlalu lama. Tapi ya gimana dong ya, seperti kata Raditya Dika, "Karena luka hati, terutama ketika tidak dijahit, bisa jadi tidak akan pernah kering."

Tapi masalah cinta itu jelas cuma seupil dibanding satu kegagalan lain dalam hidupku tahun lalu. Yaitu yang sakitnya paling sakit dibanding apapun. Yang rasa rasanya kalo gak aku share di sini selamanya aku gak akan bisa move on. Yaitu gagal diterima di universitas idaman. Berkali - kali.


Banyak orang nasehatin untuk terima nasib aja, let it flow. But damn, I don't want let myself flow. "Only dead fish let it flow", Sarah Palin said. I have plans. And when my plans don't fall to the right place, it just hurts so bad. Apalagi kalo liat atau dengar judge orang orang dengan pilihan universitas maupun jurusanku sekarang. Ya ampuuuunn orang orang itu bicara seakan akan masuk Kedokteran atau ITB itu semudah ngupil (gak ngerti juga kenapa aku make analogi ngupil sampe dua kali). ITS aja aku ditolak tu nah *emot nangis lagi*

Setuju banget sama kata kata Ichaung pas kita lagi ngobrol hal ini yang intinya jangan pernah berharap kalo emang gak mau kerja keras banget. Apa aku gak kerja keras makanya sampe gagal? No, aku kerja keras. Tapi kerja kerasku emang bayarannya 'cuma' Tekkim Unlam. Kerja kerasku tidak cukup untuk bisa masuk ITS, STIS maupun STAN.

Dan aku nyesal sekarang.

Huh, aku selalu benci diriku sendiri sebenarnya kalo udah bilang bilang menyesal gini. Buat aku bodoh banget orang yang sampe kayak gitu, kayak gak punya hidup aja. Kayak hidupnya ketinggalan di masa lalu. But there I said it. Aku nyesal.

Aku nyesal banget kenapa gak cukup berusaha waktu itu. Kenapa mimpi aku kurang besar dan berani sampai bahkan gak berani nyoba kedokteran. Kenapa belajar aku kurang gigih sampe aku gagal dapat ITS di Ujian SNMPTN. Kenapa aku terlalu canggung dan bodoh waktu tes wawancara STIS tahap 2 sampe akhirnya aku gagal lagi. Kenapa waktu UN aku gak berjuang keras buat MTK sampe akhirnya aku cuma dapat 5 lebih dan itu mungkin jadi penyebab utama kenapa aku gagal STIS. Kenapa aku gak cukup kuat ngelilingin lapangan bola sebanyak 5 kali dan menyebabkan aku ditendang dari tes STAN tahap 2. Kenapa aku gak punya cukup courage sama abah untuk minta uang lebih buat nyoba Mandirinya ITS. Kenapa egoku waktu itu gede banget sampe nolak nolak abahku yang nawarin UB aja buat SNMPTN tertulis.

Kenapa takdir jahat banget menggagalkan Undanganku tanpa aku tau kenapa. Aku gagal, tanpa tau kenapa!!!! Apa yang lebih sakit dari itu? Aku gagal Tertulis ITS, STIS tahap 2, STAN tahap 2, aku bisa nyalahkan diriku sendiri. Tapi gagal Undangan nyalahkan siapa? Tuhan? Aku gak mau jadi durhaka ya. Jadi tolong, kasih tau aja kenapa aku gagal. Kenapa semua anak SMANSA angkatanku gagal di saat orang lain pada ketawa ketiwi bisa masuk universitas ini dan itu dengan mudahnya. Tapi jujur perasaan bahwa di dahiku tercetak tulisan LOSER sehari setelah pengumuman masih ada sampai sekarang.  Dendamku akan jauh lebih mudah luntur seandainya aja aku tau kalo out there, there's someone to blame, even if it's my very own self. Tapi kalo gini caranya, dendam aku akan bikin mati aku sendiri. And I can't stop. It's too much pain.

Damn. Itulah dia semuanya. Mengatakan semua itu mungkin gak akan membuat hidupku kembali ke jalan yang benar. Gimanapun juga semua udah lewat. Damn, it's almost been a year! Tapi ya itu, aku sakit hati. Aku nyesal. Aku kepikiran terus. Dibalik semua ketawa ketawa aku kalo ditanya soal penolakan penolakan yang pernah aku alami, aku masih kesakitan. Banget. Dan aku gak bisa ngomong ini sama siapapun. Sama orang tuaku, aku merasa bersalah banget. Sama teman temanku aku malu. Sama orang lain, aku merasa terhina apalagi kalo ngeliat tatapan mereka. Ugh. Sebenarnya mau nulis di blog ini juga malu karna gak akan tahan baca komentar komentar orang nanti (kayak ada aja yang peduli) tapi ya daripada aku curhat trus disimpan di laptop sampai berdebu, mending dipublish aja di sini.

Ada sensasi tersendiri aja gitu ketika uneg uneg yang bikin sesak dada ini tersampaikan ke belahan dunia lain. Sedikit lega gitu. So thanks to my blog and dearest reader, you're always there :)


Jangan ngejudge ya, cukup doakan aja luka lukaku di 2011 bisa segera sembuh. Dan aku bisa melihat lebih banyak kebahagiaan di 2012. Aku doakan kalian juga akan mendapatkan berkah yang sama. Amin.

So, happy new year, everyone! Cheers! :D


Ps, baru aja aku nonton Glee episode terbaru dan ada satu quote yang aku pikir pas dengan orang gagal macam aku (Kurt dan Rachel habis ditolak NYADA juga. Ha-ha-ha.), ini Kurt's

The future used to be such an abstrack idea. Uh, and the dream was enough, you know? But now the future has the nerve to show up and it's expecting us to do something and it's not interesting in giving a lending hand.

Dan ini Rachel's

I'm actually kind of scared.  I thought the world would care more.

Oh and anyway, Rachel's damn right. *emot nangis, lagi*

4 komentar:

  1. aamiin...semoga harapannya bisa tercapai di 2012 nanti ya.

    BalasHapus
  2. Lots of good things happen even when you think you're stuck in the wrong place, Wid :

    BalasHapus
  3. Iya Wan, mudahan aja aku gak terlalu lama ya buta gini. Aku tau kok Tuhan pasti punya rencana yang lebih besar buat aku :)

    BalasHapus