Rabu, 17 Februari 2016

Sinema Indonesia

Jaman sekarang, film Indonesia bukan melulu soal religi maksa atau horror jijay lagi. Udah banyak banget ide cerita yang dikembangkan, sinematografer yang kerjanya cantik cantik binggo, sampai filmmaker dan produser yang beneran niat bikin film lokal membekas di hati sampai lama. Asli, jadi pengen bolak balik bioskop mulu nontonin semuanya haha. Apalagi eksposur untuk film produksi Indonesia memang agak kurang kan ya. Jarang banget yang dijadikan DVD (atau sejenisnya) untuk disebarluaskan entah dalam bentuk legal maupun ilegal. Bisa sih ditunggu di TV, tapi jam tayangnya kadang malam banget dan kepotong potong iklan jadi ganggu.

Maka dari itu, musti banget nonton di bioskop. Kasus khusus untuk film film festival yang masuk bioskop aja kagak T_T Masalah gak sampai di situ, karna yang di bioskop pun kadang waktu tayangnya lebih singkat dari waktu aku makan Ice Cream Sandwich yang enak banget itu. Pengalaman paling menyakitkan tentunya pas aku kelewatan Mencari Hilal. Pas banget soalnya mau nonton, eh ngecek web XXI dah gak ada lagi jadwalnya. Padahal Oka Antara looohhh T_T Trus temanya kan road trip gitu ya gue bangeeeet T_T Belajar dari pengalaman itu, dan berhubung ini udah tinggal di Samarinda lagi, hayuk lah kita sisihkan uang dan waktu buat nonton film Indonesia kalau memang bisa.

Trus trus, sekarang (dan sampai dengan Mei nanti wohooo), untuk pertama kalinya diadakan Festival Film Samarinda. Setahu aku, ada tiga program utamanya yaitu, weekly screening, kompetisi film pendek dan workshop film. More about this event, you can click here. Ayo yang suka bikin film pendek, pendaftarannya masih dibuka looohhh. Kalo aku sendiri ketebak ya, berpartisipasi di bagian mana hehe. Yup, cuma ikutan screening aja. Itupun baru satu kali :P

Pertama pas screening Siti aku lagi gak di Samarinda. Trus pas Demi Ucok, aku kurang tertarik sama trailernya. Pas Selamat Pagi, Malam sih udah ngebet banget bisa nonton. Udah reserve tempat juga, tapi gak jadi karna seharian itu aku kecapekan sibuk ngurus A1 (job seeker detected!). Nah pas banget hari ini ada screening lagi tiga film pendek dan aku ikutan :D

Jadi, atas nama dua hobi baru yaitu : berburu film Indonesia seru dan nonton bioskop sendirian, izinkan aku nge-review singkat film film yang selama ini aku nikmati ;)

Ngenest (Ernest Prakasa)
Komedinya juara, apalagi part-nya Acho! Eye candy banget semua pemeran cowoknya yang cina cina kecuali Ernest sendiri hehe. Nonton sama Fiya seru pasti nih :P Trus aku suka banget sama temanya yang greater than love between two lovers itu. Flow filmnya pas. Keren banget lah pokoknya ini.

Surat dari Praha (Angga Dwimas Sasongko)
Ini juga temanya bikin nganga banget. Definitely greater than love between two lovers. Semacam surat cinta indah tentang Indonesia dan orang orang kacau yang pernah ada di dalamnya. Wajib nonton buat millenial maupun generasi sesudahnya yang gak tau apa apa soal Orde Baru, biar gak sok tahu. Beneran deh, saking ngerasa sakitnya mereka, aku sampai nangis di beberapa adegan. Rio Dewanto jadi scene stealer banget di sini. Dan soundtrack-nya bagus!

A Copy of My Mind (Joko Anwar)
Mengutip dari satu tweet orang, nonton ini berasa masuk ke dalam scene-nya, that's how raw it is. Kadang melelahkan sih sama kameranya, tapi aku udah keasikan sama dialog dialognya yang mengalir sangat sangat natural. Sangat! Akting dan aspek produksi lain juga diperhatikan banget detilnya aku sukaaa, termasuk adegan adegan keringetan itu. Mungkin buat orang lain itu gimmick biasa, tapi buat aku sendiri itu dalam banget ih. Ini tuh kayak surat cinta Joko Anwar sama Jakarta dan segala isinya. And one thing for sure, habis nonton ini jadi tambah pengen coba tinggal di Jakarta, for everything it costs ;)

Talak 3 (Hanung Bramantyo + Ismail Babeth)
Nonton ini marathon langsung setelah ACOMM. Agak salah strategi ya, karna jadinya agak timpang. This movie is just so loud and bright. Settingnya di Jogja tapi mentah banget, gak ngerti kenapa milih setting di tempat ini. Chemistry Bella gak mempan kemana mana dan unsur cintanya lebay banget kayak Bidadari Terakhir. Anyway, aku tetap suka akting Reza dan Vino, terutama di bagian bagian emosional.

***

Tiga film pendek yang aku tonton di FestFilmSMR :

The Fox Exploits The Tiger's Might (Lucky Kuswandi)
Aku penasaran banget sama film ini karna judul dan posternya yang kece itu. Terlebih lagi, film ini adalah film kedua Indonesia yang lolos festival Cannes, setelah film sebelumnya itu 25 tahun yang lalu. Seru ya. Yang gak seru akunya sih, masih belum biasa nonton film ginian hehe. Jadi di beberapa bagian agak jengah karna unsur seksualitasnya banyaaaak bener (no wonder rating penontonnya aja 21 tahun ke atas haha. Ngajak Deny pun masih belum bisa). Trus aku kurang dapet nuansa waktu filmnya dan beberapa bagian subtle banget otakku gak nyampe hiks. Tapi overall aku suka tema besarnya, yang aku tangkap sebagai penggambaran kehidupan manusia Tionghoa di Indonesia circa orde baru.

Kisah Cinta yang Asu (Yosep Anggi Noen)
Gaya penceritaan yang gak linear + ngantuk karna pas nonton ini pas jam tidur siangku? Disaster, aku jadi gak ngerti plotnya gimana. Trus dua pemeran perempuannya mirip lagi jadi tambah pusing. Atau ini aku aja ya gara gara ngantuk? Di balik semua itu, aku suka humor humornya dan semangat optimisme dari dua protagonis utamanya.

Sendiri Diana Sendiri (Kamila Andini)
Aku sukaaaaa banget ini! Tema yang diambil sangat jelas, dan posisi sudut pandang yang diambil film ini juga sangat jelas. Dan ini berujung pada semua hal dalam film ini diurus dengan sedetil mungkin. Setiap dialognya, setiap adegannya yang terasa penting, setiap trait tokoh tokohnya, bahkan judulnya. Akting emosional Raihanun juga benar benar memikat dan natural. Temanya sendiri mengenai poligami tapi gak dilihat dari kacamata agama (HORE!) melainkan dari kacamata kemanusiaan. Segar banget asli.

2 komentar:

  1. belom sempet nonton talak 3 nih, meski kalau dari premis ini menarik banget ya hihihi
    ACOMM keren meski endingnya kentaaaaang

    BalasHapus
  2. Iya memang menarik kok (poster dan trailernya juga bagus), cuma eksekusinya masih agak lemah sih menurutku, too dramatic.

    Haha endingnya ACOMM emang nyebelin banget!! :P

    BalasHapus