Kamis, 08 Januari 2015

Iseng Iseng Resensi (Vol III)

Katy Perry : Part of Me
Sekedar informasi gak penting, I always have soft spot for concert documentary, even the shitty one like I AM. Anyway, film ini sendiri sih baguuuuussss banget ya, jauh dah dari I AM. Walau ada satu hal yang kurang ditonjolkan sih, padahal aspek itu biasanya sukses buat aku nangis, yaitu reaksi penonton pas nonton konsernya Katy. Tapi kekurangan itu gak mengurangi air mataku kok, karena ada banyak momen hebat lain. Mulai dari pertumbuhan karir Katy, little fanmeeting at backstage (so adorable she is!!), sampai puluhan quote spontan dari Katy. Nyata dah kenapa banyak orang bisa relate sama lagunya, she’s so true to herself! Dokumenter ini punya flow yang pas dan ending yang cukup bagus. Wajib nonton deh biar terinspirasi!

One of my favorite quotes

Dial M For Murder
Film kedua Hitchcock yang kutonton setelah Psycho dan menurutku pribadi sih, aku lebih suka Dial M For Murder ini. Filmnya penuh ketegangan jadi sepanjang film sering banget nahan kedip (lol ini beneran). Aku suka sama akting ketiga pemeran utamanya yang sharp dan natural. Terutama yang paling menarik perhatian ya jelas si Grace Kelly yang cantiiik banget di film ini. Flow filmnya smooth dan endingnya lumayan sesuai ekspektasi. Sayang aja sih film ini menurutku terlalu fokus sama cerita jadi gak begitu peduli sama pengambilan gambar.

Salah satu dialog paling ngena

Suicide Club
Ekspektasinya nonton ini sih bakal ngerasain feel J-Thriller macam Confessions atau Battle Royale, nyatanya malah dibuat pusiiiing sama deretan artsy scene-nya yang well... artsy. Cantik sih, khas Asia, mungkin meaningful juga tapi aku kurang bisa nangkep sih L Mungkin otak aku aja kali ya yang gak nyampe. Padahal beberapa adegan awal sangat menjanjikan, auranya horror banget. Tapi semakin banyak adegan yang makin lama makin random malah bikin ilfeel. Trus juga adegan disturbing-nya lumayan ganggu. Intinya sih aku nonton ini kayak dikasih makanan hambar gitu, gak ada kasih kenang kenangan rasa sedikitpun (dan ujung ujungnya pas ending aku ketiduran :p)

Ini adegan favoritku deh. Adegan kedua favorit pas opening di stasiun itu

7500
Film tentang bencana di sebuah pesawat komersil memang selalu menarik buat aku pribadi. Mulai dari Flight Plan sampai Snake On The Plane gak pernah bosan aku tonton berkali kali :p Film jenis ini ngeri ngeri sedap secara aku aktif pake pesawat juga kan, setahun bisa beberapa kali terbang. Nah waktu nonton film ini aku benar benar buta sama ceritanya (hal yang sangat jarang terjadi saudara saudara, secara aku suka baca movie blog :p) jadi gak tau ini film jenis bencananya gimana, genrenya thriller atau malah horor. Tapi ketidaktahuan itu seru juga, karna film ini punya flow yang pas sama otakku, jadi gak ada ngantuk yay :D Pertengahan agak draggy dan nyebelin karna genrenya nanggung sih tapi untung film ini ditutup dengan ending yang lumayan asik. Recommended deh :D

Salah satu scene paling menegangkan sepanjang film

The Snow White Murder Case
I looooove this kind of movie. Tau film ini juga dari Deny yang rekomendasikan karna dia tau ini film pasti aku suka hehe. Suka banget sama gimana film ini bercerita secara linear dan gak terlalu Asia yang rumit rumit gitu. Suka sama twist dan pesan moral (yang sangat menendang!!!) di akhir. Salah satu hal menakjubkan lain dari film ini adalah endingnya yang samasekali gak maksa. Inovasi teknologi dengan memasukkan potongan tweet tweet itu walaupun visioner tapi rada ganggu deh. Mengenai akting pemerannya ya so so lah, gak ada yang terlalu menonjol. Semuanya cukup bagus kok untuk mendukung ceritanya yang keren. Yah intinya ini film sederhana dengan pesan moral yang nendang dan harusnya sih ditonton sama semua orang, terutama orang yang suka ngegosip :p

Adegan pembuka yang super creepy!!

Before Sunset
Kalo boleh jujur, aku salah satu dari sedikit orang yang merasa kalo Before Sunrise itu agak overrated. Tidak seperti banyak orang yang merasa kalo Jesse dan Celine itu long lost soulmate yang karakternya dihubungkan karet anti putus, aku merasa mereka cuma dua orang asing kesepian, di tengah perjalanan yang ingin sekedar membuang waktu. Oh yeah judgme me all you want. Makanya jarak aku menonton film lanjutannya cukup jauh karena jujur takut kecewa.
Tapi gilak yaaaa, film sekuel lain tidak bisa lebih bagus dari ini. Dialognya dari awal sampai akhir mengalir lancar. Jawaban film pertama dituntaskan, ada sedih, ada ketawa, ada marah dan emosi yang terpancar maupun terluapkan. Ada cerita remeh temeh sampai topik paling berat, masa depan. And of course, the love is definitely there. Aku bener bener bisa dibuat empati sama kedua tokoh utama. Bahkan keindahan Paris pun ketutup sama kekuatan naskah dan akting yang ada. Kudos banget lah buat Linklater, Ethan Hawke dan Julie Delply :)

This emotional scene in the car always got my weak heart :3

Timeline
Nonton ini atas rekomendasi Dhani. Ceritanya ya standar film Thailand lah, romantis romantis FTV gitu. Chemistry antara dua pemeran utamanya gak gitu kerasa sih, cuma ya akting pemeran ceweknya itu bagus banget!!! Walaupun dia gak cantik tapi aku bisa banget mendalami perasaannya (bukan karna aku pernah mengalami hal yang serupa loh ya bukaaaan). Bagus banget lah aktingnya! Sedangkan semua pemeran lain sih busuk perasaanku aktingnya :( Apalagi si cowok, udah karakternya emang busuk dari sananya lagi. Huh kzl. Ceritanya bener bener sesuai judulnya, ya kayak timeline kehidupan. Nyeritakan pemeran utama dari kecil sampai dewasa. Yang bete sih, si pembuat sering kehilangan fokus jadi aku kadang bingung premis utamanya apa sih. Anyway, bagian perantauan dan mengejar impian dan mengejar cinta itu ngena banget. Terima kasih atas pesan moralnya walaupun rada maksa hehe.

Ps, setelah dikasih perspektif baru tentang karakter si cowok dari Ilham jadi gak begitu benci lagi sih. Malah jadi benci diri sendiri hahahaha.
  
Ini adegan bikin nangis :(

Ilo Ilo
Salah satu film terbaik yang aku tonton di 2014. Dan merasa nistaaaa banget baru tau ada film sebagus ini di tahun 2013 lalu. Film Singapura lagi cooooy. Film debut Sutradaranya lagi. Gila aja dah. Anyway, premis film ini sebenarnya sederhana banget, tentang satu keluarga beranak satu di Singapura yang punya pembantu baru. Secara umum, pemainnya pun cuma empat yaitu si anak, ayah, ibu dan sang pembantu. Tapi sumpah ya film ini dibuat dengan sangat sangat detil. Sekelas lah sama Like Father Like Son. Wajar banget kalo dapat penghargaan Cannes juga :D Gak ada satu pun adegan yang wasted time, trus penggambaran waktu di dalam filmnya juga rapi, dan yang paling kece, semua karakter penting dan perasaan mereka benar benar digali dan dapat dijadikan pelajaran moral buat aku sebagai penontonnya. Yaitu, setiap orang punya masalahnya masing masing. Wajib tonton lah wajiiiib!

Adegan WTF bangeeet. Haha.

Modus Anomali
To be very honest, aku gak full nonton film ini. Aku nonton separuh awal dan langsung skip ke ending karna udah ngantuk banget tapi penasaran sama twist-nya. Curang? Iyaaa I know. Tapi selain cerita twistnya yang emang the best itu, film ini gak memberikan banyak hal. Eksekusi petualangan Rio Dewanto di hutan cuma tegang di awal awal. Karakternya samasekali gak membuat aku simpatik karna kesedihan dia terasa over dan dibuat buat. I mean, iya itu hutan dan kamu sendiri, tapi kamu cowok gitu loh. Masa dari awal langsung emosional tanpa ada mikir pake kepala jernih gitu sih? Gak believable karakternya. Akting Rio waktu kalut juga kacau banget, belum lagi ditambah sama languange barrier yang cuma bikin kaku. Eh tapi aktingnya di lain kondisi malah bagus bangeeet deh. Apalagi menjelang akhir cerita. Creepy! Pesan moralnya juga dapet banget. Wajib juga deh pokoknya nonton film ini trus diskusikan endingnya sama aku ya hihi. Ada satu hal yang ngeganjel dan butuh orang lain untuk berbagi :p

Ps, mungkin karna ekspektasi atau saking cintanya, aku jauuuuh lebih mudah mengkritisi film negeri sendiri. Pengen deh suatu hari nanti nonton film Indonesia yang benar benar perfect dan gak perlu aku kritisi dari segi apapun :)

Opening yang bikin teriak. Haha. Seriusan aku teriak pas adegan ini

Gone Girl
Nonton ini atas rekomendasi semua orang. Literally, semua orang yang aku hargain seleranya menyebutkan kalo film ini sebagus itu. Dan akhirnya pas dikasih tau Yasqi kalo dia punya nih film ya gak pake tunggu tunggu lagi deh. Langsung copy, paste, dan nonton hari itu juga. Padahal besok UAS PAP. Hahaha.  Anyway, filmnya ya gue banget deh. Suspense-nya, gambar gambar cantiknya, hubungan adik dan kakak (ini nyentil banget sumpah, karna aku juga punya dua adik yang akan selalu aku cintai no matter what they did), aktingnya Ben Affleck yang hot dan gak perlu diragukan itu lagi haha. Bahkan adegan romantisnya yang sedikit banget itu pun sangat efektif. Ciuman di saat yang tepat, lamaran di saat yang tepat :))) Dialognya? Jangan ditanya ya. Secara ini film diangkat dari sebuah novel, jadi tentunya dialognya sangat quoteable.
Aku sih cukup dodol ya, udah tau twist film ini sebelum nonton. Tapi jujur itu gak mengurangi tegangnya dan ketipunya aku sih. Aku masih gak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah *self keplak* Iya, film ini secerdas itu. Buat kalian yang mau nonton aku sarankan jangan terlalu banyak tau aja ya. Pasti sensasi nontonnya bakal lebih asik lagi :D All in all, buruan nontoooon. This movie is that good.

Di adegan ini aku bisa relate banget sama Amy. And damn it's creepy.

***


Ps, pilihan film aku di seri Iseng Iseng Resensi kali ini beragam banget ya asal negaranya haha. 5 film dari Amerika dengan berbagai genre, satu film festival dari Singapura, satu film mainstream romance dari Thailand, satu film hipster dari Indonesia dan dua film Jepang bergenre thriller (see? I’m a sucker for J-thriller :D). Semua pilihan itu random ya sesuai mood saat mau nonton :D

Untuk yang ingin baca serian Iseng Iseng Resensi lainnya klik di sini : I dan II

2 komentar:

  1. Meskipun saya jarang meninggalkan komen, tapi saya selalu buka blog anda lhoo

    BalasHapus
  2. Saya pun begitu, sama blog anda. Hahaha. Miss you, Wanjuw :*

    BalasHapus